Masih Mau Nonton Sinetron?

putriyangditukar-353x500

Kalau saya sudah tidak mau menonton sinetron lagi, sejak dahulu kala. Alasannya? Silahkan simak tulisan teman-teman berikut:

Absurditas di Putri yang Ditukar

Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar

Yang Putri Yang Ditukar

Belajar Dari Nodame

Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Bisa Ditukar Ataupun Dikembalikan

Itu baru satu sinetron. Padahal sinetron murahan tersebar banyak di televisi kita. Belum ditambah reality show yang cuma menipu dan membodohi. Kasihan kita ya.


*PS: Yang nulis di note FB atau di blognya atau dimanapun soal sinetron jelek, trackback dan comment aja. Ntar dimasukin link diatas hihihi..

Nurdin Yang Terkutuk

“Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.” – Tan Malaka (1925)

Menonton Indonesia dari televisi. Menonton ke sekian kali Tim Merah Putih bertanding dengan negara-negara tetangga.

Awalnya saya tidak berharap banyak, 2 atau 3 tahun saya cukup kecewa dengan penampilan Timnas. Saya memang bukan seorang yg jago menganalisis pertandingan. Tetapi melihat pertandingan-pertandingan yang pernah ada, seperti melihat sebuah motor yang rusak di busi-nya. Distarter ngadat. Didorong pun harus dipaksa sambil masukkan gigi satu.

Saya pernah bahas soal ini di tulisan-tulisan sebelumnya. Prestasi tim nasional mandek, mau tidak mau karena buah kompetisi yang baunya tidak enak. Ujung-ujungnya, buah ini semakin tercium busuk setelah ditarik ke level manajemen Sepakbola negeri ini. Yaitu PSSI sendiri. Dan dengan “setan-[setan]” di dalamnya bernama Nurdin Halid [dan cs-nya].

Bukti? Cukup lelah koran-koran dan media lainnya bersuara. Dan saya tidak perlu membuat diri capek lagi hanya untuk menyentil orang satu itu. Sentilan itu tidak mempan, bisa jadi karena memang “setan-[setan]” itu sudah bermuka tebal. Padahal saya sendiri percaya, setan saja masih punya malu dan harga diri.

Tetapi asa kembali muncul ketika sebuah photo profil ditag ke halamanFacebook saya. Photo seseorang yang cukup nekat, mengenakan kaos putih bertuliskan “Aku berlindung dari godaan Nurdin yang terkutuk”, dengan latar dirinya sedang memandang jauh Stadion Senayan “GBK”. Saat itu, suporter nekat itu sedang menonton Tim Garuda melawan Tim Nasional Uruguay dalam rangka uji tanding sebelum menjajal kejuaran Piala AFF Suzuki Cup Desember ini. Entah bagaimana, saya merasa photo itu cukup mewakili kekecewaan, tetapi juga sekaligus harapan. Bahwa saya, si suporter gila itu, dan berjuta-juta fans sepakbola tanah air masih punya harapan untuk hadir di Senayan dan menyaksikan tim kebanggaannya menang.

Suatu masa yang lain, dari radio streaming yang penuh dagelan, bernama Radioteflon, saya mendengar analisa menarik untuk peluang Indonesia di AFF. Wawancara dagelan itu pun tidak lupa menyinggung prestasi timnas dan pengaruh dari bobroknya PSSI bersama “setan-[setan]”-nya. Satu kali lagi saya mencatat, si narasumber yg gemar menulis blog soal bola itu, juga yakin bahwa kita masih bisa berprestasi. Prestasi itu tidak dijemput, tetapi harus dikejar. Dan PR kita masih banyak, termasuk membenahi PSSI dan sistem kompetisi lokal yang acak kadut.

Dan semalam, juga 2 malam sebelumnya, menjadi bukti bahwa kita mampu. Nurdin cs yang pesimis, dan sempat menentang cara pelatih Alfred Riedl mengatur tim, justru dibalas tegas kemenangan telak. Lima satu dengan Malaysia, setengah lusin bersama Laos.

Kita bisa menang. Bahkan bisa lebih baik dari sekarang. Dan kemenangan itu semua bukan hak Nurdin sama sekali. Dia lebih pantas turun sekarang juga dari PSSI. “Lindungi Indonesia dari godaan Nurdin yang terkutuk”

 

*thanks to @zenrs @hedi @colonelseven @di_larashati @escoret @epat @kelakuan dan semua yg menginspirasi. Kalau kata Tan, “Dalam tiap-tiap macam perjuangan, inisiatif mempunyai nilai besar” – Tan Malaka.

Saya akan turut ke Final. Siapkan satu kaos untuk ku ya!

Blog dan Twitter Indonesia (Part 1)

Ketika mencari-cari di Google, saya menemukan beberapa data yang menarik. Ini bukan soal proposal dan jualan kecap. Tetapi bisa menjadi catatan menarik jika anda seorang blogger “yang peduli”, atau pun seorang pengguna twitter “yang sehat”.

Sebelumnya mungkin kita harus tahu dulu beberapa catatan umum dan penting. Berdasarkan data APJII Juni 2010, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta. Sementara pengguna Facebook per Agustus 2010 tercatat lebih dari 27 juta user dari Indonesia. Dan Indonesia mencatat rekor penetrasi twitter tertinggi dalam setahun ini (20,8%), dengan menduduki posisi ke-6 pengguna Twitter terbanyak (2,41%).

Pembahasan ini akan saya detailkan dalam 3 bagian. Dimana pada bagian akhir akan kita coba lihat seberapa besar aktifitas blogging dan kaitannya dengan penetrasi twitter akhir-akhir ini. Semoga akan ada sedikit kesimpulan dan manfaat yang bisa diperoleh.

Continue reading →

Kelamin Sosial Media

Social media. Wah, saya capek juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena  terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? Ah, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. Toh, sampai sekarang saya tidak bisa mengalahkan adik saya dalam kualitas penggunaan Facebook, atau temen cantik saya dalam hal banyaknya berbalas Twitter. Continue reading →

Demokrasi 2.0

Saya membaca catatan pinggir “Caping” dari tempointeraktif hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat itu saya masih terlalu muda aka “imut” dan berada di dalam “tempurung” yang aman.

GM bercerita di catatan pinggir hari ini seperti kisah seorang bohemian. Bersembunyi, balik memata-matai setiap aksi aneh di Jalan Utan Kayu 68-H bersama rekan-rekannya. Ini benar-benar “catatan pinggir”. Catatan yang terpinggirkan dari sekian banyak diskusi dan ulasan mimpi-mimpi partai, caleg, capres di berbagai media akhir-akhir ini. Sebuah kilasan untuk sekedar menjadi pengingat, dan bahkan GM sendiri menuliskan di akhir artikel,

“Saya memandang potret-Motret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.”

Lalu saya teringat sebuah bacaan di kolom “Surat dari Palmerah“, ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah “Jakarta Jakarta”, Senin 8 April 1996 yang berjudul “GM & KA-I-PE-PE”. Disana SGA menyitir soal naiknya GM sebagai ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tidak sembarang menyitir, SGA yang tidak pernah percaya soal politik Orba, malah menuliskan :

“Saya masih sering merasa, periode kampanye di jalanan itu adalah periode yang membuang energi. Tapi apa boleh buat, politik juga perlu ritus, toh?”

“..Muncullah itu makhluk yang bernama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), diketuai-presidiumi oleh Goenawan Mohamad. Busyet. Sekarang saya setuju, Pemilu 1997 nanti akan berlangsung seru.”

Dan benar, sejarah berjalan seru dimulai saat itu. Tempo memenangkan Bredel Cup (dalam istilah Seno), pergerakan anti Soeharto mulai menggeliat di “lorong-lorong”, Mega muncul sebagai calon Presiden, dan Juli ’97 menjadi awal pergolakan reformasi.

Setiap kali membaca memoar -entah dari siapa saja tentang era 97-98 itu, saya selalu merasa sedikit informasi yang bisa didapat. Anehnya, dari sekian banyak informasi, yang booming itu justru hadir dari para politisi masa kini. Lihat saja buku-buku yang bercerita soal reformasi 1998 di Gramedia, buku bersampul tebal eksklusif yang editorialnya juga tidak oleh sembarangan penulis. Namun di sisi lain, dari cerita-cerita lewat, dari bisik-bisik, sepertinya masih banyak ganjalan atas apa yang terjadi di masa itu. Kalau saya boleh bilang “manuskrip-manuskrip tua” yang orisinil yang bercerita masa itu hanya sedikit yang bisa diperoleh. Padahal sejarah 97-98 itu bagian yang penting dari perjalanan reformasi yang diusung-usung oleh semua partai masa kini.

Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang harus dipercaya dari segala sumber itu? Merujuk pada kenyataan kita akan menuju sebuah hajatan yang menentukan bangsa ini 9 April nanti. Sebelumnya, ketika perjalanan Pemilu 2004 lalu, yang digadang sebagai PEMILU reformis pertama Indonesia, ternyata kita tidak cukup mampu meluruskan semua hal ini. Apa sekarang mampu? Saya tidak menunjuk kepala caleg/capres yang terpajang disetiap lintasan jalan,monitor, tv, majalah, atau koran-koran kita sebagai penanggung jawab kisah-kisah itu. Saya juga tidak berasumsi bahwa militer berada dibalik semua kisah hitam itu. Karena hanya meninggalkan tuduhan tak berdasar, karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menemukan tulisan otontik perkara masa itu.

Ruang-ruang bercerita di masa 97-98 tidak “seindah” sekarang. Blog, facebook, POLITIKANA? Dulu tidak ada ruang seperti ini untuk sekedar me-reportase apa yang terjadi. Bayangkan saja jika dulu ada Politikana, mungkin dari ujung Medan sana, tiba-tiba ada yang mengupload foto, youtube, dan reportase amatir seputar serangan Juli 97. Atau ada yang sekonyong-konyong sekedar mengabarkan dirinya “sebentar” lagi diculik karena ulasan-ulasannya yang tajam terhadap seorang tokoh politik. Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.

Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, “Jangan pilih Capres Militer”. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubangnya. Dan menilik sekarang ada 3 capres mantan militer yang sudah memberanikan diri maju, lalu apa kita perlu membawa jokes yang sama, “Jangan pilih capres militer” ? Wah, ini soal lain.

Demokrasi bukan musuh militer. Tetapi stabilitas nasional memang selalu berada diatas segalanya dalam wacana NKRI. Dan ketakutan saya selalu sama seperti 2004 lalu, jika stabilitas nasional diatasnamakan sebagai “nama baik” dan “perlindungan tokoh-tokoh sentral” politik masa kini, maka ini baru jadi masalah! Bukan menakuti, dan saya tidak akan heran, kalau dulu Galeri Lontar selalu dimata-matai karena alasan stabilitas nasional, maka mungkin nantinya Langsat I/3A yang ketiban jatah “dimata-matai” di masa mendatang. Tetapi, siapa yang bisa menduga arah peluru terbang kalau sudah berlangsungnya perang?

Dalam cerita lainnya di kolom Surat dari Palmerah (“Percakapan Dengan Goenawan“, Jakarta Jakarta – 15 Juni 1996), SGA sempat bertanya kepada GM setelah Mahkamah Agung mengubah keputusan dua tingkat pengadilan dibawahnya -Tempo sah untuk dibredel.

“Apa rencana Anda sekarang?” “Yah, saya akan meneruskan apa yang telah saya teruskan selama ini”.

Terbukti, sampai sekarang GM belum berhenti menulis untuk berjuang, atau sekedar mengingatkan anak muda seperti Gunawan Rudy. Seharusnya, kita semua pun tidak berhenti, apalagi dengan semua media yang kita punya saat ini. Minimal, anak cucu kita pun tidak akan “bingung sejarah” seperti saya sekarang.


Ilustrasi dan quote diambil dari goenawanmohamad.com.