Istimewa Dengan Cara Sederhana

Belum selesai trilogi saya tentang blog dan twitter Indonesia. Namun, saya merasa butuh menuliskan soal blog dan twitter (juga social media lainnya) dalam sudut pandang yang remeh temeh.

Sebentar lagi Pesta Blogger 2010 digelar. Istimewa? Bagi saya posisi Pesta satu itu masih istimewa. Istimewa dalam sudut pandang sederhana saya sebagai blogger sekaligus penggiat dunia online ala kadarnya. Buat saya bukan istimewa soal perlehatannya yang memakai judul “Pesta”. Bukan pula Β soal sponsornya seperti yang diributkan banyak orang. Apalagi sampai membahas premodialisme komunitas atau sengkarut antara pusat dan daerah. Buat saya itu kisah klasik dan laten setiap tahunnya.


Ada yang berkeras memandang bahwa yang klasik dan laten di atas adalah masalah krusial bagi blogger Indonesia. Penting dengan tanda seru. Menentukan masa depan dengan tanda tanya. Layaknya perjuangan khalifah di negeri liberal jika dianalogikan. Namun ujung-ujungnya hanya menjadi titik awal untuk sebuah pernyataan “Ya, hadir” atau “Tidak. Go to hell“.Β Ini lucu. Ada cara pandang klasik dan laten pula disitu. Ketika melihat bahwa acara itu menguntungkan pihak lain, maka dengan gampangnya dipandang merugikan kami, kita, saya. Padahal hubungannya pun bukan linier. Gagal logika dalam istilah saya. Rasa dirugikan cuma didasarkan keuntungan pihak lain. Dengan cara pikir sederhana saya, logika ini bisa dirunut lebih benar seharusnya. Jika hubungannya pararel, seharusnya keuntungan pihak lain bisa dimanfaatkan menjadi keuntungan saya, kami, kita.

Blogger itu tidak boleh dimanfaatkan, begitu kata sebagian orang. Saya jadi berpikir, selama ini siapa yang memanfaatkan saya? Toh, saya masih berpikir bebas. Masih dengan leluasa mengkritik siapa saja. Tidak ada yang mengatur saya. Pilihannya malah sangat bebas. Justru, ketika ada yang mengatakan “Hell no”, maka saya berpikir sebaliknya dimana kebebasan berpikir saya ketika berkata “Hell no” terhadap suatu objektifitas.

Roman picisan blogger-blogger itu selalu sama dari masa ke masa. Debat kusir sumringah, persaingan komunitas sambil sentil sana sini, iring-iringan azas manfaat bagi khalayak, dan sejuta nilai berguna yang dicita-citakan bagi bangsa dan negara. Apakah kemudian semua roman ini mau kita angkat sebagai novel setiap tahunnya? Jika demikian, Pesta Blogger tahun ini adalah masuk tahun ke 4 perlehatannya, maka kita sudah bisa membuat novel besar layaknya tetralogi Bumi Manusia seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Bedanya disini Bumi Manusia diganti Bumi Blogger. Dan Pram disini adalah setiap dari kita. Lalu saya bertanya kembali, tidak kah setiap dari kita bangga bisa menjadi sosok Pram bagi diri kita sendiri selama hampir dari 4 tahun?

Istimewa yang sederhana bagi saya adalah:
Teman-teman yang terus berinisiatif dengan tulisan-tulisan mereka meramaikan konten lokal Indonesia, merekalah yang istimewa bagi saya. Semua pengguna, penggerak komunitas online, baik dengan hanya 140 karakter atau lebih dari 140 paragraf, mereka juga selalu istimewa bagi saya. Setiap niatan, ide yang muncul dari jutaan tulisan yang tercatat di google dalam Bahasa Indonesia adalah istimewa -minimal istimewa dengan keberadaannya. Belum lagi rasa istimewa yang diciptakan para vendor, para venture capital, para developer, para teknisi yang bersedia bekerja memberikan persembahan bagi kehidupan online di Indonesia, dan entah siapa lagi silahkan saja sebut nama anda disini dan rasa istimewa apa yang telah anda ciptakan bagi kehidupan berinternet di negeri ini.

Dan saya yakin, anda yang telah membaca tulisan ini sampai di baris ini -yang jelas dipublish online tho, maka anda istimewa bagi saya dengan cara yang sederhana.

Jika kemudian kita semua sudah bisa menjadi Pram, dan menjadi istimewa dengan apa yang kita ciptakan, kenapa harus merasa lebih “Pram” dan lebih “Istimewa” dari yang lainnya?

Selamat menikmati Pesta Blogger Plus Β 2010 bagi rekan-rekan dunia maya sekalian πŸ˜€

12 Comments

  1. Blogger tidak boleh dimanfaatkan? Ada toh yg bilang begitu? Boleh kok, lha mendem wae oleh kok πŸ˜€

    Bwt, lho lho, berarti sudah baca tetralogi nih ceritanya? πŸ˜€

    Reply

    1. ayo!

      Btw, saya ijin tidak bisa hadir di Jakarta. Karena ada masalah istimewa lainnya. Menyangkut Hidup mati, masa depan seorang Leksa

      Reply

    1. Siapa yang bilang tidak bisa?
      Saya? mareka? Kita?

      Saya sih tidak bilang begitu.. πŸ˜€

      Reply

    1. penonton 11 jam Acara Pesta, kan?

      tapi om Almas selalu istimewa karena sekian tahun nulis terus πŸ˜€

      Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.