Sebuah Kisah Tentang Mengajar

Ilustrasi Cewe SMUBeberapa hari lalu, seorang teman, lewat percakapan YM™, meminta saya untuk dibuatkan sebuah blog. Bukan blog untuk dirinya, karena dia sendiri sudah memiliki blog yang cukup item di kalangan penggemar pantatitem™. Blog yang dimaksud disini adalah blog sebagai media informasi dan promosi aktifitas kegiatan pendidikan bagi anak-anak miskin dan putus sekolah.

 

 

 

Kok make kata promo, kayak ngarep duit banget?? Memang kata “promosi” sangat bersinggungan dengan label komersial, berbau pasar dan materi. Tetapi saya tidak menemukan larangan menggunakan kata promosi dalam kerangka mengenalkan kegiatan sosial. So, Why not?Lagi pula memang tujuan teman-teman saya untuk menunjukkan eksistensi kegiatan mereka, dan ingin menghimpun perhatian dari khalayak ramai online yang notabene cuma 9% dari penduduk Indonesia. Dalam opini saya, memang kita yang online ini (saya dan anda yang sedang membaca postingan ini) adalah kaum-kam intelektual yang mendapat rezeki lebih untuk menikmati pendidikan lebih baik. Dan apa salahnya membagi sedikit kapasitas akan kelebihan kita untuk 16,58% lain yang kurang beruntung (Data BPS masyarakat miskin Indonesia hingga 2007 semester pertama).

Dan di sini teman saya tersebut meminta kapasitas saya yang kebetulan berlebih sedikit di Bandwith (karena sebenarnya saya juga masih Fekir Benwit™) untuk membuat media informasi online kegitatan tersebut lewat blog. Mungkin anda yang Blogger-blogger ini sudah tidak asing lagi dengan cerita “Kambing Bangsari”, yang dalam beberapa opini blogger menyelamatkan perlehatan si “Pesta”. Sesungguhnya saya salut dengan konsistensi komunitas pendidikan di Bangsari, dan kami yang mungkin masih junior dalam kegiatan seperti ini butuh belajar banyak dari saudara-saudara di Bantarsari.

Lalu rencana blog ini bergulir, email saya dikirimi oleh si pantatitem™ PDF dan Doc file sebagai materi untuk blog tersebut.

Sebenarnya salah seorang yang paling getol dalam komunitas pendidikan ini adalah salah satu sahabat baik saya. Puti namanya. Baru saja lulus 27 Oktober lalu, setelah 6,5 tahun bertarung di kampus Gajah Tiarap™. Cewe ini seangkatan dengan saya, namun saya bernasib tidak lebih baik dari si Mbak ini (a.k.a buruk a.k.a. DO .. *halah kok curhat..).

Perkenalan pertama di tahun ke-2 kampus Gajah Tiarap™ lewat sebuah kegiatan salah satu unit kajian sosial di sana. Kebetulan kita mengambil fokus yang sama yaitu mengenai pendidikan Indonesia. Lalu terpisah karena saya sendiri bermain dengan komunitas luar kampus yang masih bernuansa pendidikan alternatif juga, sedangkan si Mbak ini menemukan labuhan hatinya di salah satu sekolah setingkat SMP bagi anak-anak miskin di daerah Dago Atas, Bandung. Seiring berjalannya waktu, saya terhenti karena kurangnya kosistensi mungkin, dan banting setir ke wacana lain (atau mungkin lebih tepatnya terseret kali yaa..haha..). Tapi si Mbak ini malah makin maju, integritasnya dengan sekolah itu membuat dia sempat beberapa kali pontang panting mengurusi Ujian Paket B untuk muridnya yang penuh akal-akalan dari Dinas Pendidikan.

Selain itu dengan beberapa rekan-rekan lainnya si Mbak ini maju terus dengan berbagai aktifitas pendidikan alternatif lainnya. Membuat komunitas belajar, seperti bimbingan belajar tepatnya, untuk anak-anak di kawasan Dago Pojok Bandung. Targetnya adalah membantu anak-anak miskin daerah sekitar untuk fokus dalam belajar karena terkadang mereka harus terpecah konsentrasinya untuk membantu orang tua. Dengan dukungan junior-junior di Kampus GT™, kegiatan ini masih berjalan sampai sekarang. Menumpang di salah satu rumah Seniman Bandung, Kang Jabaril. Lengkap dengan buku-buku bacaan seadanya. Dan syukurnya justru anak-anak yang datang kesana bukan hanya umur sekolah, bahkan anak di bawah umur sekolah pun hanya untuk sekedar mendengarkan dongeng pun mau bermain ke sawung belajar Taboo ini, begitu kami menyebutnya.

Dan sebelum saya hijrah ke Yogyakarta, satu lagi gerakan si Mbak ini, beliau melirik sebuah Madrasah di kawasan Dago Pojok juga yang dalam pandangan kami tidak layak disebut sekolah. Dalam sebuah lorong gang sempit dan hanya terdiri dari 3 kelas. Teman-teman yang selama ini bareng si Mbak pun tergerak untuk memulai ekspansi aktifitas disana, mereka mulai mengajar di senggang kuliah untuk Madrasah tersebut, sambil menyumbang sedikit kreasi untuk membuat sekolah itu menjadi lebih layak. Terkadang juga memberikan materi luar sekolah – terapan, di hari Sabtu layaknya outbound dan sejenisnya. Kegiatan mengajar di sini semakin difokuskan, karena kegiatan mengajar di SMP Dago Atas yang telah berlangsung 4 tahun tersebut akhirnya berhenti. Karena yayasan kehabisan biaya, dan tanah tempat sekolah itu berdiri harus dijual.

Ohya, masih ada lagi, haha.. bicara tentang si Mbak ini emang ga ada habis-habisnya. terakhir banget sebelum saya hijrah ke Yogya (yep, pengulangan, emang deket-deket waktunya..), si Mbak dan rekan-rekannya sudah selangkah lebih maju. Menggunakan subsidi silang antara kegiatan non profit dan profitnya. Kegiatan profitnya? Masih tidak jauh-jauh dari pendidikan alternatif. Yaitu mendalami Telling Story untuk TK-TK “kalangan atas” dan sekaligus mempersiapkan aktifitas Home Schooling yang juga buat kalangan atas. Lucu memang, dengan bekal yang sama tetapi bisa mengisi 2 pundi kosong berbeda bahan, satu tanah liat dan satu lagi dari diamond. Yang miskin ngumpul di kelas tidak layak, dan yang lainnya dalam ruangan ber-AC dan Private. Tetapi anda perlu tahu, justru mengalami 2 kondisi langit dan bumi ini, membuat kita akan menjadi “kaya”. Dan semoga bekal yang yang diberikan ke anak didik juga sama. Terbayang tidak, bagaimana memberikan materi pendidikan yang disisipkan penyadaran lingkungan sosial. Si kaya akan tahu dari cerita guru-nya bagaimana lingkungan nya tidak seratus persen “Emas Permata”, dan yang miskin juga diberikan pemahaman bahwa mereka juga memiliki hak mendapat pendidikan yang sama dengan yang gurunya ajarkan ke teman-teman mereka yang kaya. Toh, ilmu pengetahuan adalah sama bagi semua kalangan.

Yah…sekarang si Ibu Puti telah menjadi Mechanical Engineer, dan kemungkinan besar harus cabut dari kota Bandung untuk melanjutkan studinya. Saya selalu teringat di mana saya sering berpesan ke si Ibu ini untuk memikirkan regenerasi mengurusi kegiatan-kegiatannya tersebut. Karena kita manusia bertambah umur dan bertambah tanggung jawab (hoho…tumben gue sadar…). Dan masih inget juga, saya pernah bilang, “Put, suatu hari loe ngga cuman bikin ini itu seperti sekarang. Harus berkembang dan maju..!! Kalahkan tuh Sampoerna Foundation..”, masih berapi-api saat itu saudara-saudara, heuhue…

Cuma kebetulan lagi inget akan kisah lalu saja.

Dan saya sendiri tercenung, ternyata sampai sekarang belum beres-beres mengurusi pendidikan saya sendiri. *sigh….

 

PS : Jangan protes gambarnya,.. itu kan anak sekolahan juga, lhoo..

haahaha.. *Ketawa Setan…

Blogactionday – Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

 

Hari ini kan hari Blogactionday – seperti disepakati bersama dan gue udah submit – janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.

 

Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.

 

Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… 😆
—————————————————————————————

 

Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.

 

Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya – saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.

 

Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007

 

Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?

 

Coba kita lihat sang Al Gore – Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang – Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict – ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

 

 

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air – terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??

 

Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…

 

Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu – tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing – terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.

 

Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru – Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 – 17 Desember 2007.

 

Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.

 

Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).

 

Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.

 

Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.

 

Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan – dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang – selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.

 

Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.

 

Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar – memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.

 

Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.

 

Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.

 

Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism – Patriotic – Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.

 

Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat – kepentingan bersama.

 

Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism – Nasionalism – Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.

 

This Post Honoured to All Indonesian – Leksa

 

Thanks to : Christianto Wibisono – Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan

Tambang Batu Bara Kecil, Mungkin Ga Yaaa??

Apa yang menarik sebagai seorang lelaki muda? Pulang malam? bergadang? Minum-minum bersama teman? Pacaran? atau yang lain?

Heuhue.. sepertinya kesenangan yang seperti itu sudah harus gw tinggalkan. Berhubung kost yang sekarang punya jam malam sampai jam 11! Wew.. Tetapi ga papa lah.. Wong emang udah diniatkan untuk membenahi rencana-rencana masa depan yang tertunda. Mungkin Tuhan sengaja ngasih kayak gini buat membantu rencana-rencana gw. Walaupunnn,..walaupun sebenarnya banyak cara ngakalin si bapak kost. Tadi aja gue cerita ke dia kalo gue emang terkadang butuh OL malam2 buat kerjaan, jadi harus ke warnet karena sementara belom masang koneksi di kost-an. Ehh.. si bapak malah bilang

“Anak muda kan terkadang suka ga perhitungan, Mas. Ga sadarkelakuan e malah mengganggu ketertiban..Tapi saya percaya sama, Mas. Kan situ juga yang paling “TUA” disini. Wong emang susah juga kalau mengatur waktu bagi yang bekerja… Nanti khusus buat mas saya kasih-kan kunci gerbang depan.”

Busett dahhh,.. ga di Bandung atau di sini tetep aja gue dianggap orang Tua (Paakk,..KTM saya masih 2007, lhoo… ). Atau emang tampang gue udah cocok ber-anak 2 kali yee..Arghh..

Hmm.. itu obrolan2 tadi pas pindah2. Sekarang bukan mau omongin tentang kepindahan gw. Kita membahas hal yg agak serius sekarang (yaeelaahh…). Sedikit menyinggung ke-ilmuan kuliah gw (huahahaha…). Biar gw ga terlalu dianggap durhaka ama profesi pertambangan.

Beberapa hari lalu, temen nya gue disini, kebetulan punya kenalan yang sedang mencari info tentang klasifikasi batubara. Karena dia jurusan perminyakan, jadilah ia menghubungi gw. Pas banget karena gue lagi di sini ngurus2 kuliah.

Berbekal pengetahuan yang cuman se-empil biji jagung, gue coba bantu. Si Mas tersebut (sebenarnya lebih cucok dipanggil Bapak sih..) memberikan saya hasil analisa sampling dari sebuah kontraktor penambangan yang lumayan punya nama di negeri ini. Selembar Report analysis dari analisa batu bara.

Ini bukan pertama kali gue dapet hasil sampling batu bara. Praktikum dan ujian2 kuliah dulu juga pernah menyajikan data yang sama dengan persoalan yang sama seperti diminta si Bapak. Pertanyaannya “Batu bara ini bagus apa tidak?” Kalo dalam istilah tekniknya digolongkan dalam Rank apa dan kemudian diturunkan menjadi keputusan layak tambang atau tidak.

Gw mencoba memperkirakan kasar data-data tersebut. Termasuk bagus sih. Dengan Kalori di atas 7000 KKal/Kg, bisa dikatakan termasuk bagus mengingat rataan batu bara Indonesia pada kisaran 6000 KKal/Kg. Tetapi untuk mengklasifikasi juga masih dibutuhkan data-data kualitas lainnya yaitu :

  1. Data Kualitas Analisis Proximat : jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash)
  2. Data Kualitas Analisis Ultimat : kandungan unsur kimia pada batubara seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.

Selain itu juga digunakan Formula Parr dalam penentuan British Thermal Units (BTU). Yang nantinya akan memberikan angka limits BTU per Pound nya (Dry, Mineral Matter Free) :

Ke semua data tersebut biasanya dihitung dalam sebuah tabel standard, yang biasanya di pakai adalah ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983.

Coal Rank

Gambar dari http://steel.org

Namun terpenting diketahui oleh para awam yang ingin mengelola batu bara, bahwa sample yang dianalisis tidak bisa hanya berasal dari satu log bor core saja. Dibutuhkan beberapa sample untuk memberikan data keseluruhan kualitas batubara tersebut. Karena dari sini juga lahir nilai rata2 kualitas batubara dari keseluruhan seam yang ada. Mungkin data yang diharapkan akan tampil seperti ini :

Contoh Data Rataan

Sumber Ilmu Batu Bara

Bagi beberapa pertambangan besar, mereka dengan mudah (karena dana yang banyak) bisa mengklasifikasi per-blok-nya untuk kualitas tertentu. Sehingga bisa mensuplai ke semua industri yang memerlukan batu bara sebagai sumber energinya. Karena memang setiap industri membutuhkan kualitas batu bara yang berbeda. Dan jelas harga batu bara tersebut juga berbeda.

  • Hardcoal, adalah batubara yang mempunyai nilai kalori diatas 5700 kcal/kg (23,26 MJ/kg). Hardcoal terdiri dari batubara steam, batubara coking, bituminous dan antrasit

 

    • Batubara Steam adalah batubara yang dipakai di ketel uap (boiler/steam generator) dan tungku pemanas. Yang termasuk dalam kategori ini adalah batubara antrasit dan bituminous. Nilai kalor bruto (Gross Calorific value) nya lebih besar dari 23.865,0 kJ/kg (5700 kcal/kg) dan dibawah batubara cooking.
    • Batubara Coking adalah batubara yang bisa dipakai untuk membuat kokas untuk bahan reduktor di tungku peleburan baja (blast furnace). Nilai kalor bruto (Gross Calorific value) nya lebih besar dari 23.865,0 kJ/kg (5700 kcal/kg) yang bebas debu.
    • Batubara Subbituminous, adalah batubara yang mempunyai nilai kalor bruto (Gross Calorific value) antara 17.435,0 kJ/kg (4165 kcal/kg) dan 23.860,0 kJ/kg (5700 kcal/kg)
    • Batubara Anthrasit, batubara yang mempunyai sifat-sifat seperti batubara steam
    • Batubara Lignit, adalah batubara yang mempunyai nilai kalor bruto (Gross Calorific value) dibawah 4.165 kcal/kg (17,44 MJ/kg) yang mempunyai abu terbang (volatile matter) diatas 31% dalam keadaan kering. Batubara lignit sering disebut sebagai batubara kelas rendah (Low Rank Coal), batubara jenis ini sering juga disebut sebagai Brown Coal.
    • Kokas, adalah hasil karbonisasi dari batubara steam pada temperatur tinggi. Produk ini dipakai sebagai reduktor pada peleburan baja.
    • Gambut, gambut adalah bahan bakar yang berasal dari tumpukan zat-zat organik dari tumbuhan yang terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Mempunyai kadar air tinggi (sampai 90%) mudah diambil, berwarna terang sampai coklat muda.
    • Briket, briket adalah komposisi bahan bakar yang dibuat dengan briketisasi batubara sub-bitumious, lignit atau gambut melalui karbonisasi atau bubuk. Briket lebih mudah digunakan dan mempunyai kualitas yang lebih baik daripada bahan bakunya.

    Kenapa kok gue malah memberikan posting seperti ini? Mungkin itu pertanyaan dari beberapa rekan blogger yang biasanya maen kesini.

    Begini, si Mas yang datang ke saya tersebut adalah cerita ke-sekian kalinya dari para penambang kecil batu bara. Dimana mereka masih buta dalam pengelolaan sumber daya energi ini. Ada kejadian seorang yang baru memulai bisnis batu bara kecil2an malah rugi besar, ada juga yang malah dananya habis untuk pembukaan lahan saja padahal belum memulai menambang. Bagi perusahaan sekelas PT Batu Bara Bukit Asam atau Kaltim Prima Coal, mungkin kejadian seperti ini nothing-lah buat mereka. Wong bisa produksi dalam ukuran lebih 2400 ton per-jam-nya.

    Bandingkan dengan pengusaha batu bara kecil yang rata-rata bermain dalam kisaran 50 – 200 ton perminggunya. Seperti beberapa lokasi tambang daerah lokal di Pulau Jawa dan Sumatra. Tetapi tetap potensi tersebut bukan berarti harus disia-siakan, karena kebutuhan batu bara bukan hanya untuk sebuah pembangkit listrik atau industri pengecoran sebesar Krakatau Steel. Masih banyak kebutuhan industri kecil dan bahkan industri rumah tangga yang juga dapat menggunakan batu bara sebagai sumber energinya. Belum lagi jika dimasukkan dalam program briket yang dulu sempat di genjot oleh pemerintah.

    Mungkin sekarang masih hangat pembicaraan seputar pengalihan kebutuhan energi dari penggunaan minyak tanah ke gas LPG. Memang batu bara dan briket-nya belum cocok digunakan di rumah tangga mengingat pengoperasiannya yang rumit. Tetapi bagaimana dengan industri rumah tangga, seperti konveksi/tekstil skala kecil, peternakan, makanan jadi atau mungkin sekalian warung makan padang misalnya. Gw yakin masih mungkin menggunakan sumber energi tersebut.

    Kembali kepada penambang kecil batu bara lokal. Bagi beberapa orang yang kaya akan pengalaman di dunia ini, mungkin pembicaraan kita sedikit bertele-tele. Dan gue sendiri juga ngerti, karena jujur saja terkadang jika dilapangan, intuisi “mereka” yang kaya akan pengalaman lebih manjur dari sebuah selembar data yang butuh proses bulanan untuk mendapatkannya. Tetapi bagi para pengusaha yang mau terjun ke dunia ini sangat penting untuk memahami kapan dan bagaimana mengelola teknologi dan pengalaman untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan kisaran harga batu bara dunia saat ini pada $40 -$45 per ton nya, sangat mungkin untuk mendulang profit di wilayah ini. Tentunya dengan memperkirakan strategi dan perencanaan yang matang.

    Seperti si Mas yang saya ceritakan, mereka sendiri belum tahu luasan area keseluruhan yang dapat dijadikan objek eksploitasi. Sampel batu bara pun hanya dikirim sebongkah untuk dianalisis. Padahal sangat penting untuk dapat memperkirakan besarnya cadangan karena ini pula yang dapat menjadi perhitungan berapa modal dan waktu yang dibutuhkan untuk memulai usaha di dunia ini. Belum lagi jika dimasukkan parameter kualitas rata-rata seluruh area penambangan karena setiap blok bisa memberikan kualitas yang berbeda. Dan sangat teramat penting adalah memngenal karakter lapisan batu bara tersebut, karena ini akan sangat berpengaruh pada besarnya modal dan waktu untuk mendapatkan si emas hitam tersebut.

    Perlu juga gw sedikit mengkritisi permasalahan birokrasi dan premanisme di dunia ini (ampuunn Om, sayah emang minim pengalaman dan bekingan..hehehe..). Bisa kebayang ga kalo ada cerita begini : Seseorang mengetahui secara kasar ada outcrop (lapisan batu bara / mineral yang muncul ke atas permukaan tanah) batu bara di area tanah nya. Lalu dia mulai menjajaki dengan teman terdekatnya. Si teman menawarkan bantuan dengan kongsiniasi sekian persen. lalu si teman itu menjajaki ke kenalan nya yang udah lama bermain di batu bara, di situ juga ada kongsiniasi sekian persen. Lalu si pemain batu bara mulai masuk pada level analisa sampling dan kontak-kontak ke teman-temannya di kontraktor, dan terpotong lagi kongsiniasi sekian persen. Terus Pengolahan data di kontraktor ada charge plus plus dengan kongsiniasi sekian persen. Lalu untuk memudah kan jalan di level kontrak butuh teman lagi, kongsiniasi sekian persen. Lalu mempermudah sewa ini itu untuk pembongkaran dan pengangkutan, kongsiniasi sekian persen. Lalu ijin ke Pemda dan pajak ini itu, kalo mau dimudahkan kongsiniasi sekian persen. Terus..terus.. pas mulai jalan, syukuran dulu dan undang aparat dan pejabat dengan kongsiniasi sekian persen. Terakhir jangan lupa centeng dan dukun juga harus dibayar sekian persen supaya produksi aman dari para pengacau, baik jin dan manusia. Hmmffhhh…. Pertanyaannya,.. berapa persen yang dapat di kelola menguntungkan?? Walau sampai sekarang dengan kondisi tersebut masih banyak tambang batu bara kecil yang bisa berjalan. Tetapi jika cost-cost tersebut masuk dalam analisis investasi penambangannya, tentunya itu mempengaruhi perhitungan apakah sumberdaya tersebut layak tambang atau tidak.

    Bukan tidak mungkin mengelola sebuah tambang batu bara kecil. Tetapi perhitungan dan perencanaan yang baik di awal akan sangat membantu dalam memperoleh hasil maksimal dan menguntungkan.

    Selesaaaiiiiiii curhat guee…..

    Ini adalah post pertama gue di Kategori Mining and Energy, semoga awet dan masih terus menulis seputaran masalah ini (Itung2 supaya gue ga terlalu jauh meninggalkan keilmuan gw…. dan segera lulusss.. malu ama mahasiswa baru .. :p )