Kabar Mentari #3 – 4 Mei 2010

Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.

Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?


Sabtu, 1 Mei 2010

Pagi, saat saya meliput seminar “Mind Over Matter” di SBM ITB, pesan singkat Imoth masuk. “Ngajar jam berapa hari ini?” tanyanya. Waduh, saya malah lupa bikin janji dengan anak-anak. Untungnya, Imoth ada rencana ngajar Sosiologi sore itu, jam 4. “Saya ikut saja,” kata saya. Sore jam 4 tidak membuat janji saya dengan Imas, bubar: makan di Raffel Ciwalk jam 1. Saya pesan barbeque, dia crispy. Saya makan pesanan saya, saya cuil juga punya dia. Untungnya, dia yang bayar kali ini.

Sehabis makan dan jalan kaki menemani Imas pulang, saya menumpang Cicaheum – Ciroyom dari RSHS sampai Simpang, lanjut Ciburial – Ciroyom. Sampai di Mentari, rumah Bu Dewi sedang dipenuhi tamu: ibu-ibu muda serta anak dan suaminya. Rupanya sedang ada acara liliwetan. Mungkin keluarga atau teman lama, saya gak begitu ngerti. Belum ada Imoth, baru ada Santi. Bu Dewi segera datang ke saya, dan bilang, “Kak Arfah, temenin wartawan PR dulu, lagi duduk di depan. Ajak ngobrol. Gak enak ih, saya lagi banyak tamu juga.” Saya lihat satu laki-laki di teras depan, rambut tipis dan tegap. Saya lihat dia masih nelpon. Saya tunggu saja dari ruang tamu.

Namanya, Agus. Saya panggil Mas Agus. Kami mulai ngobrol. Tentang Boulevard, tentang Berkala. Tentang tulisan saya yang tidak dimuat di rubrik Literasi. Tentang Bu Puji yang selalu dia wawancarai via telepon jika ingin tahu data kualitas udara (Dia sempat menanyakan nomor kontak Bu Puji dan Bu Driejana, wah saya lupa beri tahu. Nanti saya tanyakan dulu nomor kontak Mas Agus di Bu Dewi, nanti saya beri kamar nomor kontak kedua dosen saya itu). Tentang Dewi FIKOM Unpad yang dulu sempat wawancarai saya soal pers kampus merambah dunia maya, dan juga ingin memberitakan Mentari setahun lalu tapi tidak jadi. Tentang Ikram yang sudah sibuk di Jakarta, dan saya lupa bilang bahwa Ikram sempat ngajar Kimia di Al-Huda.

“Apa yang melatarbelakangi Arfah memasuki dunia pendidikan non-formal?” tanyanya. Dia mulai masuk ke substansi berita, dan saya tidak bisa melepaskan nama Puti dalam jawaban saya. Saya cerita awal saya masuk Taboo, awal saya masuk Mentari. Saya agak lupa, tampaknya saya beri tahun yang salah. “Tidak ada niatan apa-apa. Semua hanya karena ingin, kebetulan ada yang ngajak. Mahasiswa yang lagi punya energi banyak. Ingin ketemu anak-anak, ingin mengajar, ingin punya kegiatan selain ngampus,” kata saya. “Pada akhirnya apa yang buat Arfah bertahan?” tanya lebih lanjut. “Karena saya senang mengajar, saya senang bersama mereka.” Dia lalu meluncurkan pertanyaan-pertanyaan filosofis, seperti saya orang yang sedang tumbuh di tengah komunitas gerakan. “Apa artinya pendidikan buat Arfah?” tanyanya. Saya bingung. “Apa ya, saya sulit kalo ditanya hal-hal yang sifatnya definitif. Saya ga begitu ngerti. Saya hanya mengerti, itu pun setelah saya terjun di sini, bahwa mereka butuh itu. Apalagi saya yang SMP 2, yang SMA 5, yang ITB, yang dapat beasiswa, mengecap pendidikan yang kata orang-orang keren. Saya lalu bingung kenapa beasiswa atau pendidikan berkualitas tidak ditujukan bagi mereka yang justru dianggap tidak pintar.” Selanjutnya dia menanyakan siapa-siapa saja relawannya, siapa-siapa saja muridnya. Bagaimana kondisi akademik anak-anak. Bagaimana UAN mereka (Saya jawab seadanya, seperti kabar yang saya dapat beberapa hari sebelumnya, dari Mbak Anug dan Kak Angga: Santi dan Melly lulus. Hani tidak lulus di Sosiologi dan Bahasa Indonesia, Anis tidak lulus di Bahasa Indonesia. Belakangan saya tahu Ceceng lulus UAN. Saya tidak bisa menjelaskan dengan baik apa itu UAN, apa saja ketidakadilan yang diakibatkannya, bagaimana ujian itu menjadi proyek besar dinas pendidikan. Saya hanya bisa mengajar, bilang saya sebelumnya. Untungnya dia menimpali, “UAN itu benar-benar kacau,” dan saya tidak merasa tidak perlu berpanjang-panjang soal ini). “Jika saja ada Puti, Mas Agus bisa dapat obrolan seru,” kata saya.

Di tengah kami ngobrol, ada anak kecil di sampingnya yang selalu ngajak dia bicara. Perempuan, mungkin usia 4 tahun. Dia anak dari salah satu tamu Bu Dewi. “Nanti ya kita ngobrol,” katanya ke perempuan kecil itu sambil senyum. Perempuan itu sudah begitu nyaman dengan Mas Agus, karena sebelum saya datang, Mas Agus mengajaknya main. Kali ini, dia sedang kerja, dan ingin kerjanya selesai. Hihihi. Belakangan, saya tahu dia sedang meliput pendidikan non-formal untuk berita yang akan dimasukkan di website Pikiran Rakyat. Dia melakukan pemetaan aktivitas tersebut di Bandung. Sebelumnya, dia ketemu dengan Bunda dan Pak Gamesh di Ciroyom. Dia pun sudah ketemu dengan Om Rahmat dan Mbak Ika di Taboo, Dago Pojok.

Anis datang. Hani juga datang. Lalu Imoth. Lalu Mbak Anug dan Kak Angga. Wah, Sabtu sore pada lengkap. Saya lalu kenalkan mereka dengan Mas Agus. Mas Agus bisa tahu, bagaimana bentuk dan rupa para pengajar yang sudah saya sebutkan namanya di tengah wawancara tadi. Mas Agus lalu jemput Mas Haekal, fotografer Pikiran Rakyat. Mas Haekal datang, foto-foto ruang hijau, yang saya baru sadari sudah tidak hijau lalu. “Sudah dari tahun lalu, Kak Arfah, kita cat ulang jadi biru gitu,” kata Bu Dewi yang akhirnya bisa ikut nimbrung setelah tamu-tamunya pulang. Di ruang belajar itu, Imoth sedang sibuk ngajar Sosiologi ke Hani. Anis yang seharusnya hari itu belajar Bahasa Indonesia sama saya, sibuk di dapur. Bantu Bu Dewi beres-beres piring dan gelas. Saya pun sedang malas. Hihihi, gak jadi belajar kita hari itu.

Sisa minum liliwetan disajikan. Kami senang. “Jarang-jarang loh Mas Agus, ada minuman gini,” kata saya sambil senyum. Sirup pakai kolang-kaling. Nikmat. Mas Haekal terus foto-foto Imoth yang sedang ngajar, sementara Mas Agus kembali wawancara Pak Lala. Belakangan saya tahu, Mas Agus sudah datang Kamis sebelumnya. Bu Dewi dan Pak Lala sudah cerita panjang lebar. Saya baru sadar, dia sempat mengkonfirmasi beberapa hal yang mungkin saya jawab beda dengan apa yang dia peroleh sebelumnya. Tak jadi soal.

Ketemu dengan Mbak Anug, Mas Agus memperoleh jawaban yang lebih emosional jika sudah menyangkut UAN. “Mbak Anug ini suka berurusan dengan birokrasi Diknas, apalagi kerjanya juga begitu, jadi lebih ganas kalo sudah bicarain UAN,” kata saya. Dia cerita dia pun punya teman yang sama dengan Mbak Anug: tidak setuju UAN. Dia cerita lebih lanjut tentang Tere, mantan penyanyi yang kini bergerak di DPR. “Dia teman saya. Dia suka mengajar. Jika nanti sesekali saya datang ke Mentari, ajak Tere sebagai individu, boleh?” “Jelas boleh, Mas. Ga usah nyanyi. Ajak anak-anak main aja. Bikin gelang atau kalung dari manik-manik atau kerajinan lain yang dia bisa. Nyanyi mah depan saya saja,” canda saya sambil ketawa.

Sewaktu Mas Haekal dan Mas Agus pulang, mendaki setapak menuju parkiran golf, saya temani. Karena saya yakin dia kenal temen-temen komunitas sastra, saya bilang, “Saya anggota Mnemonic.” Dia lalu menimpali, “Oalah, eta-eta keneh.” Kami lalu ngobrol singkat, sebab saya tidak begitu tahu banyak, soal kabar teman-teman Mnemonic. Tentang Deni. Tentang Teh Puji Bale Pustaka. Tentang ASAS. Tentang Daunjati. “Bagaimana nanti kelanjutan Mentari? Harus kalian pikirkan, kan. Tidak selamanya kalian di sana,” tanyanya. “Ya begitulah, kami terlampau senang di sini. Tapi kami pun selalu memikirkan itu, dan kami pun selalu gagal bergenerasi,” jawab saya. Mereka lalu melaju dengan satu motor, sebelumnya dia catat nomor kontak saya. Mungkin dia salah ketik atau saya salah sebut sebab missed call-nya gak nyampe.

Sekembalinya saya ke Mentari, saya jadi berpikir. “Kayaknya saya tahu nama panjang Mas Agus,” Beberapa jam kemudian saya sms satu temen Mnemonic. Dia tanya, “Ngobrol apa aja dengan Gusrak, Fah?” Oalah, saya baru yakin, Mas Agus yang wawancara siang tadi Agus Rakasiwi. Seperti Galih. **

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.