Requiem Benazir Bhutto

Setelah beberapa waktu lalu Om saya yang jauh di utara Eropa itu meninggal dunia, kini Tante saya dari negeri selatan Asia yang menyusul beliau.

Kondisi negerinya yang sudah mulai panas, maka akan semakin panas. Di balik masalah politik lokal yang pelik, kemudian masalah militerisme vs demokrasi yang mengundang perdebatan, dan ditambah permasalahan terorisme klasik dengan membawa jargon mujahid, tentunya ada banyak tangan kepentingan politik barat yang terus membayangi perkembangan negara ini. Terlebih lagi tragedi ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi politik global di masa mendatang.

Bagi saya sendiri, tanpa adanya pion-pion politik barat yang bermain, kondisi politik lokal yang sangat menjurang antara 3 unsur negeri ini sudah cukup membuat kegentingan tersendiri. Demokrasi – Militerisme – Islam garis keras. Sebuah ramuan yang sangat manjur untuk menciptakan sakit perut. Mengingatkan saya dengan Indonesia Raya sendiri.

Terlepas dari berbagai intrik politik di dalam negeri tersebut – dan mungkin sejarah kelam si Tante dengan cap koruptor kelas kakap-nya, yang pasti ini merupakan sebuah kehilangan besar buat Negeri Mahenjo-Daro. Dan sepatutnya kehilangan besar pula bagi seluruh dunia, atas kepergian seorang pemikir dan pemimpin yang berani.

Selamat jalan Tante Benazir Bhutto.

 

Bhutto Picture from Kompas

Sebuah artikel menarik dari Arya tentang kisah hidup singkat hingga “usai” sang Tante.

Gambar diambil dari Kompas.