Blogactionday – Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

 

Hari ini kan hari Blogactionday – seperti disepakati bersama dan gue udah submit – janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.

 

Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.

 

Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… 😆
—————————————————————————————

 

Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.

 

Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya – saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.

 

Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007

 

Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?

 

Coba kita lihat sang Al Gore – Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang – Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict – ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

 

 

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air – terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??

 

Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…

 

Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu – tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing – terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.

 

Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru – Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 – 17 Desember 2007.

 

Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.

 

Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).

 

Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.

 

Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.

 

Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan – dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang – selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.

 

Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.

 

Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar – memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.

 

Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.

 

Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.

 

Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism – Patriotic – Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.

 

Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat – kepentingan bersama.

 

Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism – Nasionalism – Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.

 

This Post Honoured to All Indonesian – Leksa

 

Thanks to : Christianto Wibisono – Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan

CeThe,.. Ukiran Batik Pada Sebatang Rokok

Sepulang dari Jumaatan, sambil ngaso bentar sebelum jalan-jalan nyari belanjaan buat kosan baru, gue dikejutkan ama sesuatu produk unik milik salah satu penghuni kost Andrew. Sebatang rokok Marlboro dengan lukisan batik di sepanjang glovenya!! Detail sekali persis ukiran batik pada kain. Ada juga yang berbentuk tribal-tribal layaknya pada tatoo. (berhubung file video dan phot2nya gede, jadi gue read more- kan aja yak ..)

Continue reading →

Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme

Keep Your Mouth, Roy

Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 – 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di Youtube sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.

Continue reading →

Gara-gara Luna Maya..

Ini cuman post singkat..

Gara-gara di post sebelumnya, gue menceritakan hubungan artis favorit dan pantat, traffic blog gue meningkat drastis. Pengalaman yang sama gue dapat waktu masih memakai blog lama, waktu itu gue mem-posting tentang 3GP pejabat DPR.

Blog ini sebenarnya bercerita macem-macem. Dari curhat hingga biang kentut. Tetapi lumayan juga, gue bisa memantau seberapa besar ketertarikan orang-orang dalam mensearching Google dan buat apa Search Engine itu digunakan.

Alhasil, seminggu ini terbukti, bahwa keyword atas nama Artis dan Gambar Artis masih jadi favorit. Ya minimal dalam lingkungan web blog Kapucino ini, dari sekian banyak cerita dan berita serta opini, ternyata begitu SEKALI SAJA gue mempost tentang artis, langsung kunjungan nya meningkat.

Ini buktinya (klik aja kalo mau lihat..).

Gue menggunakan script Mint untuk blog gue sebagai analytic record .

Data traffick dan rangking lainnya :

Alexa for Kapucino

SEO Stat

Wisata Nyodok

NineBall Addict

Malam yang membosankan dan tidak ada cerita. Biasalaahh.. hidup gue masih statis dalam 6 bulan belakang. Cuman udah sebulan ke belakang, pintu seperti terbuka lebar. Surat-surat kepindahan gue terbuka lebar untuk diurus (thanks Bang Wir…), dan ternyata gue bisa melanjutkan hidup disana, banyak pekerjaan menanti (semoga…). Dan ditambah ada wangi-wangi bunga di kembang setaman, sering tercium kala mimpi di tidur yang lelap… (Hayaahhh… masih berpuisi juga..)

Continue reading →