Dilarang Mengaji

Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa rajah, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.

Continue reading →

Percakapan Beda Dunia

Indonesia EnlightmentKawan, aku kembali kepada cerita tentang kondisi yang memiriskan hati. Lebih tepatnya bukan kembali. Tetapi memang setiap saat, setiap hari, setiap aku membuka koran, internet, blog dan bahkan membuka mata dan telinga ini (dari dulu), seolah-olah angin sekitar aku mengabarkan bahwa negeri ini benar-benar berada dalam kerusakan. Dari kerusakan alam, kerusakan moral, kehancuran nilai kemanusiaan, rusaknya hukum yang adil sampai kerusakan bangunan sosial.

Continue reading →

Ketika Soeharto

Soeharto-SoedirmanKetika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. Dan “JRENG”, saya kaget atas apa yang terjadi dari cerita-cerita surat kabar.

Kok bisa saya tidak tahu? Padahal itu adalah kejadian paling bersejarah yang seharusnya tidak luput dari siapapun di negeri ini. Yap, demikianlah hebatnya sebuah kehidupan militer. Setiap instansi militer memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Walaupun mungkin secara tidak langsung kondisi nasional mempengaruhi, tetapi manajemen secara hirarkis komando memungkinkan kondisi sedemikian rupa sehingga dalam konteks interen instansi tersebut tidak terpengaruh. Ditambah saya sendiri yang kala itu masih imut muda dengan otak yang belum tercemar suka sok cari tahu seperti sekarang. Sangat wajar kalau saya kaget saat itu.

Dan hari Minggu lalu, ketika saya masih senang-senangnya bertarung dengan sampah dan berbahagia dengan teman-teman baru, saya mendapat kabar si Eyang telah meninggalkan kita semua. Saya teringat waktu itu saya dapat informasi “juga dengan KAGET”. Mungkin Kang Heri, Om Denden dan Uncle Goop tidak sadar kalau saya kaget karena berita dari mereka itu. Tetapi asli saya kaget. Soalnya baru saja paginya, kira-kira pukul 4 pagi, saya melihat Detik masih mengabarkan beliau membaik kondisinya. Malahan saya yakin beliau bisa sehat kembali, walau cuma untuk memperpanjang umur sebentar saja. Kenyataannya berbeda, Tuhan paling tahu apa yang pantas dan tidak pantas.

Saya langsung meng-SMS Anto yang saat itu sedang tebar pesona di bawah pohon rindang. Sekaligus “sms to group” lainnya ke beberapa teman. Ternyata saya lebih dulu tahu daripada beberapa teman yang notabene berada di Kota. Ada yang sedang menghabiskan siang bersama pacar, ada yang sedang sibuk ngurusi calon bini yang rewel minta kawin, ada juga yang masih nguli lembur jaga BTS telephone nya Malaysia, ada juga yang baru check out hotel sama TTM-nya. Lha saya sendiri sedang istirahat dari berburu sampah di pandai Pandansari, belah selatan Pulau Jawa.

Dari awal januari, kita menunggu beliau lewat berita-berita TV dan koran yang menghebohkan. Sepanjang rentang waktu itu pula kita ribut-ribut. Ada yang berkoar-koar tentang urusan hukum beliau yang tertunda-tunda. Memaafkan menjadi sebuah permintaan massal, padahal urusan ini adalah sesuatu yang sangat personal. Di lain sisi, keadilan yang merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa taat hukum, malah di boyong kearah ranah personal.

Saya cuma bisa mendehem saja melihat riweuh-riweuh itu, bersama tumpukan deadline yang malas saya kerjakan. Hanya bisa berharap, cukup sekali saja kita kehilangan seorang Pemimpin Besar dengan status dipertanyakan, meninggal dalam tahanan sendirian tanpa suatu kepastian hukum, membingungkan generasi muda seperti saya untuk mengenal sang Pemimpin Bangsa lebih dekat dengan bangga – entah baik atau buruknya.

Seperti kata para simpatisan Nixon “si Presiden Watergate”, mereka berani bicara lantang dengan bangga “Wrong is wrong , but i like whats the best he can did.”

 

*Gambar di-scan dari “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Sebuah buku yang saya peroleh gratis dari Alm. Soeharto ketika temu wicara dengan beliau di Jakarta, Agustus 1996.

How's Green Are You?

EnviroSaya sedang kecanduan Pacebuk™. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi thirdparty ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata invited dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian confirm. Jujur saja lebih menarik dari Prenster™ dan MySpace memang. Karena membuat tiap individu beda dengan ketertarikan tersendiri terhadap fitur-fitur pilihan mereka. Mengenal seseorang dari apa yang menjadi interest buat mereka adalah hal yang menarik buat saya. Dan resikonya ketahuan apa? Saya menjelajah seluruh network teman-teman, mencari link-link diskusi buat kerjaan, melihat dan mencoba beragam aplikasi yang menarik, bermain-main dengan game lucu dan malah menginfeksi teman-teman yang belum bergabung!

Tetapi CUKUP! Gejala puber kedua setelah Prenster™ ini harus dicegah. Bukan hanya karena tujuan awal untuk belajar tadi itu, tetapi lebih karena sebuah aplikasi thirdparty yang menyentuh sedikit hati saya. Dengan nama aplikasi “Seberapa hijau saya” yang dalam bahasa Inggris dibaca “How’s Green Are You?

Disana ada sebuah ungkapan menarik dari diskusi di forumnya. Sebuah pertanyaan seberapa hemat saya dalam menggunakan Internet. Bahkan lebih serem lagi bertanya, seberapa hemat saya menggunakan resource Hosting, Space dan Bandwith. Oh ada juga lebih ekstrim lagi, pertanyaan seberapa besar efisiensi seorang programmer dalam membangun aplikasi dengan kode-kodenya yang hemat dan ga berputar-putar bikin komputer dan user lelet puyeng-puyeng! Terlihat gila? Awalnya saya juga berpikir begitu.

Tetapi coba dipikir, walaupun pengaruhnya sangat kecil mungkin, tetapi ini berefek juga pada emisi gas buang. Generator listrik Hosting-hosting server di US itu menggunakan bahan bakar. Belum lagi kita juga menggunakan listrik walau sekedar men-charge laptop saja. Ditambah pula dengan berinternet hanya untuk ngider-ngider di Prenster™, chating nakal, atau malah ada yang mungkin download sesuatu yang “tidak jelas kebutuhannya”.

Tersindir? Sama. Menyindir saya juga kok. Saya nyadar kalau saya masih memilih mendownload film dari pada berjalan kaki ke rental atau toko DVD. Saya ngerti musik Rock di komputer saya masih berasal dari MP3 bajakan hasil unduh. Dan saya memahami lain-lain yang membuktikan bahwa saya belum berhemat energi.

Sebenarnya hal yang kecil-kecil begini terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sementara bos-bos NGO di Bali sono pada ngobrolin pokok-pokok bahasan Global Warming yang masih “melangit”. Mereka berbicara pada tataran bagaimana berjual-beli emisi dengan kebun dan hutan. Sedangkan kita masih belibet dengan urusan mengatur sampah rumah tangga, Busway anti macet, atau kredit motor. Walaupun memang tidak bisa menjauhkan diri kita sebagai sebab panas yang makin tinggi di muka bumi, tetapi meminta kita menyadari Danau Chad yang mengering, beruang kutub yang terbunuh atau Kilimanjoro yang tidak ber-es lagi, masih terlalu mengawang-awang dari pemahaman kebanyakan dari kita.

Tetapi di lain sisi, ada orang-orang yang ribut bahwa muka air laut naik akibat Global Warming, tetapi kurang menyadari peran pembangunan kawasan pantai hingga membabat bakau malah menjadi sebab yang mempercepat air laut naik. Kita teriak-teriak banjir disebabkan pola iklim yang sudah berubah, tetapi tidak sadar tata kota yang buruk dan sampah menggunung menjadi sebab utama. Pemerintah menyalahkan petani tradisional sebagai sebab hilangnya hutan, padahal izin HPH untuk si konglomerat dan buldozer-nya bisa diatur dengan kongkalikong tak terjangkau hukum. Program ini itu dari pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan emisi gas buang, tetapi ikon komersialisasi dan kemewahan terus disupport demi lakunya pasar kendaraan bermotor.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di Bali, apa keputusan yang mereka buat di sana atau lebih tepatnya apa manfaatnya bagi dunia, dan Indonesia Raya ini khususnya. Selain terbayang di kepala saya entah berapa banyak deal-deal bisnis yang tersebar, proyekan ini-itu yang menjadi target broker-broker nakal pemerintah. Jujur, itulah sudzon-nya saya ketika melihat hebatnya perlehatan expo lingkungan disana lewat televisi.

Ah sudahlah. Kembali saja ke awal tadi, ke si Pacebuk™. Mungkin bisa jadi nanti saya memakai Internet ini untuk mencari kebutuhan buat kerjaan saja. Kemudian menutup si Pacebuk™ dan segala akun saya di website yang tidak berguna. Atau mungkin sekalian saja saya tutup ruang komentar blog ini dan anda-anda tinggal mengirit emisi dengan membaca lewat Feed Reader atau kopi saja satu Kapucino.Org lewat Google Gears ??