Berteman (lagi) Dengan Bencana

Ketika dulu saya kuliah Geologi Dasar “101”, dosen saya yang kecil dan lucu itu selalu mengijinkan open book untuk ujian. Dan nilai kuliah harian, hanya dilihat dari absensi dan presentasi. Namanya mahasiswa, kadang malas mendera, absen pun bisa dititipkan. Presentasi? Serahkan saja pada yang rajin dan jago bicara. Hasilnya, 90% kelas bisa lulus dengan nilai A. Padahal, jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini bisa mencapai 300 orang pertahunnya. Karena Geologi Dasar adalah mata kuliah wajib bagi 3-5 jurusan ilmu kebumian.

Itu dulu. Ketika saya dan teman-teman kuliah hanya melihat ilmu ini adalah hanya sekedar bagian dari prestasi mengejar kelulusan.

Tahun 2004, sebuah bencana paling besar di abad ilmu modern terjadi. Gempa yang disusul tsunami membawa korban jiwa dan kerusakan luar biasa hingga 3 benua. Jumlah korban jiwa mengalahkan jumlah korban bom atom Jepang yang mengakhiri perang dunia II. Dan kemudian semua orang seperti diajak berpikir, ada apa dengan bumi ini? Apakah bumi “mulai” marah dengan polah manusia?

Bumi tidak pernah marah. Sedari dulu memang demikianlah bumi kita beraktifitas. Coba saja perhatikan gambar berikut, bagaimana hanya dalam satu minggu bisa tercatat beberapa gempa dimuka bumi ini.

Warna Merah : Gempa sejam terakhir
Warna Biru : Gempa hari ini
Warna Kuning : Gempa minggu ini

Gempa Dunia Dalam Seminggu Terakhir

Justru kalau diingat-ingat, kita lah manusia yang berjalan di atasnya ini sering menyakiti “ibu bumi”.

Setelah tsunami besar itu, banyak ilmuwan dan profesor kelas dunia, turut bersuara. Suara mereka seperti mengajarkan ilmu baru buat umat manusia. Padahal, sudah sejak lama mereka terjun di keilmuwan dan penelitian mereka, mencoba memberi “warning” bahwa manusia selalu dekat dengan bencana. Tapi sekali lagi, dulu, suara mereka tidak didengar. Seperti saya dan teman-teman mahasiswa kelas Geologi Dasar itu, melihatnya hanya sebagai angin lalu. Padahal tanah Indonesia yang kita pijak ini, selalu, dan dari dulu adalah kawasan yang tidak lepas dari bencana gempa, longsor, gunung berapi atau pun tsunami.

Tsunami Aceh – Nias, gempa Yogyakarta, gempa Jawa Barat, dan terbaru, gempa di Sumatra Barat, juga bencana gempa lainnya kecil atau besar, membuktikan bahwa kita dekat dengan bencana. Paling tidak, kita sebagai warga negara indonesia harus sadar bahwa kita dekat dengan bencana yang tidak pernah bisa kita lawan. Tetapi perlu diingat. Tidak bisa melawan, bukan berarti harus takut. Seharusnya kita mulai merenungkan diri, bagaimana caranya bersahabat dengan bencana tersebut.

Skala goncangan gempa atau pun jumlah korban, hanyalah hitungan statistik. Hanya menjadi pembanding, seberapa parah satu bencana dengan lainnya. Seberapa banyak bantuan harus diturunkan ke lapangan. Di zaman yang sudah semakin maju teknologi seperti sekarang, sudah tidak sulit untuk mengkalkulasi kerusakan, korban atau pun jumlah kantung darah yang dibutuhkan oleh kawasan tertimpa bencana. Tapi tetap kita belum bisa memprediksi kapan bencana itu terjadi. Saya justru miris mendengar ulasan di media TV yang mempertanyakan “kapan bencana terjadi” atau lebih parah lagi membahas “bagaimana melawan bencana”.

Kalau kita jeli, semua mitos yang ada di nusantara mengajarkan kearifan lokal bahwa kita memang dekat dengan bencana. Dari cerita Naga dan Raksasa di ujung barat-selatan Aceh, dongeng danau Toba,  dongeng Tangkuban Perahu, dan entah berapa banyak lagi cerita-cerita mitos serupa, disana bisa kita berkaca bahwa ada cerita sebuah bencana di masa lalu tepat di kawasan tersebut. Percaya atau tidak, Gunung Tambora dan Danau Toba saja pernah diteliti sebagai sejarah ledakan terbesar dalam peradaban manusia.

Ingat cerita bagaimana pulau Simeulue yang paling dekat dengan titik tsunami 2004 lalu bisa menghindarkan banyaknya korban jiwa? Kalau tidak salah ingat hanya belasan saja yang menjadi korban, dan itu pun orang-orang yang sedang melaut dan orang-orang tua yang sudah tidak kuat berlari. Warga pulau itu masih memahami sebuah mitos nenek moyang tentang bumi yang berguncang sebagai tanda datangnya “makhluk jahat”, “air bah”, atau “bala” (bencana) dari arah laut. Mereka menyebut mitos ini sebagai “smong”. Smong menjadi bentuk kewaspadaan warga tersebut. Dan kearifan lokal itu menjadi media mitigasi yang sangat ampuh.

Mungkin cerita warga pulau Simeulue itu tidak bisa disamakan dengan bencana-bencana lainnya. Tetapi satu hikmah penting di sini harus mulai kita pahami. Bahwa, kita memang dekat dengan bencana. Ada baiknya kita belajar untuk bersahabat dengan bencana itu. Tidak perlu dilawan. Tetapi pahamilah bagaimana menyikapinya, belajar mempersiapkan diri ketika bencana datang, sekaligus menyiapkan segala supra dan infra-struktur di kawasan kita yang rawan bencana.

Sederhananya, coba kita lihat, bagaimana mengakomodasi bantuan secara efektif ketika bencana datang. Model-model mitigasi bencana harus dirancang di semua kawasan yang memang rawan bencana. Disini perlunya keterlibatan aktif pemerintah dan masyarakat untuk membuat blueprint, cetak biru mitigasi sebuah kawasan yang rawan bencana. Tidak hanya skala fisik saja -ini pun kita masih kurang, tapi juga mencerdaskan “kembali” masyarakat untuk berteman dengan bencana.

Kalau saya boleh berseloroh, “memahami rawan bencana itu harusnya seperti memahami pacar. Harus tahu, tanda-tandanya si dia mulai kesal, kenali perilakunya ketika marah, sampai mengatur strategi bagaimana berdamai setelah ribut-ribut terjadi”.


Artikel ini sebagai bentuk turut berduka cita untuk semua korban bencana di Indonesia

4 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.