Kesederhanaan Politik

Dari_resist_book

Sebagai pembuka, saya ingin berkata jujur, bahwa pemahaman politik saya kurang. Bahkan untuk mendefinisikan arti “politik” sendiri saya tidak mampu menuliskannya. Saya merasa itu merupakan hal yang wajar. Toh, saya tidak pernah belajar ilmu politik secara teoritis. Hanya memahaminya sebagai proses, dan mungkin sedikit keterlibatan kecil dalam sebuah arti politik.

Hari ini, secara mendadak saya diminta (lebih tepatnya ditunjuk) oleh sekelompok teman-teman “bermain” saya di Bandung, untuk mewakili pertemuan di sebuah SMU swasta. Iya. Saya diminta mengikuti rapat wali murid atas 3 orang anak. Kebetulan 3 siswi kelas 3 SMU tersebut berada dalam asuhan kegiatan belajar non-formal yang diselenggarakan teman-teman saya di Bandung. Sedikit penjelasan tentang kegiatan “non-formal” tersebut, kegiatan ini merupakan kegiatan mandiri yang sudah dikelola sejak lama oleh beberapa teman saya (dan saya juga kadang-kadang ikut serta), sebuah kegiatan yang amat sederhana. Sekedar pendampingan belajar non-formal bagi anak-anak yang putus sekolah, sekaligus mencarikan bantuan dana sekolah bagi beberapa diantara mereka yang berkeinginan menyelesaikan sekolah formal. Kami menamakan kegiatan kami tersebut “Rumah Mentari”. Adalah @warnapastel yang mengenalkan saya dengan kegiatan ini beberapa tahun lalu.

Dan jam 9 pagi tadi, saya bergegas ke sekolah tersebut. Saya mendapat telpon ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Ternyata rapat sudah bubar ketika saya datang, tapi saya harus tetap kesana. Ada titipan beberapa peralatan sekolah untuk awal semester yang harus saya berikan kepada mereka. 

Ada rasa kecewa karena saya telat. Perkiraan awal saya tadi, rapat ini pasti masih akan berlangsung lama. Bayangan saya seperti rapat-rapat wali murid ketika saya SMP dulu di Aceh. SMP saya memang favorit di kota Banda Aceh, sekaligus masuk dalam kategori ternama untuk Propinsi NAD. Kalau sudah rapat, kegiatan belajar mengajar dihentikan, walau sekolah tidak diliburkan. Saya dan teman-teman bisa bermain seharian, ngantin, pacaran, bahkan cabut keluar sekolah seenak perut. Entah apa yang orang tua/wali murid bersama pihak sekolah rapatkan, kami tidak perlu ambil pusing. Toh, sekolah adalah sebuah kegiatan rutin seorang anak, demikian pikiran saya dan teman-teman dulu.

Dua adik asuh kami ini, rupanya menunggu saya dipinggir jalan. Saya diberitahu soal rapat yang berlangsung. “Tadi yang datang juga ngga rame kok, Kak. Ibu Dini-nya juga masih nunggu di sekolah kalo-kalo ada wali lain yang nyusul datang”, begitu penjelasan salah satu adik asuh kami itu, Santi namanya.

Saya bisa membayangkan “rapat” yang dimaksud Santi ini seperti apa. Cukup menenangkan saya akan rasa bersalah terhadap mereka karena telat menepati jadwal undangan rapat. Seorang lagi yang ikut menunggu saya tadi bernama Nisa.

Mereka menunggu saya di ujung sebuah gang. Kemudian saya diajak memasuki gang tersebut. Pikir saya bertanya-tanya, SMU seperti apa yang berada disebuah gang perumahan padat di kota Bandung?

Walaupun ini bukan pengalaman pertama atau kedua saya menelusuri sekolah-sekolah dalam sebuah gang atau ujung desa dan kaki gunung, tetapi selalu saja menarik melihat geliat orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dengan nuansa serba terbatas begini. Seperti ada semangat dengan rasa berbeda karena kondisi mereka yang serba terbatas. Baik itu penyelenggara sekolah-sekolah seperti ini, juga murid-muridnya. Seperti Santi misalnya. Keinginan bersekolahnya ini yang mendorong dia bisa menjadi juara 1 sekaligus pengurus OSIS di sekolahnya, disela-sela waktu membantu ibunya yang bekerja sebagai jasa pencuci pakaian.

Dua kelokan gang saya lewati, dan sampailah di sekolah Santi dan Nisa. SMU ini tidak begitu besar, bahkan halamannya pun tidak lebih besar dari halaman Dagdigdug atau Wetiga. Tapi saya bisa melihat ada tiang bendera disana, dan tetap pantas kalau saya sebut halaman itu sebagai lapangan upacara.

Setahu saya cuma ada 2 kelas masing-masing untuk kelas 1 dan 2. Bahkan kelas 3 SMU tersebut cuma memiliki satu kelas 3 IPA berisi 18 anak, dan saya tidak tahu berapa banyak siswa kelas 3 IPS-nya. Sebelumnya saya sudah mendegar perihal sekolah ini dari teman dan adik-adik asuh kami ini. Sekolah kecil yang dikelola oleh yayasan lokal yang dimiliki sebuah keluarga.

Santi memperkenalkan saya dengan seorang ibu guru muda cantik yang duduk diteras sekolah, Ibu Guru Dini namanya, yang tadi sempat disebutkan Santi. Saya dipersilahkan masuk ke kantor guru, terlibat obrolan singkat seputar sekolah dan kegiatan saya bersama teman-teman dalam mengasuh adik-adik kami ini. Si ibu guru ini terlihat “well educated” dari obrolan ringan yang berlangsung. Saya juga bisa menaksir kalau beliau seumuran dengan saya. Seumuran dengan saya, dan mengurus sebuah sekolah seperti ini. Sedangkan saya sendiri, meloloskan diri dari sekolah saya sendiri pun belum (curcol ūüėÄ ).

Dan sampailah pada inti pembicaraan. Beliau mengabarkan bahwa sebenarnya rapat tadi adalah pemberitahuan dari pihak sekolah kepada semua orang tua/wali murid bahwa sekolan telah memperoleh bantuan dana pendidikan. Tahun sebelumnya, juga ada dana bantuan pendidikan yang turun, tetapi hanya bisa diberikan kepada Kelas 1 saja. Dan sekarang, karena pihak sekolah bisa mempersiapkan laporan pertanggungjawaban tahun ajaran lalu dengan lebih baik dan lebih cepat, dana bantuan untuk tahun ajaran sekarang bisa diturunkan lebih besar. Sehingga bisa membiayai penuh biaya SPP selama setahun. “Sekarang semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 mendapat bantuan. Permohonan dari pihak sekolah Rp 900.000 persiswa untuk biaya setahun ini diloloskan oleh Bapak Walikota”, demikian penjelasan dari si Ibu Dini ini sambil memperlihatkan senyum cantiknya. Ah, saya berpikir wajar saja beliau lebih cantik tersenyum sekarang, karena memang ini menjadi berita baik bagi semua orang tua/wali murid, sekaligus prestasi untuk sekolah ini.

Walaupun ada dana-dana lain, seperti LKS, 3 kali try out UAN/SMPTN, 30 ribu untuk biaya tahunan kesiswaan, dan entah apa lagi mungkin nanti menyusul kemudian hari, tetapi kabar seperti ini memang pantas melegakan hati semua orang tua murid. Saya juga ikut merasa lega di hati. Padahal keterlibatan saya di Rumah Mentari tidak terlalu besar seperti teman-teman lain yang lingkang pukang memburu donatur, atau yang menyempatkan waktu sempitnya untuk mendampingi adik-adik kami ini belajar sabtu – minggu.

Saya sempat berdiskusi kecil soal dana pendidikan yang diperoleh sekolah dari Walikota Bandung tersebut. Pertanyaan yang wajar dari saya, karena setahu saya bantuan sekolah gratis turun dari Dinas Pendidikan seharusnya, entah itu berupa BOS atau sekolah gratis seperti di iklan-iklan televisi. Ibu Guru Dini cuma menyampaikan bahwa mereka sedari awal sejak Bapak Walikota Bandung menjanjikan dana bantuan sekolah, mereka terus mengikuti prosesnya dan mencari tahu prosedurnya seperti apa. “Syukurlah, Mas. Beruntung juga Pak Dada terpilih lagi, memang sejak kampanye kan beliau konsen di persoalan dana bantuan pendidikan”, jawab si Ibu Dini diplomatis. “Tapi sekarang ini juga jabatan terakhir beliau. Harapannya kita sih, program seperti ini bisa terus jalan siapa pun Walikotanya, ya kan?”. Saya tersenyum sambil mengiyakan.

Tiba-tiba saya teringat demo-demo menuntut Dada Rosada turun beberapa tahun lalu ketika jabatan Walikota pertama kali beliau peroleh. Ada juga pihak-pihak yang memberi raport jelek bagi beliau ketika Laporan Pertanggungjawaban kerja (LPKj) 2008 lalu. Saya sendiri termasuk yang sangat alergi dengan kebijakan Dada Rosada seputar persoalan tata kota Bandung. Dan entah berapa lagi catatan buruk yang ditinggalkan Dada Rosada, sampai-sampai tahun lalu ada demontrasi penolakan beliau menjadi Walikota Bandung periode 2008-2013.

Saya belajar satu hal disini, ternyata urusan kebijakan politik bisa menjadi sangat sederhana bagi orang-orang seperti Ibu Dini. Dan bisa juga menjadi sangat tidak masuk akal bagi sebagian orang lainnya. Atau lebih buruk, bagi orang seperti saya, yang berpikir rumit sendiri dengan harapan terlalu luas dan banyak maunya dari sebuah kebijakan politik penguasa.

Mungkin benar bahwa teori klasik politik dari Aristoteles akan selalu akan menjadi rahasia. “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”

 

-Senin, 3 Agustus 2009, 16.25 : Ngopi Doeloe Kota Bandung-

Enlarge Your P*nis

Tulisan ini muncul sebagai bentuk dukungan saya, sekaligus keprihatinan saya. Jelas ketidakadilan terhadap kasus yang dialami Ibu Prita menjadi perhatian kita semua. Siapa yang tega melihat seorang ibu terpisah dari anaknya karena tersangkut kasus yang ambigu demikian?

Iya, saya mengatakan ambigu. Proses hukum yang terjadi memungkinkan adanya “debat pengadilan” yang sengkarut. Rumah Sakit Omni kuat dari segi tuntutan yang didukung pengacara coorporate yang lebih handal di banding Prita yang cuma seorang kala itu. Ditambah pasal-pasal karet dalam UU ITE yang memungkinakan kurangnya pemahaman akan UU ITE oleh Jaksa dan Hakim.

Apapun hasil proses persidangan, yang tertinggal adalah sebuah empati bagaimana seorang Ibu akan berpisah dari anaknya karena “kalah debat”.

TAPI,

Saya lebih empati dengan para pendukung yang kebablasan. Belum lagi buat pihak-pihak yang berkepentingan entah atas nama kekuasaan, atau apapun lah itu. Akibatnya? Jelas ada kerugian yang lebih besar lagi buat kita, bahkan bagi publik sendiri.

Contoh kasus saja, hari ini. Rumah sakit Omni kebanjiran email, membuat jalur komunikasi mereka terganggu. Kok bisa?

BEGINI,

Saya yakin hari ini RS Omni kelabakan dengan email mereka. Bukan cuma mereka, saya sendiri juga repot mengurusi spammer setiap hari.

Dulu saya ingat, sebelum UU-ITE disahkan, bahkan jauh sebelum blog ramai membahas Undang-undang sengkarut itu, Pak Pri pernah memposting, berkomentar bahkan berkampanye soal pentingnya aturan main SPAM dalam UU-ITE.

Dan sepertinya anggota dewan cukup bijak mengabulkan perihal satu ini.

Pasal 32
(1)
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.

Pasal 33
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Demikian bunyi butir diatas. Jadi tindakan SPAM yang merusak, justru menjadi tindak kejahatan dalam UU-ITE. Pasal-pasal diatas bisa saya anggap 2 diantara pasal-pasal UU ITE yang tidak sengkarut, yang justru melindungi kita sebagai pengguna, dan semua pihak yang terbantukan oleh fungsi kerja alat komunikasi, terutama internet.

Jika ada diantara saudara yang tidak mengerti SPAM, mungkin bisa cek email saudara. Saya sih lebih sering mengingatnya dengan 3 kata judul diatas.

Itu saja dari jangkauan pengetahuan saya apa dampak buruk dukungan kebablasan ini. Ibarat kata, kita sering merasa terganggu oleh kemacetan akibat demo-demo. Apalagi sampai merusak layanan publik. Nah, sekarang jika kita juga kebablasan dalam menyikapi kasus Ibu Prita, maka kita juga tidak ada bedanya dengan pendemo yang sering kita pisuhi.

Rumah Sakit Omni adalah sebuah layanan publik, yang memberikan bantuan, pertolongan kesehatan kepada masyarakat. Mereka setiap hari beroperasi dengan ratusan pasiennya. Mereka juga butuh alat komunikasi seperti email dan  internet. Lewat jalur itulah rumah sakit ini bisa berhubungan dengan para supplyer obat-obata, menagtur skedul dengan pihak dokter,  berkorespondensi dengan luar rumah sakit dan komunikasi dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan operasional.

Ah, saya jadi sentimentil.

Tapi tak apa-apa, toh beberapa hari ini semua orang memang cenderung sentimentil.

Seorang Kapten Tua Bernomor Punggung 3

Jika saya mengingat masa-masa awal menggemari sepak bola dulu, maka nama klub yang muncul dibenak saya adalah AC Milan. Dan jika disuruh mengingat kaos bola AC Milan (bukan original) pertama yang saya  miliki, itu tidak lain adalah bernomor punggung 3.

Lucu mengingat masa-masa itu. Saat itu memang era awal kebangkitan siaran televisi swasta di Indonesia. Dan satu-satunya siaran bola eropa hanyalah Liga Italia. Saya bersama teman-teman seumuran dulu, bisa berdebat soal kehebatan klub masing-masing. Saya yang memegang AC Milan, bisa tertawa mengejek teman yang menggemari AC Parma tatkala Nesta pindah klub ke Milan. Kalaupun dia berkelit dengan seribu alasan, satu pernyataan pamungkas menyelesaikan debat tidak penting itu, “Kalo bisa coba beli Maldini”.

Hari ini, pertandingan terakhir sang La Bandiera della Milan di Giuseppe Meazza. Pujian dan respect dari berbagai komentator bola ternama seluruh dunia disanjungkan padanya minggu-minggu ini. Seperti juga salah satu pujian komentator lepas Indonesia –Zen yang maniak MU di Detik, Paolo Maldini bukan hanya “seseorang”, ia juga “sesuatu”. Sebagai “seseorang”, Maldini adalah seorang pemain besar, seorang legenda. Sebagai “sesuatu”, Maldini adalah suatu etik, suatu etos juga suatu simbol”. Jika boleh menambahkan potongan pujian Zen tersebut, maka saya menambahkan “Dan itu bukan hanya untuk klub AC Milan, atau sepak bola Italia saja. Tetapi juga sepak bola dunia”.

Berlebihan? Mungkin. Walaupun saat ini saya tidak begitu simpati lagi kepada AC Milan. Tetapi untuk seorang pemain kebanggan seperti Maldini, saya akan bersulang bir untuk debut terakhirnya ini. Pemain paling setia. Di saat Milan jaya maupun dalam kondisi gamang seperti 2 musim lewat, Maldini selalu “ada” untuk menjaga lini belakang Milan. Sebut saja berapa striker kelas dunia sudah dihadapinya. Dari Maradona, Van Basten, Rummenige, R.Baggio, Platini, Zico, Romario, sampai striker muda sekelas Rooney dan Cristiano Ronaldo.

Bagaimana dengan AC Milan sendiri setelah kepergian Maldini? Memang kondisi sedang buruk untuk Rossoneri. Selain ditinggal Kapten terbaiknya ini, Anceloti juga sedang gundah karena tawaran Chelsea, Ronaldinho yang digosipkan lebih sering clubbing, sampai Kaka yang bingung dengan karirnya ke depan. Milan dalam dilema. Tapi Milan tetaplah Milan. Sudah berapa kali masa jaya dan kelam dilewatinya. Namun kaos hitam merah bernomor punggung 3 masih terus menjadi favorit sampai generasi keponakan saya.

Malam ini saya menonton Milan lagi, setelah sekian lama tidak menyaksikan mereka berlaga. Aroma Milanisti lebih terasa di cafe tempat saya menonton, walaupun dipenuhi penonton berkaos Liverpool. Semua seperti tahu malam ini adalah malam perpisahan dengan sang legenda. Bahkan ketika Maldini gagal memblocking Mexes atau Menez, tepuk tangan tetap gemuruh. Begitu pula di lapangan San Siro sana. Setiap tertinggal gol dari AS Roma, pemain Milan terlihat lebih bertenaga memburu gol balasan. Seperti tidak mau malam ini berakhir mendung untuk Captain 900 mereka.

Injury time AC Milan vs AS Roma. Kedudukan 2-3 untuk Roma. Menez meliuk-liuk disisi kanan gawang Milan. Melewati baris pertahanan Milan, memotong 2 pemain bertahan. Hanya tinggal Dida di depan matanya. Tendangan keras dilepas. Sayang bola terpental keluar lapangan. Menez terpekur. Ternyata masih ada seorang tua bernomor punggung 3 mem-block tendangan kerasnya.

Demokrasi 2.0

Saya membaca catatan pinggir “Caping” dari tempointeraktif hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat itu saya masih terlalu muda aka “imut” dan berada di dalam “tempurung” yang aman.

GM bercerita di catatan pinggir hari ini seperti kisah seorang bohemian. Bersembunyi, balik memata-matai setiap aksi aneh di Jalan Utan Kayu 68-H bersama rekan-rekannya. Ini benar-benar “catatan pinggir”. Catatan yang terpinggirkan dari sekian banyak diskusi dan ulasan mimpi-mimpi partai, caleg, capres di berbagai media akhir-akhir ini. Sebuah kilasan untuk sekedar menjadi pengingat, dan bahkan GM sendiri menuliskan di akhir artikel,

“Saya memandang potret-Motret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.”

Lalu saya teringat sebuah bacaan di kolom “Surat dari Palmerah“, ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah “Jakarta Jakarta”, Senin 8 April 1996 yang berjudul “GM & KA-I-PE-PE”. Disana SGA menyitir soal naiknya GM sebagai ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tidak sembarang menyitir, SGA yang tidak pernah percaya soal politik Orba, malah menuliskan :

“Saya masih sering merasa, periode kampanye di jalanan itu adalah periode yang membuang energi. Tapi apa boleh buat, politik juga perlu ritus, toh?”

“..Muncullah itu makhluk yang bernama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), diketuai-presidiumi oleh Goenawan Mohamad. Busyet. Sekarang saya setuju, Pemilu 1997 nanti akan berlangsung seru.”

Dan benar, sejarah berjalan seru dimulai saat itu. Tempo memenangkan Bredel Cup (dalam istilah Seno), pergerakan anti Soeharto mulai menggeliat di “lorong-lorong”, Mega muncul sebagai calon Presiden, dan Juli ’97 menjadi awal pergolakan reformasi.

Setiap kali membaca memoar -entah dari siapa saja tentang era 97-98 itu, saya selalu merasa sedikit informasi yang bisa didapat. Anehnya, dari sekian banyak informasi, yang booming itu justru hadir dari para politisi masa kini. Lihat saja buku-buku yang bercerita soal reformasi 1998 di Gramedia, buku bersampul tebal eksklusif yang editorialnya juga tidak oleh sembarangan penulis. Namun di sisi lain, dari cerita-cerita lewat, dari bisik-bisik, sepertinya masih banyak ganjalan atas apa yang terjadi di masa itu. Kalau saya boleh bilang “manuskrip-manuskrip tua” yang orisinil yang bercerita masa itu hanya sedikit yang bisa diperoleh. Padahal sejarah 97-98 itu bagian yang penting dari perjalanan reformasi yang diusung-usung oleh semua partai masa kini.

Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang harus dipercaya dari segala sumber itu? Merujuk pada kenyataan kita akan menuju sebuah hajatan yang menentukan bangsa ini 9 April nanti. Sebelumnya, ketika perjalanan Pemilu 2004 lalu, yang digadang sebagai PEMILU reformis pertama Indonesia, ternyata kita tidak cukup mampu meluruskan semua hal ini. Apa sekarang mampu? Saya tidak menunjuk kepala caleg/capres yang terpajang disetiap lintasan jalan,monitor, tv, majalah, atau koran-koran kita sebagai penanggung jawab kisah-kisah itu. Saya juga tidak berasumsi bahwa militer berada dibalik semua kisah hitam itu. Karena hanya meninggalkan tuduhan tak berdasar, karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menemukan tulisan otontik perkara masa itu.

Ruang-ruang bercerita di masa 97-98 tidak “seindah” sekarang. Blog, facebook, POLITIKANA? Dulu tidak ada ruang seperti ini untuk sekedar me-reportase apa yang terjadi. Bayangkan saja jika dulu ada Politikana, mungkin dari ujung Medan sana, tiba-tiba ada yang mengupload foto, youtube, dan reportase amatir seputar serangan Juli 97. Atau ada yang sekonyong-konyong sekedar mengabarkan dirinya “sebentar” lagi diculik karena ulasan-ulasannya yang tajam terhadap seorang tokoh politik. Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.

Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, “Jangan pilih Capres Militer”. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubangnya. Dan menilik sekarang ada 3 capres mantan militer yang sudah memberanikan diri maju, lalu apa kita perlu membawa jokes yang sama, “Jangan pilih capres militer” ? Wah, ini soal lain.

Demokrasi bukan musuh militer. Tetapi stabilitas nasional memang selalu berada diatas segalanya dalam wacana NKRI. Dan ketakutan saya selalu sama seperti 2004 lalu, jika stabilitas nasional diatasnamakan sebagai “nama baik” dan “perlindungan tokoh-tokoh sentral” politik masa kini, maka ini baru jadi masalah! Bukan menakuti, dan saya tidak akan heran, kalau dulu Galeri Lontar selalu dimata-matai karena alasan stabilitas nasional, maka mungkin nantinya Langsat I/3A yang ketiban jatah “dimata-matai” di masa mendatang. Tetapi, siapa yang bisa menduga arah peluru terbang kalau sudah berlangsungnya perang?

Dalam cerita lainnya di kolom Surat dari Palmerah (“Percakapan Dengan Goenawan“, Jakarta Jakarta – 15 Juni 1996), SGA sempat bertanya kepada GM setelah Mahkamah Agung mengubah keputusan dua tingkat pengadilan dibawahnya -Tempo sah untuk dibredel.

“Apa rencana Anda sekarang?” “Yah, saya akan meneruskan apa yang telah saya teruskan selama ini”.

Terbukti, sampai sekarang GM belum berhenti menulis untuk berjuang, atau sekedar mengingatkan anak muda seperti Gunawan Rudy. Seharusnya, kita semua pun tidak berhenti, apalagi dengan semua media yang kita punya saat ini. Minimal, anak cucu kita pun tidak akan “bingung sejarah” seperti saya sekarang.


Ilustrasi dan quote diambil dari goenawanmohamad.com.

Cermin

Dalam sebuah dongeng, ibu ratu selalu menanyakan kepada cermin di kamarnya, “Cermin, cermin, cermin di dinding, siapakah wanita paling cantik di dunia?”. Cermin menampakkan gambar si Putri Salju. Ibu ratu naik pitamnya, dan Putri Salju pun dibuang ke hutan. Dulu aku selalu bertanya, kenapa si cermin tidak tunjukkan saja gambar perempuan lain? Model-model kelas dunia mungkin. Atau bisa saja wajah si tuannya, Ibu Ratu sendiri? Kalau ceritanya demikian, tentunya kamu dan aku tidak pernah mendengar cerita ini sekarang. Cuma kisah-kisah cinta tragis seperti nasibnya Bondowoso yang diperdengarkan ibu-ibu kita. Padahal dari cerita cermin Ibu Ratu itu, aku belajar satu hal. Ternyata cermin itu bisa bercerita!

Kamu tahu bangsa Mesopotamia kan, sayang? Mereka telah menemukan cermin sejak dulu. Bukan membuat. Mereka hanya mengasah sedikit dari batu-batuan dari golongan obsidian. Batu yang kasar dan rapuh, tetapi kristalnya memiliki kilap yang cukup untuk memantulkan cahaya. Mungkin karena itu pula banyak cerita, bagaimana wanita-wanita suku-suku Mesopotamia terkenal pintar bersolek dan kecantikannya tercatat dalam cerita-cerita sejarah. Lain lagi sebuah kisah dari Mesir. Seorang Raja Mesir pernah menggunakan cermin yang ternyata berasal dari batuan yang lebih tua dari peradaban mesir sendiri. Arkeolog berpendapat bahwa cermin itu bukan berasal dari batuan di bumi. Kilapnya yang sempurna alami hanya bisa dihasilkan pada gesekan super panas di udara. Mungkin saja berasal dari meteor dan asteroid yang jatuh ke bumi berjuta-juta tahun lalu. Ternyata cermin benar-benar bercerita hingga menembus dimensi waktu, sayang.

Shakespeare juga pernah mencoba merefleksikan pesan kejujuran cermin dalam cerita Julius Caesar-nya. “Wahai Brutus, bercerminlah, kau seperti diriku dalam cermin, dan engkau pun akan tahu secara jujur apa kata cermin tentang dirimu”. Benar adanya, Brutus harus jujur bahwa dirinya sedang dalam iri dengki terhadap Caesar, cerminnya sendiri.¬†Ternyata cermin juga selalu jujur, tidak hanya pandai bercerita.

Kejujuran tidak harus beriringan seperti 2 garis linier sejajar yang bisa dibuktikan teori matematika. Kejujuran bisa jadi sebuah refleksi, kebalikan. Aku percaya refleksi bukanlah sebuah negasi negatif. Refleksi bukan pula kebalikan. Sapardi berkata, “cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;”. Jangan salahkan cermin seperti yang selalu menjadi biang kerok dalam bahasa kita, dinegasikan sebagai sisi negatif sebuah gambaran kehidupan. Cermin tidak pernah menukar kiri dan kanan-mu, sayang.

Cermin cuma membawa kabar dengan caranya tentang bagaimana kamu, dan mungkin juga tentang aku. Belajar dari Ibu Ratu, coba kamu juga tanyakan kepada cermin di kamarmu, apa yang kamu rasa saat ini? Mungkin dia akan menjawab jujur dengan menunjukkan gambar ku dalam kabur pantulannya.