Kabar Mentari #1 – 24 April 2010

Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.

Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?

Minggu, 18 April 2010.

Saya tiba di Mentari sekitar jam 10.30. Sudah ada Ika yang lagi temenin si kembar menggambar. Ada Jeje yang lagi ngambek minta jajan. Ada perempuan kecil juga yang belakangan saya tahu namanya Pia, kelas dua SD. Begitu saya datang, Ika pergi ke rumahnya ambil buku matematika. “Ada PR,” katanya. Habis itu saya kelimpungan. Saya ajari Ika trigonometri, saya beri soal perkalian dua dan tiga untuk Jeje dan Pia. Untung si kembar tidak ikut nimbrung. Mereka sibuk sendiri, entah bikin apa. Saya ketemu Bu Dewi dan Pak Lala, akhirnya. Mereka senang saya kembali, saya pun senang bisa mengajar lagi. “Kerja di sini, cari istri di sini juga,” kata Bu Dewi sambil tertawa. Saya amin saja.

Ada murid datang satu lagi. Belakangan saya tahu Ita namanya. Setingkat sama Ika, kelas satu SMA. Tapi beda sekolah. Karena Ita datang di tengah kami belajar trigonometri, Ita jadi ikut saja. “Sin cos ini mah dilewat sama guru, jadi saya ga ngerti,” kata Ita saat saya menjelaskan sin yang depan per miring. Saya jadi merasa perlu menjelaskan tentang total jumlah sudut dalam segitiga. Kebetulan ada soal di buku Ika tentang itu. Kami jadinya belajar menghitung salah satu sudut segitiga jika dua sudut lainnya diketahui besarnya. Saya lalu mengenalkan konsep segitiga siku-siku yang punya sudut 90 derajat, konsep garis yang punya sudut 180 derajat. Saya visualisasikan dengan kedua tangan saya.

Kami lalu belajar bagaimana mencari nilai sisi vertikal segitiga siku-siku jika nilai sisi horisontalnya diketahui, dan nilai sudut di hadapan sisi vertikal juga diketahui. Saya mengajarkan bagaimana menggunakan tangen untuk solusinya. Untuk mencari nilai sisi miring, menggunakan cosinus. Saya beri mereka segitiga lain dengan nama-nama sudut yang berbeda dibandingkan soal sebelumnya yang menggunakan ABC. Saya beri segitiga PQR. Saya beri segitiga xyz. Juga simbol sudut yang berbeda. Kadang beta, kadang gamma, kadang saya cuma beri tahu bahwa sudut RPQ 30 derajat. Saya mengerti jadinya bahwa perubahan simbol sudut atau nama sudut sangat penting, agar mereka tahu bahwa itu hanya sebatas nama dan konsep trigonometri tetap berlaku untuk segitiga siku-siku mana pun.

Di tengah kami belajar, Bu Dewi mengenalkan Wendy. Seperti nama perempuan yang “diculik” Peter Pan. Tapi yang ini laki-laki, kelas satu SMA di ICB, ambil Tata Boga. Wendy datang sama bapaknya. Mereka tinggal di dekat Wale. Tak berapa lama datang Mbak Anug dan Kak Angga. Menyusul juga anak-anak Mentari, seperti Ipah, Tata, Siti, Yani, Sri, dan satu anak perempuan yang saya lupa namanya, manis dan aktif. Hifna gak datang. Lagi sibuk cari buku katanya. Dia memang sempat sms saya, menanyakan buku Santun Berbahasa dijual dimana. Ke Palasari saja, saya bilang.

Saya sempet ngobrol dengan Sri. Dia bilang, “Sudah delapan bulan, Kak.” Walah, perutnya gak keliatan besar. Seperti hanya terlihat buncit para lelaki tua. Apalagi dia masih loncat sana-sini. Semoga Sri diberkahi, anaknya juga nanti diberkahi. Sehat selalu. Oiya, Kak Angga mesti diingatkan agar ijazah SMP Sri segera diberikan. Tinggal cap jempol. Nanti kalau dia sudah punya bayi, pasti susah lagi cari waktu. Hayo, Kak Angga, semangat!

Karena anak-anak sudah banyak, guru-gurunya sudah lumayan lengkap, saya, Ika, Ita, dan Wendy masuk ke ruang hijau. Saya pinjam spidol Pak Lala. “Saya perlu lagi beli spidol kayaknya,” pikir saya. Anak-anak kecil main sama Mbak Anug. Pak Lala dan Kak Angga sibuk benerin komputer. Maman yang juga ada sibuk menggambar.

Wendy juga baru melihat trigonometri, seperti Ita. Saya jadinya mesti jelaskan dari awal. Tapi main di tataran konsep rumus, tidak mengerjakan soal berangka. Saya gambar segitiga siku-siku, saya tulis bagaimana caranya kita mengetahui rumus sin dan cos. Tan bisa jadi merupakan turunan dari sin dan cos. Saya lalu kenalkan sekalian cosec, sec, dan cotan. Tapi saya tekankan bahwa itu semua hanya turunan dari sin dan cos. “Kalo kalian sudah hafalin sin dan cos, semua rumus trigonometri pasti bisa,” kata saya. Kami coba mengerjakan beberapa soal penyederhanaan trigonometri. Agak rumit bagi mereka karena perlu pula mengetahui cara penyederhanaan trigonometri jika sudutnya melebihi 90 derajat. “Kak, yang kolom rumus ini perlu dihafalin ya?” tanya Ika sambil menunjuk rumus-rumus trigonometri untuk sudut lebih dari 90 derajat, seperti cosec (180 – A), di LKS Ita. “Gak perlu,” kata saya. Ada caranya untuk menghafalkan itu lebih mudah. Saya lalu mengenalkan konsep kuadran I sampai IV. Saya lalu memberitahu kapan sin cos tan bernilai positif, kapan negatif. Saya bilang, “Kalian hanya perlu menghafalkan rumus sin cos tan untuk kuadran I, selebihnya sama saja, yang terjadi di kuadran lain hanya perubahan tanda positif-negatif. Untuk cosec sec dan cotan tidak perlu hafal, itu hanya turunan sin cos tan,” jelas saya.

Setelah saya membantu Wendy menghafalkan nilai sin cos tan untuk sudut-sudut istimewa, yang diilhami oleh Kak Angga, (“Cukup hafalkan nilai sin, itu pun nilainya naik secara teratur seiring besar sudut. Untuk cos kebalikan dari sin. Kalau tan, memang harus dihafalkan,” kata Kak Angga), saya lalu beri lima soal trigonometri untuk sudut-sudut lebih dari 90 derajat tanpa harus melihat daftar rumus di buku. Wendy hanya benar satu, Ita juga. Ika cemerlang, nyaris betul semua. Mereka mengeluh, nyeletuk pengen pulang. “Ih, Kakak mah pikasebeleun,” kata Ita. Saya memang tidak mengijinkan mereka pulang jika soal tidak dikerjakan dulu. Hihihi. Kepala mereka tampaknya sudah panas. Saya akhirnya mengijinkan pulang meski saya yakin mereka belum mengerti. Saya juga salah, memberi mereka materi trigonometri terlalu banyak hari ini. Untuk minggu depan, saya merasa perlu memberi mereka materi yang sama. Saya perlu mengingatkan mereka lagi soal trigonometri sampai saya yakin mereka benar-benar mengerti.

Sehabis Wendy, Ika, dan Ita pulang, saya dan Mbak Anug makan empe-empe buatan Bu Dewi. Terima kasih, Bu! Sesekali Maman ikut ngembat. “Lapar, Kak,” katanya. Hihihi. Maman seringkali mendekati saya jika saya lagi sendiri, minta uang buat makan. Saya merasa tidak boleh memberi dia uang. Saya memilih untuk mengajaknya jajan. Dia beli roti, saya beli keripik. Imot yang belakangan datang, nitip beli pering buat dimakan bersama. Oiya, ada Santi juga datang. Dia dapat oleh-oleh dari Kak Angga bisa memotret-motret. Kak Angga bawa kamera temannya. Sepanjang kami di Mentari, Santi sibuk motret sana-sini. “Saya mau jadi sutradara,” katanya. Mbak Anug merencanakan dia kuliah di perfilman STSI Buah Batu. Biaya SPP di sana Rp 500 ribu. Biaya masuknya tidak sampai Rp 1,5 juta, itu sudah termasuk SPP semester 1. Apalagi, kami dapat info, hampir 90% mahasiswanya dapat beasiswa. “Anis dan Hani ke mana?” tanya Mbak Anug melihat Santi yang tumben datang sendiri. Anis gak tau kemana, kalau Hani lagi sakit kaki, katanya. Mereka lagi deg-degan tunggu hasil UAN. Moga semuanya lulus, lancar. Amin.

Sebelum kami pulang, sekitar jam 4 sore, saya, Mbak Anug, Kak Angga, dan Imot ngumpul ngobrol sama Bu Dewi dan Pak Lala. Bu Dewi cerita soal Hifna yang sekarang jadi guru pujaan anak-anak. Dia mengajar sore, Selasa dan Kamis. Anak-anak senang, dengan syarat mesti bawa bekal tiap kali belajar. Masuk Mentari jam 4 sore, tapi banyakan denger Teh Hifna curhat. Setengah jam sebelum jam enam, baru belajar. Haha. Kadang Teh Hifna bikin kuis-kuisan seperti Missing Lyric, kadang masak mie bareng, walau akhirnya Teh Hifna dapat 4 mangkuk. Jelas anak-anak senang, maen bersama guru. Hahaha. Teh Hifna khusus mengajar Bahasa Indonesia dan IPS. Ika juga pengajar anak-anak. Berbeda dengan Teh Hifna, Teh Ika lebih serius. Dia menangani matematika. Senang, akhirnya Mentari bisa bergenerasi. Semoga terus lanjut. Saat saya dan pengajar pulang, Santi ikut. Dia dan Mbak Anug mau beli bahan-bahan untuk prakarya. Mungkin untuk minggu depan.

Oiya, saya ingin mengajarkan bahasa Prancis. Baik juga untuk saya, untuk terus belajar. Kelasnya dibuka tiap minggu jam 09.00, mulai minggu depan, di Mentari. Saya perlu menyiapkan modul Campus 1 CLE International. Masalahnya modul saya ketinggalan di Tangerang. Saya harus mencarinya lewat internet, nanti di kampus.

Lupa, satu lagi. Dendi datang dengan pacar barunya. Lama gak keliatan, dia jadi tampak keren. Pake bando hitam, rambut gondrong. Dia sudah dapat kerja, jaga warnet depan BIP. Dia datang mau pinjem duit. “Buat bayar cicilan motor,” katanya. Mintanya ke pasangan Kak Angga dan Mbak Anug, karena dia tahu saya dan Imot belum punya penghasilan. Si penagih meminta satu bulan lebih awal pelunasan motor dari yang pernah dia sepakati dengan Dendi. Dendi kelimpungan. Dia mau pinjam limaratus ribu, tambahin gaji jaga warnetnya, buat genapin sejuta untuk bayar cicilan terakhir. Masalahnya, Kak Angga habis kecelakaan. Duit tinggal sisa-sisa, kehisep buat biaya rumah sakit. Bahkan dia sekarang tidak bermotor. Untungnya, Dendi mengerti. Dia akan cari upaya lain. **

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150182894755401

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.