Menulis dan Bicara

Tangan saya kaku. Dan kepala saya seperti terbentur tembok.

Kira-kira begitu yang saya rasakan ketika ingin memulai menulis. Berlebihan? Mungkin saja. Tapi memang demikian adanya.

Kira-kira beberapa minggu kebelakang, saya harus menulis. Menulis karena harus. Juga sesekali masih mencoba menulis komentar di Politikana. Juga masih sempat-sempatkan menulis sahutan di milis. Hasilnya? Tidak memuaskan hati sama sekali.

Cara saya menyampaikan sesuatu lebih sering berputar-putar, dengan penggunaan kata yang terbalik-balik antara S P O K. Kalau dibilang gaya bahasa orang timur, tidak juga. Karena toh saya masih bisa mengerti tulisan dan gaya bahasa teman-teman dari timur. Dari Aceh? Mirip-mirip saja dengan bahasa timur. Memang pilihan kata-kata antara objek dan subjek (dan keterangan 1, 2, dan embel-embelnya) itu sering terbalik di daerah-daerah ujung Indonesia itu. Tapi seburuk-buruknya pun, saya masih paham dan mengerti.

Untuk tulisan-tulisan saya itu, justru tidak.

Misal tadi malam, saya berkomentar cepat saja di sebuah tulisan Politikana, dan memang kebiasaan saya yang cerewet (red: cuma dalam tulisan lho ya), maka itu paling tidak ada jadi komentar 2 paragraf. Lalu pagi ini saya baca lagi komentar itu. Butuh sekian detik bagi saya memahaminya.

Jika mau dirunut, itu juga terjadi dalam beberapa minggu lewat untuk naskah dan proposal yang harus saya tulis. Yang Indonesia jadi susah banget untuk mengalir. Apalagi yang inggris, harus sampai berkali-kali ngecek translator dan grammar (jadi kasihan dengan bule yang chatting dan beremail-an dengan saya).

Twitter? Sama saja. 140 karakter pun kadang  jd tidak cukup untuk selentingan ide yg pendek.

Ini bukan pertanda bagus. Ada yg salah sepertinya. What’s wrong with me?

Kalau kata nya Zen, itu karena saya kurang membaca bulan-bulan ini. Bener juga. Blogwalking yang biasanya jadi pelarian jarang membaca buku pun, jadi hal yang langka buat saya beberapa bulan belakang. Kebanyakan menelan tulisan-tulisan Inggris, ketergantungan googling untuk materi kerjaan saya. Dan tanpa diimbangi menulis dalam bahasa Indonesia yang benar.

Membaca dan menulis itu memang satu paket. Paling tidak jika berbicara tidak bisa, maka menulislah.

Dan perlu dipertimbangkan juga, saya sedang jarang sekali berinteraksi secara fisik dan diskusi dengan bicara. Iya bicara. Saya bisa 3 hari dirumah yang sendirian ini, tidak butuh bicara dengan siapa pun. Hanya membaca, dan menulis. Sama sekali bukan perilaku sosial yang normal.

Apalagi bagi manusia yang katanya makhluk sosial.

8 Comments

  1. Membaca dan menulis itu memang satu paket. Paling tidak jika berbicara tidak bisa, maka menulislah.

    Saya sepakat dengan kalimat terakhir, Bang! Kalau mulut sudah dibungkam, mau tidak mau yang menulis jadi satu alternatif, tapi saya juga sedang malas menulis sekarang ini, kalau pun mau nulis, juga mandeg, itu juga karena kadar membaca saya sedang menurun selama ini : (

    Reply

  2. #damnitstrue

    iya, belakangan mau posting di blog otak rasanya tumpul, ndak kayak dulu yang lancar jaya meski tulisannya ngawur.

    baiklah, saya akan mulai banyak membaca lagi kalo begitu

    Reply

  3. saya banyak baca sejak ramadhan, novel2 klasik dostoevsky saya baca semua lagi. tapi tetep aja lagi sulit menulis. hiks hiks…

    Reply

  4. Heuheu… periode mentok, biasanya saya lalui dengan diam. Atau mencari inspirasi di pasar burung… BIasanya banyak kicauan yang menumbuhkan semangat nulis, baik dengan tujuan sekedar nulis, atau sebenarnya menumpahkan kekesalan atas sesuatu 😀

    Salam!

    Reply

  5. Membaca dan menulis itu memang satu paket. Paling tidak jika berbicara tidak bisa, maka menulislah. Saya sepakat dengan kalimat terakhir, Bang! Kalau mulut sudah dibungkam, mau tidak mau yang menulis jadi satu alternatif, tapi saya juga sedang malas menulis sekarang ini, kalau pun mau nulis, juga mandeg, itu juga karena kadar membaca saya sedang menurun selama ini : (

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.