Jendela-Jendela

Ada yang bilang bahwa hidup dimulai dari langkah pertama manusia di muka bumi. Karena itulah ada budaya di negeri ini dimana seorang bayi akan dilehat untuk menjejakkan kakinya di tanah. Sebuah ritual yang saya temui baik itu di daerah asal Aceh sana, juga di pulau Jawa ini. Mungkin cuma sebuah ritual saja. Bentuk kebahagian karena sang bayi hadir meramaikan keluarga besar.

Bagi saya, selain ritual langkah pertama tersebut, ada juga asesoris lain yang menjadi bekal saya berjalan atau berlari di muka bumi ini. Yaitu jendela. Tidak terlalu filosofis, cuma karena alasan sederhana. Saya pernah terjatuh dari jendela.

Dari semua memori paling awal, istilah kata jika ingatan saya sebuah hardisk komputer, maka file instalasi pertama yang menempel disana adalah kenangan terjatuh. Jatuh dari jendela. Entah bagaimana, saya masih jelas mengingat saya merangkak, memanjat sebuah kursi, lalu naik ke atas meja disampingnya. Dan kebetulan sekali meja itu tepat dipinggir jendela samping rumah. Lalu saya melanjutkan rasa penasaran ke tepi jendela, ada apa di balik jendela itu. Sialnya, jendela itu terbuka lebar, dan terlalu lebar untuk anak sekecil saya yang masih limbung. Saya pun tersungkur keluar jendela. Tidak jelas teringat bagian tersungkur ini seperti apa, yang pasti saya menangis.

Pasti ibu atau nenek saya menyadari tangisan saya. Sekarang saya cuma bisa membayangkan, kalau saat itu, pastinya dua wanita ini kebingungan mencari saya ada dimana. Tangisannya keras. Tapi makhluknya tak ada. Saya yakin mereka butuh waktu melacak asal suara tangisan itu.

Sekali waktu saya pernah bertanya kepada ibu saya, apakah masih ingat dengan peristiwa itu? Beliau menjawab, “Mamak tidak ingat. Terlalu banyak kecelakaan menimpa dirimu pas kecil dulu.” Ya juga sih. Saya pernah jatuh ke jendela untuk kedua kalinya, juga pernah memecahkan meja kaca dengan tangan saya, juga pernah memasukkan crayon kecil ke hidung saya, dan banyak lagi. Memang terlalu banyak untuk diingat beliau yang punya 3 anak lelaki.

Kisah jendela itu pernah terjadi kedua kali ketika saya sudah lebih besar. Yang kedua, sampai meninggalkan bekas memanjang di paha saya, karena dibalik jendela itu sudah dikapling kawat berduri oleh tetangga saya.  Uniknya, saat itu saya tidak menangis walau pun terluka. Malah berkolaborasi dengan kakak saya untuk tidak cerita ke ibu. Terlalu takut dimarahi soalnya. Kakak perempuan yang berbeda setahun umurnya dengan saya, dengan sigap menjadi suster. Mengendap-ngendap mengambil “obat merah” (dulu belum ada istilah Betadine), air dan kain. Lebih hebat lagi, sempat-sempatnya dia meramu obat luka seperti yang biasa nenek saya ramu (nenek saya punya ramuan obat untuk luka, ilmu yang dia dapat dari sisa zaman Jepang). Alhasil saya bersih dari luka. Berhasil tidak ketahuan oleh ibu, langsung jadi anak baik, tidur siang. Selanjutnya yang saya ingat, tengah malamnya satu rumah panik, saya demam akibat infeksi.

Bukan cuma pas kecil, jendela juga sering menghiasi kisah-kisah saya selanjutnya. Dulu, pas SD saya lebih suka duduk paling belakang dekat jendela. Alasannya juga sederhana, lebih adem. Selain itu saya punya fantasi aneh. Saya percaya jendela adalah “pintu darurat” manakala ada gempa, kebakaran, atau ada serangan dari bandit-bandit. Pintu yang cuma satu-satunya di kelas, pasti akan jadi sangat sempit ketika semua murid dan guru berebutan keluar.

Saya juga  senang dengan hamparan jendela-jendela di SMP saya dulu. Sebuah bangunan tua zaman Belanda. Sekolah itu memiliki jendela-jendela yang tinggi dan besar. Kayunya kokoh menjulang 3 kali tubuh saya. Kayunya solid, tidak terlihat lapuk, hanya cat-nya saja yang megelupas dan sering berganti warna. Padahal jendela itu sudah ada disana sejak tahun 1922. Keakraban saya dengan bangunan itu berlangsung lebih lama dari semua bangunan yang saya temui hingga saat ini. Karena Ibu saya mengajar disana, jadilah sekolah itu tempat bermain saya sepulang dari SD. Taman bunga di bawah jendela-jendela itu sering jadi tempat saya bermain. Kadang sambil mengganggu murid-murid SMP yang sedang belajar,  yang duduk di samping jendela. Justru seringkali mereka yang doyan diganggu oleh saya.

Di jendela-jendela SMP itu pula pernah hati terpaut. Kadangkala ada bidadari manis disamping jendela, yang hanya bisa dilihat ketika saya melewati ruang kelas mereka. Dari jendela-jendela itu pula ada kisah-kisah ribut saling serang antar kelas. Atau sebuah kisah tragis patah hati  ketika pak pos tak resmi mengantar surat putus lewat jendela kelabu itu.

Ketika SMU pun sama, lagi-lagi jendela menjadi cerita. Sekolah berasrama, jendela di asrama dan juga di kelas. Dan asrama tanpa banyak jendela tentunya tidak sehat. Sialnya, jendela kadang jadi masalah bagi sebuah asrama. Jika bangun pagi, dan saya lupa membuka jendela sebelum berolahraga pagi, maka bersiaplah mendapat olahraga tambahan. Tetapi jendela-jendela itu juga bisa  bersahabat dengan laki-laki muda di dalamnya. Bagaimana dari jendela-jendela itu bisa melihat jalan kecil depan asrama dipenuhi gadis-gadis muda yang manis dari asrama perempuan sedang berjalan kaki. Selain bersahabat, juga bisa mengerikan. Ketika dari batas jendela yang jauh di asrama kakak kelas, bisa terlihat teman yang dimarahi dan dikerjai. Lebih sadis lagi jendela-jendela di ruang makan asrama. Pertempuran batin dan mental tersendiri berada di ruang itu bersama senior, padahal cukup banyak jendela disana bisa dipakai untuk melarikan diri.

Dikehidupan selanjutnya jendela-jendela tidak banyak menghiasi hidup saya. Tetapi mereka masih sering datang dan muncul begitu saja. Kadang merepotkan. Kadang menyenangkan. Misal ketika jendela itu minta untuk dibungkusi tirai, dan saya paling malas berkompromi dengan tirai. Lalu kemudian mulai privasi saya terganggu karena tak ada tirai buat mereka. Seandainya saja jendela-jendela itu mengerti bagaimana membungkus diri mereka sendiri.

Bukan cuma soal bungkus dan tirai, menutup jendela pun bagi saya bukan perkara yang gampang. Kadang saya biarkan jendela terbuka berminggu-minggu, berbulan-bulan. Bukankah tugas mereka untuk terbuka dan tertutup, bukan tugasnya saya. Kompromi ini kadang semakin sulit hari ke hari.

Kisah jendela terakhir yang saya ingat, ketika masa-masa sulit sebelum saya keluar dari kampus saya. Dosen saya yang baik itu memberikan pertanyaan yang entah bagaimana justru lagi-lagi soal jendela. Beliau bertanya, “Kamu silahkan pilih. Keluar dari kampus ini dari pintu? Atau jendela?”  Saya tidak menjawab. Tetapi beliau tahu bahwa saya memilih jendela.

Sekian banyak kisah jendela yang saya punya, namun saya yakin itu belum seberapa. Saya cuma bisa menikmati, mengagumi, bersahabat atau bermusuhan dengan mereka. Saya masih merasa iri dengan tukang-tukang kayu dan tukang bangunan. Mereka bisa membuat jendela-jendela itu hadir dikehidupan saya. Walaupun saya tidak pernah kenal seorang pembuat jendela pun di muka bumi ini, anehnya saya hidup dengan karya-karya mereka disekeliling saya. Kurang pasti, apakah tukang-tukang itu juga memikirkan hal remeh temeh jendela ini ketika mereka membuatnya? Tentang, bagaimana si jendela buatan mereka hadir membingkai kisah manusia lainnya? bagaimana jendela-jendela itu membatasi penglihatan bagi kisah-kisah manusia yang ada dibaliknya?

Melihat jendela sebagai bingkai, tentunya bingkai yang indah membuat gambar semakin indah. Jendela adalah juga ukiran dan fisika. Dua daun atau satu daun adalah sama. Tidak berbeda bagi sebuah jendela. Ukiran sebagai keindahan, statiska sebagai wujud keseimbangan.

Sebuah rumah bersejarah di Amerika, dikenal dengan nama Robie House, memiliki jendela yang sangat indah. Frank Lloyd Wright pembuatnya adalah arsitek terbaik dalam sejarah Amerika. Jendela buatan Frank Lloyd tidak hanya persoalan ukiran dan fisika arsitektur, tetapi juga trademark sebuah laku budaya. Ada nafas perubahan dalam desainnya yang menggambarkan transisi dalam sejarah arsitektur Amerika. Seperti juga semangat perubahan Amerika untuk maju digdaya di awal abad ke 20.

Jendela mungkin cuma sebuah bingkai dan persinggahan bagi manusia diantara proses kehidupan yang terus melaju dan berubah. Saya mengalaminya sepanjang hari, bulan dan tahun. Tidak mungkin tidak untuk bersama bingkai-bingkai ini sepanjang hidup saya. Entah itu ukirannya yang buruk dengan gambar yang spektakuler, entah menyebabkan sebuah luka karena terjatuh, atau memberi haru biru walaupun bingkainya menawan.

Bagi saya, umur seperti ukirannya, dan hidup adalah gambar di dalamnya.

“The longer I live the more beautiful life becomes.” – Frank Lloyd Wright

7 Comments

  1. dua tahun lalu saya jg menyelamati ultah diri sendiri dg postingan jendela. ah, aries ini memang berbahaya :))

    Reply

  2. ini kutipan kafka yg sangat saya suka: “May I kiss you then? On this miserable paper? I might as well open the window and kiss the night air.”

    :))

    Reply

  3. ahh, ternyata jendela itu mempunyai banyak makna.. Tak sekedar untuk “mengintip” tapi juga untuk bercerita

    Reply

  4. hai jal, ketemu lagih nih kita…

    sampai sekarang saya agak kurang nyaman dengan jendela.

    dulu waktu masih kecil saya pernah melihat hal-hal “aneh” lewat jendela, dan detilnya masih saya ingat sampai sekarang.

    sempat beberapa lama saya ga pernah berinteraksi secara khusus dengan jendela. tapi sekarang tidak lagi.. saya jadikan jendela sebagai tempat nongkrong berjam2 saat menerima telepon dari sang pacar nun jauh di sana, hehehe…

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.