Bertaruh

Ecco perché non ho mai scommesso su di esso, Fratello

I never bet on it, bro..

Itu bener. Gw ga pernah bertaruh dalam urusan itu (lagi). Urusan bertaruh dengan satu itu, tidak cuma soal egois pribadi. Ada 2 ego yang dibanting-banting dan dikocok-kocok sampai terjawab, menang berbahagia atau sakit berkalang resah.

Tapi lu musti inget! Dulu siapa yang bilang ke gue “Wanita hebat itu adalah yang berani mendampingi lu di saat gelap hingga terang. Bukan sekedar wanita yang menyicip kebahagiaan dan gemerlap lu!” ??

Sayangnya, sekarang lu dan gue sama-sama tahu. Cuma beberapa persen wanita yang berani mengambil secara hebat posisi itu. Dari sekian banyak yang kita kenal selama ini, ternyata tidak lebih dari sepuluh jari kita, bukan?

Bro,…
Sekarang saat lu bertaruh..
Silahkan kalian kocok dadunya bersama.
Atau tutup saja meja ini. Dan kita maen gaplek saja!

 

 

*niru2 gaya si Mbok, mosting pendek soal terlarang sambil nitip pesan

Politik

left the relSecara naluriah, manusia akan selalu berpolitik. Sudah merupakan aturan main yang mungkin sudah berasal dari sono-nya. Seorang anak kecil juga bisa berpolitik untuk mendapatkan uang jajan. Seorang murid berpolitik terhadap guru-gurunya. Seorang pedagang juga berpolitik terhadap pelanggannya. Seorang pejabat apalagi.

Tapi yang paling tidak menyenangkan adalah ketika manusia berpolitik untuk cinta.

 

Ah, seandainya manusia tidak difasilitasi dengan otak,
cuma hati yang berbicara….

 

NB : Forget the politic, back to Jogja adem city..