Berkontemplasi Bersama Sawung Jabo

Sawung Jabo“Pokoknya putus..!!”
Njleb! Bibirku termangu dan otakku terus berputar. Apalagi alasan yang harus aku berikan? Lagu-lagu yang mengalun indah dari dentingan gitar Sawung Jabo pun tidak bisa mendamaikan hatimu malam ini. Bahkan sepanjang perjalanan menurun dari Selasar Sunaryo, puncak atas Dago Pakar, kau terus mengulang pernyataan itu tanpa henti. Dan sekarang aku hanya bisa mendesah perlahan, menselonjorkan kaki di kursi teras ini menghadapi mata mu yang penuh amarah dan air mata – sambil mengulang sisa-sisa nada sumbang musik tadi yang sempat ku tangkap satu dua. Aku tersenyum kecil, tetapi kecut dan pahit. Membayangkan lagu-lagu sang Sawung tadi seharusnya menjadikan malam ini sangat romantis.

Continue reading →