Kabar Mentari #2 – 29 April 2010

Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.

Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?

Minggu, 25 April 2010

Jika saja saya bangun lebih awal, saya pasti tiba di Mentari tepat waktu. Tapi jika pun benar begitu, saya tidak akan ketemu Bambang hari itu. Sehabis saya makan di Pagi Sore, kami jumpa. Tidak sengaja. Dia tertawa. Saya juga. “Habis dari sampling sampah,” katanya. Setelah wisuda kemarin, dia memang masih meneruskan proyek dosen. Saya tahu dari Safrul dia dibayar murah per bulan. Bagi saya, itu hanya cukup hidup seminggu lebih. Syukur-syukur bisa dua minggu. Tapi saya pun tahu betul dia orang baik. Saya tahu betul dia mengerti bahwa segala sesuatu tidak melulu duit. Dan kami sama-sama mengerti bahwa tidak baik membicarakan itu lebih lanjut.

“Saya sudah pengen nikah,” katanya. “Hayo, cepat jadi Paman Gober,” balas saya. Jika saja bisa secepatnya jadi komisaris, jadi deh. Direktur dulu tak apalah. Istri satu, istri dua, gak masalah. Nanti menikah di pulau khusus. Bulan madu di negara lain. Sudah tak kenal lintas provinsi lagi, apalagi lintas kota dalam provinsi. Sudah kaya, kita. Sudah kaya. Harus kaya. Kami sama-sama tertawa. Lama kami ngobrol sambil berdiri di mulut Jalan Kinang Pananjung, sampai dia mengingatkan saya untuk ke Mentari, juga mengingatkan saya untuk suatu sore bisa ke Ayam Merdeka. Makan bersama. Saya bersyukur bisa kenal Bambang. Saya bisa bikin daftar panjang apa saja yang membuat saya berani bilang bahwa dia orang baik, meski itu hanya soal omongan dan tandak-tanduknya dalam momen jumpa tak lama itu. Moga benar bahwa orang baik selalu diberkahi.

Di angkot Ciroyom – Ciburial, saya menyadari bahwa penumpang angkot ini selalu menarik. Hari itu, saya seangkot dengan tiga ibu yang bawa belanjaan. Bahkan satu dari mereka bawa tiga plastik besar. Saya intip, isinya puluhan sachet kopi yang bersambung, belasan susu kotak murah ukuran kecil, dan keripik-keripik lima ratusan yang biasa digantung di sisi-sisi dinding warung. Saya mengerti bahwa sang ibu punya warung di Ciburial, dan bawaannya adalah barang-barang yang akan dia jual. Saya jadi ingat, setiap kali saya naik angkot ini agak siangan, biasanya ada pemuda yang bawa keranjang biru bekas jualan tahu. Mereka adalah orang-orang yang berusaha dengan modal kecil. Seangkot dengan mereka, saya merasa sangat sejahtera. Kini, saya pun mulai berderu bersama hidup.

Saat di angkot, satu sms masuk. Dari Bu Dewi, menanyakan posisi saya dimana. Saya bilang sedang di angkot, sebentar lagi sampai Kordon. Bu Dewi hari itu ada keperluan di luar. Dia pamit lewat sms, dan berpesan buat nitip anak-anak. Sampai saya di Mentari, satu setengah jam lebih dari yang seharusnya, sudah ada Ita, Ika, Iwan dan Hardi. “Meuni lila ditungguan teh,” keluh Ita. Saya jadi merasa gak enak, mesti ia bicara dalam konteks bercanda. Maaf, kata saya. Mulai minggu depan, saya tidak boleh terlambat. Karena saya telat, Wendy sudah keburu pulang. Dia ada acara lain, kata Ita.

Ita, Ika dan Iwan masuk ruang hijau. Hardi nongkrong saja di sofa di ruang depan. Di ruang hijau, kami mulai belajar bahasa Prancis. Saya belum sempat men-download Campus 1 Mèthode de français CLE International. Jadinya, saya bawa saja buku grammaire du français. Materi di laptop pun sudah lumayan, pikir saya.

Di awal belajar, saya merasa perlu mengenalkan ciri-ciri bahasa Prancis ke telinga mereka. Saya perdengarkan mp3 orang Prancis ngomong. Saya perkenalkan pula bagaimana Celine Dion saat menyanyi dalam bahasa Prancis. Juga Carla Bruni. Penting pula rasanya mengajarkan mereka kata atau kalimat sederhana dalam bahasa Prancis. Seperti bonjour jika ingin menyapa orang lain saat siang, au revoir jika ingin mengatakan sampai jumpa, atau merci untuk berterima kasih. Susah awalnya, sebab orang Sunda seperti mereka agak rumit melafalkan f, p dan v. Repot jadinya saat membaca vous vous appelez comment? jika ingin menanyakan nama seseorang. Kita harus terus berlatih. Setiap kata mereka lafalkan masing-masing, depan saya, juga depan teman-teman mereka.

Karena mereka sudah tingkat SMA, saya jadinya mengajarkan konsep sujet atau subjek dalam bahasa Prancis. Berbeda dengan Indonesia yang hanya mengenal dia sebagai kata ganti orang ketiga tunggal siapa pun, dalam bahasa Prancis ada untuk dia laki-laki, il, juga dia perempuan, elle. Sama dengan konsep mereka sebagai kata ganti orang ketiga jamak. Dalam Prancis, ada ils untuk laki-laki semua, ada elles untuk mereka perempuan semua. Belakangan mereka mengerti bahwa saat mereka campur laki-laki dan perempuan, kita harus menggunakan ils. Konsep patriarki tidak hanya berlaku di dunia nyata, tapi juga di bahasa. Hehehe

Untuk kata kerja pertama yang saya ajarkan adalah être, to be dalam bahasa Inggris. Saya minta mereka catat dan hafalkan. Setiap kali sujet bertemu être, être akan berubah sesuai sujet yang ada di depannya: suis untuk je, es untuk tu, est untuk il/elle, dan seterusnya. “Jadi jika Ita mau bilang saya seorang pelajar, Ita bisa nulis je suis étudiante. Tapi kalo Iwan yang ngomong, nulisnya je suis étudiant,” kata saya sambil menulis di papan tulis (“Kutip dalam Prancis ditulis begini « » bukan begini “”,” kata saya. “Kakak pernah ke Prancis?” tanya mereka tiba-tiba. Maunya saya begitu). “Kenapa beda?”, tanya mereka. Dalam bahasa Prancis, konsep lelaki-perempuan, masculin-feminin, tidak hanya berlaku di sujet, tapi juga di setiap kata benda. Salah satunya kata benda “pelajar”.

Kalimat je suis atau semacamnya bisa juga diikuti dengan nama, nom, seperti je suis Ika, je suis étudiante. “Kalau mau bilang dia sopir angkot, gimana Kak?” tanya Ita sambil ketawa nunjuk Iwan. Saya bingung sebab angkot yang seperti kita kenal, tidak ada di Prancis. Tentu saja pusat bahasa mereka tidak merasa perlu kata baru untuk sesuatu yang mereka tidak kenal, seperti kata jalan layang, fly over, tidak ada padanannya dalam bahasa Prancis. Saya bilang saja, “chauffeur du taxi untuk sopir taksi atau chauffeur du transport en commun untuk sopir angkutan umum, tidak hanya angkot, tapi juga berlaku untuk bis. Kendaraan yang dipakai umum pokoknya,” jelas saya. “Lieur, etudiante we ah,” balasnya. Khusus untuk kata benda, saya berpikir, mungkin ada baiknya nanti kami belajar kosa kata sederhana, vocabulaire, baik masculin atau feminin. Masing-masing bikin daftar, sambil bermain. Bagaimana cara bermainnya, saya belum dapat ide.

Sambil saya masih menulis, saya bilang, “Sujet dan être tidak hanya bisa dilanjutkan dengan profesi, profession, tapi juga kebangsaan, nationalité.” Mereka lalu asik mengarang seperti je suis japonaise, et il est sundanais. Sama dengan profession seperti étudiant(e), nationalité pun kata benda yang menganut konsep masculin-feminin. Ada japonais, ada japonaise. Ada français, ada française. Ada indonésien, ada indonésienne. Saya bikin kolom untuk memudahkan mereka. Kolom untuk sujet, kolom untuk être. Juga sedikit daftar profession dan nationalité.

Untuk latihan, saya beri mereka soal yang saya ambil dari buku grammaire du français. Misi hari ini adalah mereka tahu bagaimana menggunakan être untuk sujet apapun. Sekalipun sujet adalah nama orang. Saya tulis soal semacam ini :

Katia ______ russe.

atau

Vous ______ Madam Dupuis? Vous ______ mon professeur?

Ruang kosong tiap soal mesti mereka isi dengan turunan être, tergantung sujet yang ada di depannya. Dari tiap soal, mereka juga mengenal kosa kata baru dan bagaimana cara melafalkannya. “Ih sama mirip kayak bahasa Inggris ya,” komentar Ita soal kata-kata dalam bahasa Prancis. Setiap soal mereka kerjakan. Satu demi satu saya panggil buat mengisi ruang kosong soal di papan tulis. Sempat bingung saat sujet-nya seperti Peter, Hugo et John. “Sujet il yang diganti nama satu orang laki-laki, sama saja dengan ils yang diganti dengan nama lebih dari satu orang laki-laki,” jelas saya, dan mereka mengerti.

Beberapa soal menarik, saya coba ke mereka. Seperti ini:

Maria et Julie ______ françaises.


Bill et moi ______ en vacances.


Tu ______ chez moi ce soir, Latika?

Dari soal pertama di atas, mereka dapat mengenal bagaimana pembentukan kata benda jamak untuk masculin dan feminin (français, française, françaises). Jika fokus pada sujet, tanpa melihat apa yang ada setelah ruang kosong (untuk sejauh ini), mereka pun dapat mengerti bukan hanya nom, profession, dan nationalité yang mengikuti je suis atau semacamnya, tapi juga kondisi, tempat berada, apa yang sedang dilakukan dan banyak hal lainnya (en vacances, sedang berlibur, atau chez moi, di rumahku). Saat mereka mengerjakan soal yang berbentuk pertanyaan sederhana, saya meminta mereka menjawabnya dengan ya, oui, dan tidak, non, sekaligus lengkapi dengan satu kalimat Prancis yang sederhana, seperti ini:

Vous êtes française?


Non, je suis allemande.

Mereka orang-orang cerdas. Mereka hebat. Saya jadi beri mereka pekerjaan rumah. Soalnya setipe dengan apa yang kami kerjakan di ruang hijau. Misinya masih sama, mengerti bagaimana kita menggunakan être untuk setiap sujet. Ada beberapa soal sujet-nya bukan orang atau nama orang, tapi benda, seperti:

La banque ______ ouverte?

Soal semacam itu membantu mereka untuk mengerti bahwa sujet bisa juga benda. Apakah masculin atau feminin, bisa dilihat article (le untuk masculin, la untuk feminin) yang ada di depannya. Suatu saat nanti kami belajar article.

Senang hari itu belajar Prancis. Saya sampai tidak memerhatikan anak-anak lain mulai datang. Ada Santi, Hani, Anis, Maman. Anis datang dengan pacarnya. “Cinta lama bersemi kembali,” kata Santi. Ada Siti, Yani, dan sepupu Yani bernama Dewi. Ada rombongan Ipah, Icha, Tata, Anti dan 4 anak kecil, mungkin baru kelas satu atau dua. Karena saya masih ngajar Prancis saat itu, Anti dan Icha mengajar 4 anak kecil di papan tulis di ruang depan. Sehabis Prancis, Icha pengen belajar Prancis juga. “Kenapa gak ikut yang tadi?” tanya saya. “Orang gede itu mah, Kak,” jawabnya. Saya jadinya ngajar Prancis lagi. Selain Icha, ada Anti, Ipah dan Tata juga. Karena mereka masih kelas 6 SD dan 1 SMP, saya hanya mengenalkan beberapa kosa kata Prancis dan bagaimana cara melafalkannya. Mereka aktif. Saya bikin saja mereka saling berinteraktif. “Bonsoir, Anti” atau “Merci beaucoup, Icha” . Mereka ketawa tiap melihat dan mendengar Tata ngomong. Mulutnya monyong, dan Sunda dia masih sangat kental. Saya senyum-senyum saja.

Teh Nur datang ke Mentari. Minggu lalu dia memang kontak saya ingin datang. Mau memperkenalkan sepupunya ke saya, yang belakangan saya tahu namanya Teh Reni. Dua minggu lagi, Teh Reni mau ikut tes Akademi Perawatan. “Dua tahun terakhir saya ikut tes SNMPTN, pilih Unpad, gak lulus. Sekarang mah Akper aja. Jadinya minta Kakak ajarin,” katanya. Selain Matematika, ada IPA Terpadu, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang akan ia kerjakan di tes masuk nanti. Saya bilang, Teh Reni bisa ikutan belajar sama anak-anak yang mau SPMB. Ada Hardi, Santi dan Hani. “Materinya pasti gak jauh beda. Rencananya mereka mau belajar tiap sore. Nanti Teh Reni kontak Bu Dewi aja, nanya jadwal benernya kapan. Saya sendiri hanya bisa ngajar Sabtu atau Minggu,” jelas saya.

Teh Nur sendiri sudah fokus jadi pengajar Taman Kanak-Kanak di Ciburial. Dia sempat ikut belajar Matematika di Mentari, untuk ngejar ujian Paket C. Waktu itu, Teh Nur rajinnya minta ampun. Tiap hari saya mau ngajar, dia udah nongkrong lebih dulu. Dia ikut belajar di kelas persiapan UAN tahun lalu, bersama 2 anak SMA Al-Burhan, saya lupa namanya. Mereka lulus dan katanya mau traktir saya ngebakso, belum jadi-jadi. Sekarang dua anak itu kerja di toko baju di Ciwalk. Salah satunya adik Pak Lala. Saya gak menyangka, belajar sore sampai maghrib itu sudah setahun yang lalu. Wah, makin tua ya saya. Hehehe. Alhamdulillah, sekarang Teh Nur sudah punya ijazah SMA. “Kak Arfah katanya mau ikut bacaan cerita buat anak-anak di TK saya, mana atuh, ditungguin teh?” tagihnya. Saya jadi malu.

Sore itu, Teh Reni ikut belajar. Kebetulan Yani, yang sedari tadi diam saja, ternyata punya PR Matematika. “Sekalian kalo begitu, ama Teh Nur buat ingat-ingat lagi,” kata saya. PR Yani tentang deret aritmatika dan barisan geometri. Juga barisan geometri tak hingga. Hardi beri saya buku latihan soal yang dilengkapi materi. Saya baca sebentar, lalu ngajar. Saat belajar rumus Sn, saya iseng. Saya kerjai mereka. Coba cari S1, S2, S3 atau S4 yang sebenarnya dapat diperoleh dengan hanya menjumlahkan deret yang tertulis, tapi mereka gak tahu. Saya minta mereka mencarinya lewat rumus. Belakangan mereka kesal setelah tahu ada cara yang lebih mudah. Saya pikir baik juga isengin mereka, agar tahu bagaimana memakai rumus Sn, mengerti konsep Sn, dan biasa berhitung. Hari itu, setelah konsep dan rumus aritmatika dan geometri selesai dipelajari, sekaligus mengerjakan 4 soal, kepala sudah panas. Mereka ijin pulang. Saya bilang ke Teh Reni untuk datang sore-sore saja, biasanya ada yang belajar. “Kontak Bu Dewi dulu,” kata saya. Dua minggu menuju tes Akper sebentar lagi.

Hari itu, saya pulang sama Santi dan Hardi. Saya ngobrol sama Hardi soal kerja dia, tentang rencana dia masuk politeknik. Polman dekat, bisa juga jadi pilihan, kata saya. Santi sendiri sudah semangat ingin kuliah di perfilman STSI. Dia bahkan sudah bertanya, “Dari sini kalo mau ke Buah Batu, naik apa aja, Kak. Ongkosnya berapa, Kak ?” Mereka penuh semangat. Senang jika nanti melihat mereka bisa kuliah. **

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150185989235401

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.