Sebuah Kisah Tentang Mengajar

Ilustrasi Cewe SMUBeberapa hari lalu, seorang teman, lewat percakapan YM™, meminta saya untuk dibuatkan sebuah blog. Bukan blog untuk dirinya, karena dia sendiri sudah memiliki blog yang cukup item di kalangan penggemar pantatitem™. Blog yang dimaksud disini adalah blog sebagai media informasi dan promosi aktifitas kegiatan pendidikan bagi anak-anak miskin dan putus sekolah.

 

 

 

Kok make kata promo, kayak ngarep duit banget?? Memang kata “promosi” sangat bersinggungan dengan label komersial, berbau pasar dan materi. Tetapi saya tidak menemukan larangan menggunakan kata promosi dalam kerangka mengenalkan kegiatan sosial. So, Why not?Lagi pula memang tujuan teman-teman saya untuk menunjukkan eksistensi kegiatan mereka, dan ingin menghimpun perhatian dari khalayak ramai online yang notabene cuma 9% dari penduduk Indonesia. Dalam opini saya, memang kita yang online ini (saya dan anda yang sedang membaca postingan ini) adalah kaum-kam intelektual yang mendapat rezeki lebih untuk menikmati pendidikan lebih baik. Dan apa salahnya membagi sedikit kapasitas akan kelebihan kita untuk 16,58% lain yang kurang beruntung (Data BPS masyarakat miskin Indonesia hingga 2007 semester pertama).

Dan di sini teman saya tersebut meminta kapasitas saya yang kebetulan berlebih sedikit di Bandwith (karena sebenarnya saya juga masih Fekir Benwit™) untuk membuat media informasi online kegitatan tersebut lewat blog. Mungkin anda yang Blogger-blogger ini sudah tidak asing lagi dengan cerita “Kambing Bangsari”, yang dalam beberapa opini blogger menyelamatkan perlehatan si “Pesta”. Sesungguhnya saya salut dengan konsistensi komunitas pendidikan di Bangsari, dan kami yang mungkin masih junior dalam kegiatan seperti ini butuh belajar banyak dari saudara-saudara di Bantarsari.

Lalu rencana blog ini bergulir, email saya dikirimi oleh si pantatitem™ PDF dan Doc file sebagai materi untuk blog tersebut.

Sebenarnya salah seorang yang paling getol dalam komunitas pendidikan ini adalah salah satu sahabat baik saya. Puti namanya. Baru saja lulus 27 Oktober lalu, setelah 6,5 tahun bertarung di kampus Gajah Tiarap™. Cewe ini seangkatan dengan saya, namun saya bernasib tidak lebih baik dari si Mbak ini (a.k.a buruk a.k.a. DO .. *halah kok curhat..).

Perkenalan pertama di tahun ke-2 kampus Gajah Tiarap™ lewat sebuah kegiatan salah satu unit kajian sosial di sana. Kebetulan kita mengambil fokus yang sama yaitu mengenai pendidikan Indonesia. Lalu terpisah karena saya sendiri bermain dengan komunitas luar kampus yang masih bernuansa pendidikan alternatif juga, sedangkan si Mbak ini menemukan labuhan hatinya di salah satu sekolah setingkat SMP bagi anak-anak miskin di daerah Dago Atas, Bandung. Seiring berjalannya waktu, saya terhenti karena kurangnya kosistensi mungkin, dan banting setir ke wacana lain (atau mungkin lebih tepatnya terseret kali yaa..haha..). Tapi si Mbak ini malah makin maju, integritasnya dengan sekolah itu membuat dia sempat beberapa kali pontang panting mengurusi Ujian Paket B untuk muridnya yang penuh akal-akalan dari Dinas Pendidikan.

Selain itu dengan beberapa rekan-rekan lainnya si Mbak ini maju terus dengan berbagai aktifitas pendidikan alternatif lainnya. Membuat komunitas belajar, seperti bimbingan belajar tepatnya, untuk anak-anak di kawasan Dago Pojok Bandung. Targetnya adalah membantu anak-anak miskin daerah sekitar untuk fokus dalam belajar karena terkadang mereka harus terpecah konsentrasinya untuk membantu orang tua. Dengan dukungan junior-junior di Kampus GT™, kegiatan ini masih berjalan sampai sekarang. Menumpang di salah satu rumah Seniman Bandung, Kang Jabaril. Lengkap dengan buku-buku bacaan seadanya. Dan syukurnya justru anak-anak yang datang kesana bukan hanya umur sekolah, bahkan anak di bawah umur sekolah pun hanya untuk sekedar mendengarkan dongeng pun mau bermain ke sawung belajar Taboo ini, begitu kami menyebutnya.

Dan sebelum saya hijrah ke Yogyakarta, satu lagi gerakan si Mbak ini, beliau melirik sebuah Madrasah di kawasan Dago Pojok juga yang dalam pandangan kami tidak layak disebut sekolah. Dalam sebuah lorong gang sempit dan hanya terdiri dari 3 kelas. Teman-teman yang selama ini bareng si Mbak pun tergerak untuk memulai ekspansi aktifitas disana, mereka mulai mengajar di senggang kuliah untuk Madrasah tersebut, sambil menyumbang sedikit kreasi untuk membuat sekolah itu menjadi lebih layak. Terkadang juga memberikan materi luar sekolah – terapan, di hari Sabtu layaknya outbound dan sejenisnya. Kegiatan mengajar di sini semakin difokuskan, karena kegiatan mengajar di SMP Dago Atas yang telah berlangsung 4 tahun tersebut akhirnya berhenti. Karena yayasan kehabisan biaya, dan tanah tempat sekolah itu berdiri harus dijual.

Ohya, masih ada lagi, haha.. bicara tentang si Mbak ini emang ga ada habis-habisnya. terakhir banget sebelum saya hijrah ke Yogya (yep, pengulangan, emang deket-deket waktunya..), si Mbak dan rekan-rekannya sudah selangkah lebih maju. Menggunakan subsidi silang antara kegiatan non profit dan profitnya. Kegiatan profitnya? Masih tidak jauh-jauh dari pendidikan alternatif. Yaitu mendalami Telling Story untuk TK-TK “kalangan atas” dan sekaligus mempersiapkan aktifitas Home Schooling yang juga buat kalangan atas. Lucu memang, dengan bekal yang sama tetapi bisa mengisi 2 pundi kosong berbeda bahan, satu tanah liat dan satu lagi dari diamond. Yang miskin ngumpul di kelas tidak layak, dan yang lainnya dalam ruangan ber-AC dan Private. Tetapi anda perlu tahu, justru mengalami 2 kondisi langit dan bumi ini, membuat kita akan menjadi “kaya”. Dan semoga bekal yang yang diberikan ke anak didik juga sama. Terbayang tidak, bagaimana memberikan materi pendidikan yang disisipkan penyadaran lingkungan sosial. Si kaya akan tahu dari cerita guru-nya bagaimana lingkungan nya tidak seratus persen “Emas Permata”, dan yang miskin juga diberikan pemahaman bahwa mereka juga memiliki hak mendapat pendidikan yang sama dengan yang gurunya ajarkan ke teman-teman mereka yang kaya. Toh, ilmu pengetahuan adalah sama bagi semua kalangan.

Yah…sekarang si Ibu Puti telah menjadi Mechanical Engineer, dan kemungkinan besar harus cabut dari kota Bandung untuk melanjutkan studinya. Saya selalu teringat di mana saya sering berpesan ke si Ibu ini untuk memikirkan regenerasi mengurusi kegiatan-kegiatannya tersebut. Karena kita manusia bertambah umur dan bertambah tanggung jawab (hoho…tumben gue sadar…). Dan masih inget juga, saya pernah bilang, “Put, suatu hari loe ngga cuman bikin ini itu seperti sekarang. Harus berkembang dan maju..!! Kalahkan tuh Sampoerna Foundation..”, masih berapi-api saat itu saudara-saudara, heuhue…

Cuma kebetulan lagi inget akan kisah lalu saja.

Dan saya sendiri tercenung, ternyata sampai sekarang belum beres-beres mengurusi pendidikan saya sendiri. *sigh….

 

PS : Jangan protes gambarnya,.. itu kan anak sekolahan juga, lhoo..

haahaha.. *Ketawa Setan…

Gegap Gempita Pesta Blogger Dalam pestablogger.com

Illustration about Blog“Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog”.

Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat Cloudy Tags saya yang sangat ribet dan campur aduk kayak sayur asem diatas. Itu hanya sekedar menunjukkan bahwa memang saya ingin membahas banyak hal dengan semua pembaca blog saya. Cuma sesimpel itu, tanpa embel-embel “I’m a Bloggerrr..” atau “Long life Citizen Journalism…”.

 

Saya memulai menulis di Internet ketika Cybersastra.Net masih eksis. Sekedar sharing puisi dan gejolak pemikiran muda bersama para komunitas sastra online – yang notabene dulu juga sempat dianggap oleh sastrawan senior sebagai komunitas sastra abal-abal/puisi sampah – sastrawan yang tidak mendapat tempat. Paling tidak itu kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang dengan sesama rekan cybersastra pada saat pertemuan di Bandung – 2002-2003 . (Apakabar Teh Sireum Hideung ? 🙂 ).

 

Kemudian sempat juga membuat blog di Blogspot. Sayangnya saya lalu menghilang dalam gemerlap dunia perkampusan (ya standar lah, gosip sana sini – nongkrong luar-dalam kampus dan pacaran..hehehe). Dan akibat lama tidak update, saya lupa account di blogspot tersebut. Maklum, karena masih suka gonta ganti email waktu itu, makhluk polos baru kenal Internet, semua email provider saya subscribe, semua feature internet saya coba(dari game sampai Adult Content.. hahaha).

 

Kemudian, pernah mencoba menulis blog dari tawaran domain pribadi di leksanadra.com. Sekarang sudah mati, setahun lalu kalau tidak salah matinya. Dan kini saya menggunakan Kapucino.Org, yang kini sudah berumur setahun, walau post nya baru dimulai di bulan Desember 2006. Archives lama dari Kapucino bisa dilihat di Blog-Indonesia.

 

Nah, berarti saya memang bukan seorang senior blogger, setahun bukan lah waktu yang bisa dibilang senior bloggerdalam beberapa “kamus” blogger. Tetapi saya pernah mengikuti rame-rame pembahasan mengenai blog dan citizen journalism – saya mengikuti kisah-kisah dari “jangan sembarang kopi paste”, penahanan polisi terhadap seorang blogger hingga cekcok antara blogger dan Roy Suryo. Dalam pemahaman saya, kasus-kasus tersebut tidak memberikan unsur penekanan mendukung sesama blogger “Karena Kami Blogger“. Bagi saya bukan disana penekanannya, walaupun banyak senior blogger yang beropini dan menyuarakan gegap gempita bahwa sesama blogger harus bersatu, atau “mari-mari dukung teman kita sesama blogger“.

 

Tujuan penegasan saya di atas adalah untuk menghindari patronase dalam menulis/berpendapat atau mengikuti sebuah komunitas. Mungkin itu kalimat paling nyaman untuk mengungkapkan hal-hal diatas. Menjadi blogger bukan berarti sekonyong-konyong sekedar mengikuti trend, bahkan pendapat dan suara pun jadi ngikut trend. Sama halnya ketika kita berada dalam pergaulan sosial lainnya. Sebagai contoh, misalkan saya berada/tergabung dalam sebuah komunitas – lingkungan, jika memang alam pikiran saya berkata ada sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak benar, maka sepatutnya disuarakan. Bukan se-abal-abal malah mengikuti trend atau idol atau senior dalam komunitas saya tersebut.

 

Blog adalah sebuah media penulisan dalam internet dimana semua orang dapat menulis apa yang dirasa – dipikirkan dan beropini. Bebas iya, tetapi dalam kerangka bertanggung jawab. Bukankah dalam kehidupan riil juga kita selalu dituntun berpendapat bebas yang bertanggung jawab? So, tidak ada bedanya bukan? Pendapat saya ini jika melihat posisi penulis blog sebagai individu dan human being. Ternyata sama saja etika yang mengatur kita dalam media blog ataupun dalam etika di kehidupan nyata.

 

Lalu saya sedikit tergelitik, ketika dulu awal – pertengahan 2006 teman-teman saya di kampus, sesama rekan-rekan pers di dalam kampus sedang hangat-hangatnya membahas citizen journalism. Sampai mengundang pembicara-pembicara dari kalangan pers pula, dan bahkan berupaya mengadakan event yang lebih besar (walau akhirnya gagal, syukurlah..). Saya melihat ini sebagai euforia saja, dikarenakan rekan-rekan pers tersebut menyaksikan hangatya kasus dalam dunia perbloggeran sendiri pada saat itu. Dan kemudian mengambil asumsi pendek, “Jika kita menulis blog, maka kita bebas bersuara dan beropini”.

 

Memang bebas kok, ngga ada yang larang. Sama juga bebasnya dengan mau menulis di koran-koran atau tabloid mereka. Sama bebasnya beropini dalam media-media selebaran mereka. Tidak ada bedanya. Hanya satu hal yang membedakan, TARGET PEMBACA tentu lebih luas dalam media Internet. Tetapi kemudian jika perbedaannya hanya itu, lalu apa bedanya dengan membuat situs website terhadap kantor pers mereka? Kenapa harus menjadi pers blog atau sejenisnya? Jika ingin berwarna diskusi dan bebas, ya silahkan saja ditambahkan media diskusi, tinggal tambahkan feature comment atau sekalian forum barangkali.

 

 

PestabloggerOke, itu sebuah asumsi saya dari dulu. Dan kemudian yang membuat saya menjadi bingung saat ini – terdorong oleh mas ikram yang mendadak tengah malam mengajak diskusi tentang PESTABLOGGER“. Beliau menanyakan pendapat saya tentang kegiatan tersebut. Jawaban opini dan pemikiran sadar-bawah sadar saya dari dulu, yang namanya blog ya yang seperti saya ceritakan di atas. Tapi kemudian si Mas Ganteng Kacamata ini mulai menyinggung isi dari situs pestablogger.com. Memang dasar tukang kritik, paling bisa melihat celah sekecil itu (haha..Negation in your Bloody Header, bro.. ). Ikram secara pendek mengungkapkan “cm aneh aja kalo setiap pemberitaan di koran, mereka upload di pestablogger.com – karena bukannya blog itu new media? – yg berlawanan sm old media?”

 

Yeah,.. kembali perdebatan panjang dan perenungan disini. Seorang senior blogger dahulu pernah mem-boosting tentang ini. Bahkan anda bakal menemukan file PDF tentang tips trick menghadapi media baru (salam Mas Enda..). Sebagai “junior blogger” yang lebih junior dari Ikram, saya seperti diospek ulang hehehe…

 

Yap, sangat masuk akal ungkapan Ikram di atas. Coba lihat situs pestablogger sendiri yang selalu mengangkat post tentang pemberitaan acara Pesta Blogger di koran-koran. Jika dan hanya jika Old dan New media tidak saling butuh seperti yang diungkapkan Enda (dan mungkin juga blogger lain berpendapat sama), lalu kenapa pestablogger sendiri mendapat sponsor dan partner dari 3 Old Media?

 

Dalam opini saya sendiri (kembali – apa yang ada di pikiran saya), jika karena kasus Kompas dan Basuki Suhardiman (salam dari Yogya, Pak Bas.. 🙂 ) yang awalnya diboost oleh Priyadi dalam post Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas, kemudian menyebabkan muncul dikhotomi antara Old dan New Media, maka ini bukanlah suatu hal yang bijak. Kenapa? Alasan-alasan dan uraian saya diawal terkait dengan ini. Analogi paling buruk dari pembatasan tersebut, jika Kompas adalah Old Media – “butuh uang untuk tinta”, maka begitu pula dengan semua media cetak pers.

 

Bagi saya sendiri, kasus yang di-blow-up tersebut tidak lebih dari suara bebas yang bertanggung jawab, yang berusaha menyampaikan kebenaran dari versinya. Terlepas dari adanya isu-isu lain dibelakang yang menyusul blow-up tersebut.

 

Jika pun ingin memberikan label berbeda antara blog dan media cetak, maka bagi saya hanya lebih baik sebatas bahwa sang penulis blog “hanya” terikat oleh etika-nya dalam menyampaikan informasi yang sesuai dan runtut dengan jalan pikirannya – dan mungkin disertai fakta yang akurat. Berbeda dengan media cetak yang terikat aturan jurnalisme yang baku, teratur dalam manajemen dan memperhitungkan pasar komersial. Atau singkatnya blog adalah suara bebas yang bertanggung jawab dan media cetak adalah media informasi resmi bagi masyarakat. Dan silahkan masyarakat memilih asupan informasi mana yang baik bagi mereka.

 

Kalau pembagian media “Old vs New Media yang tidak saling butuh” masih berlaku, ntar blunder deh kayak sekarang, malah kerjasama sekarang kan? Belum lagi sekarang beberapa media cetak sudah memberi fasilitas terbitan online, lengkap dengan milist, forum dan media untuk berkomentar.

 

Akhir kalimat dari saya sebagai seorang “Blogger Junior”, SELAMAT BERPESTA BLOGGER bagi anda yang merayakan. (Udah kayak ucapan merayakan Idul Fitri ajah…hehehe)

Who Is The Best Web Host Right Now?

Did you know much about your favorite Web Hosting Provider? Or do you just love it because usually use them for all your websites? Do you want to see the review of the web hosting provider, but no idea how to find a lot hosting provider on the internet?

Webhostinggeeks.com, one of best web hosting reviews thats give such opinion and comments for the Web Hosting Provider. Its just not from the site administrator, or the author from the Webhostinggeeks.com’s staffs. Purely from the member, customer and web master that usually use hosting on their work.

There’s so much going on in hosting review service in the internet. Today we’re in a new golden age of web hosting business – that no one site can possibly keep up with it. But if you like great, pithy reviews, and a chance to discuss, and even see the best ranking of the hosting business right now, Webhostinggeeks.com does a good job of it. Good for the loyal customer or the Hosting Criticsm – wannabe.

That’s more than enough reasons for both sides to take the offer of Webhostinggeeks.com to use the site as the stage for presenting their thoughts, pro or anti, publicize their loyality such discussion – in the process of recognizing or disputing what they like or dislike, the influence or effect of the Hosting Provider, Webmaster or small online businessman that are the object of their critique. Or at least, you can find the free domain names offered from the best hosting without worry it will be down suddenly.

Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme

Keep Your Mouth, Roy

Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 – 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di Youtube sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.

Continue reading →

Gara-gara Luna Maya..

Ini cuman post singkat..

Gara-gara di post sebelumnya, gue menceritakan hubungan artis favorit dan pantat, traffic blog gue meningkat drastis. Pengalaman yang sama gue dapat waktu masih memakai blog lama, waktu itu gue mem-posting tentang 3GP pejabat DPR.

Blog ini sebenarnya bercerita macem-macem. Dari curhat hingga biang kentut. Tetapi lumayan juga, gue bisa memantau seberapa besar ketertarikan orang-orang dalam mensearching Google dan buat apa Search Engine itu digunakan.

Alhasil, seminggu ini terbukti, bahwa keyword atas nama Artis dan Gambar Artis masih jadi favorit. Ya minimal dalam lingkungan web blog Kapucino ini, dari sekian banyak cerita dan berita serta opini, ternyata begitu SEKALI SAJA gue mempost tentang artis, langsung kunjungan nya meningkat.

Ini buktinya (klik aja kalo mau lihat..).

Gue menggunakan script Mint untuk blog gue sebagai analytic record .

Data traffick dan rangking lainnya :

Alexa for Kapucino

SEO Stat