Kesederhanaan Politik

Dari_resist_book

Sebagai pembuka, saya ingin berkata jujur, bahwa pemahaman politik saya kurang. Bahkan untuk mendefinisikan arti “politik” sendiri saya tidak mampu menuliskannya. Saya merasa itu merupakan hal yang wajar. Toh, saya tidak pernah belajar ilmu politik secara teoritis. Hanya memahaminya sebagai proses, dan mungkin sedikit keterlibatan kecil dalam sebuah arti politik.

Hari ini, secara mendadak saya diminta (lebih tepatnya ditunjuk) oleh sekelompok teman-teman “bermain” saya di Bandung, untuk mewakili pertemuan di sebuah SMU swasta. Iya. Saya diminta mengikuti rapat wali murid atas 3 orang anak. Kebetulan 3 siswi kelas 3 SMU tersebut berada dalam asuhan kegiatan belajar non-formal yang diselenggarakan teman-teman saya di Bandung. Sedikit penjelasan tentang kegiatan “non-formal” tersebut, kegiatan ini merupakan kegiatan mandiri yang sudah dikelola sejak lama oleh beberapa teman saya (dan saya juga kadang-kadang ikut serta), sebuah kegiatan yang amat sederhana. Sekedar pendampingan belajar non-formal bagi anak-anak yang putus sekolah, sekaligus mencarikan bantuan dana sekolah bagi beberapa diantara mereka yang berkeinginan menyelesaikan sekolah formal. Kami menamakan kegiatan kami tersebut “Rumah Mentari”. Adalah @warnapastel yang mengenalkan saya dengan kegiatan ini beberapa tahun lalu.

Dan jam 9 pagi tadi, saya bergegas ke sekolah tersebut. Saya mendapat telpon ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Ternyata rapat sudah bubar ketika saya datang, tapi saya harus tetap kesana. Ada titipan beberapa peralatan sekolah untuk awal semester yang harus saya berikan kepada mereka. 

Ada rasa kecewa karena saya telat. Perkiraan awal saya tadi, rapat ini pasti masih akan berlangsung lama. Bayangan saya seperti rapat-rapat wali murid ketika saya SMP dulu di Aceh. SMP saya memang favorit di kota Banda Aceh, sekaligus masuk dalam kategori ternama untuk Propinsi NAD. Kalau sudah rapat, kegiatan belajar mengajar dihentikan, walau sekolah tidak diliburkan. Saya dan teman-teman bisa bermain seharian, ngantin, pacaran, bahkan cabut keluar sekolah seenak perut. Entah apa yang orang tua/wali murid bersama pihak sekolah rapatkan, kami tidak perlu ambil pusing. Toh, sekolah adalah sebuah kegiatan rutin seorang anak, demikian pikiran saya dan teman-teman dulu.

Dua adik asuh kami ini, rupanya menunggu saya dipinggir jalan. Saya diberitahu soal rapat yang berlangsung. “Tadi yang datang juga ngga rame kok, Kak. Ibu Dini-nya juga masih nunggu di sekolah kalo-kalo ada wali lain yang nyusul datang”, begitu penjelasan salah satu adik asuh kami itu, Santi namanya.

Saya bisa membayangkan “rapat” yang dimaksud Santi ini seperti apa. Cukup menenangkan saya akan rasa bersalah terhadap mereka karena telat menepati jadwal undangan rapat. Seorang lagi yang ikut menunggu saya tadi bernama Nisa.

Mereka menunggu saya di ujung sebuah gang. Kemudian saya diajak memasuki gang tersebut. Pikir saya bertanya-tanya, SMU seperti apa yang berada disebuah gang perumahan padat di kota Bandung?

Walaupun ini bukan pengalaman pertama atau kedua saya menelusuri sekolah-sekolah dalam sebuah gang atau ujung desa dan kaki gunung, tetapi selalu saja menarik melihat geliat orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dengan nuansa serba terbatas begini. Seperti ada semangat dengan rasa berbeda karena kondisi mereka yang serba terbatas. Baik itu penyelenggara sekolah-sekolah seperti ini, juga murid-muridnya. Seperti Santi misalnya. Keinginan bersekolahnya ini yang mendorong dia bisa menjadi juara 1 sekaligus pengurus OSIS di sekolahnya, disela-sela waktu membantu ibunya yang bekerja sebagai jasa pencuci pakaian.

Dua kelokan gang saya lewati, dan sampailah di sekolah Santi dan Nisa. SMU ini tidak begitu besar, bahkan halamannya pun tidak lebih besar dari halaman Dagdigdug atau Wetiga. Tapi saya bisa melihat ada tiang bendera disana, dan tetap pantas kalau saya sebut halaman itu sebagai lapangan upacara.

Setahu saya cuma ada 2 kelas masing-masing untuk kelas 1 dan 2. Bahkan kelas 3 SMU tersebut cuma memiliki satu kelas 3 IPA berisi 18 anak, dan saya tidak tahu berapa banyak siswa kelas 3 IPS-nya. Sebelumnya saya sudah mendegar perihal sekolah ini dari teman dan adik-adik asuh kami ini. Sekolah kecil yang dikelola oleh yayasan lokal yang dimiliki sebuah keluarga.

Santi memperkenalkan saya dengan seorang ibu guru muda cantik yang duduk diteras sekolah, Ibu Guru Dini namanya, yang tadi sempat disebutkan Santi. Saya dipersilahkan masuk ke kantor guru, terlibat obrolan singkat seputar sekolah dan kegiatan saya bersama teman-teman dalam mengasuh adik-adik kami ini. Si ibu guru ini terlihat “well educated” dari obrolan ringan yang berlangsung. Saya juga bisa menaksir kalau beliau seumuran dengan saya. Seumuran dengan saya, dan mengurus sebuah sekolah seperti ini. Sedangkan saya sendiri, meloloskan diri dari sekolah saya sendiri pun belum (curcol 😀 ).

Dan sampailah pada inti pembicaraan. Beliau mengabarkan bahwa sebenarnya rapat tadi adalah pemberitahuan dari pihak sekolah kepada semua orang tua/wali murid bahwa sekolan telah memperoleh bantuan dana pendidikan. Tahun sebelumnya, juga ada dana bantuan pendidikan yang turun, tetapi hanya bisa diberikan kepada Kelas 1 saja. Dan sekarang, karena pihak sekolah bisa mempersiapkan laporan pertanggungjawaban tahun ajaran lalu dengan lebih baik dan lebih cepat, dana bantuan untuk tahun ajaran sekarang bisa diturunkan lebih besar. Sehingga bisa membiayai penuh biaya SPP selama setahun. “Sekarang semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 mendapat bantuan. Permohonan dari pihak sekolah Rp 900.000 persiswa untuk biaya setahun ini diloloskan oleh Bapak Walikota”, demikian penjelasan dari si Ibu Dini ini sambil memperlihatkan senyum cantiknya. Ah, saya berpikir wajar saja beliau lebih cantik tersenyum sekarang, karena memang ini menjadi berita baik bagi semua orang tua/wali murid, sekaligus prestasi untuk sekolah ini.

Walaupun ada dana-dana lain, seperti LKS, 3 kali try out UAN/SMPTN, 30 ribu untuk biaya tahunan kesiswaan, dan entah apa lagi mungkin nanti menyusul kemudian hari, tetapi kabar seperti ini memang pantas melegakan hati semua orang tua murid. Saya juga ikut merasa lega di hati. Padahal keterlibatan saya di Rumah Mentari tidak terlalu besar seperti teman-teman lain yang lingkang pukang memburu donatur, atau yang menyempatkan waktu sempitnya untuk mendampingi adik-adik kami ini belajar sabtu – minggu.

Saya sempat berdiskusi kecil soal dana pendidikan yang diperoleh sekolah dari Walikota Bandung tersebut. Pertanyaan yang wajar dari saya, karena setahu saya bantuan sekolah gratis turun dari Dinas Pendidikan seharusnya, entah itu berupa BOS atau sekolah gratis seperti di iklan-iklan televisi. Ibu Guru Dini cuma menyampaikan bahwa mereka sedari awal sejak Bapak Walikota Bandung menjanjikan dana bantuan sekolah, mereka terus mengikuti prosesnya dan mencari tahu prosedurnya seperti apa. “Syukurlah, Mas. Beruntung juga Pak Dada terpilih lagi, memang sejak kampanye kan beliau konsen di persoalan dana bantuan pendidikan”, jawab si Ibu Dini diplomatis. “Tapi sekarang ini juga jabatan terakhir beliau. Harapannya kita sih, program seperti ini bisa terus jalan siapa pun Walikotanya, ya kan?”. Saya tersenyum sambil mengiyakan.

Tiba-tiba saya teringat demo-demo menuntut Dada Rosada turun beberapa tahun lalu ketika jabatan Walikota pertama kali beliau peroleh. Ada juga pihak-pihak yang memberi raport jelek bagi beliau ketika Laporan Pertanggungjawaban kerja (LPKj) 2008 lalu. Saya sendiri termasuk yang sangat alergi dengan kebijakan Dada Rosada seputar persoalan tata kota Bandung. Dan entah berapa lagi catatan buruk yang ditinggalkan Dada Rosada, sampai-sampai tahun lalu ada demontrasi penolakan beliau menjadi Walikota Bandung periode 2008-2013.

Saya belajar satu hal disini, ternyata urusan kebijakan politik bisa menjadi sangat sederhana bagi orang-orang seperti Ibu Dini. Dan bisa juga menjadi sangat tidak masuk akal bagi sebagian orang lainnya. Atau lebih buruk, bagi orang seperti saya, yang berpikir rumit sendiri dengan harapan terlalu luas dan banyak maunya dari sebuah kebijakan politik penguasa.

Mungkin benar bahwa teori klasik politik dari Aristoteles akan selalu akan menjadi rahasia. “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”

 

-Senin, 3 Agustus 2009, 16.25 : Ngopi Doeloe Kota Bandung-

6 Comments

  1. lebih pas lagi disebut tergantung siapa yang memandang dan diuntungkan dari keputusan (politiknya)…ibu Dini diuntungkan, sementara banyak orang enggak 😀

    Reply

  2. @kang Hedi :
    Saya bisa membenarkan jawaban Kang Hedi diatas..
    karena tidak salah juga,…

    kadang saya juga ambigu mengiyakan apa yang menguntungkan saya, karena sambil berpikir jangan2 ada yang merugi karena saya untung

    Reply

  3. Akan saya ceritakan lebih jauh nanti, Mas…

    Sebenarnya kegiatan2 serupa begini banyak dikelola secara bebas oleh sekumpulan orang,..

    tapi mungkin tidak terdengar saja oleh kita2..

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.