Cermin

Dalam sebuah dongeng, ibu ratu selalu menanyakan kepada cermin di kamarnya, “Cermin, cermin, cermin di dinding, siapakah wanita paling cantik di dunia?”. Cermin menampakkan gambar si Putri Salju. Ibu ratu naik pitamnya, dan Putri Salju pun dibuang ke hutan. Dulu aku selalu bertanya, kenapa si cermin tidak tunjukkan saja gambar perempuan lain? Model-model kelas dunia mungkin. Atau bisa saja wajah si tuannya, Ibu Ratu sendiri? Kalau ceritanya demikian, tentunya kamu dan aku tidak pernah mendengar cerita ini sekarang. Cuma kisah-kisah cinta tragis seperti nasibnya Bondowoso yang diperdengarkan ibu-ibu kita. Padahal dari cerita cermin Ibu Ratu itu, aku belajar satu hal. Ternyata cermin itu bisa bercerita!

Kamu tahu bangsa Mesopotamia kan, sayang? Mereka telah menemukan cermin sejak dulu. Bukan membuat. Mereka hanya mengasah sedikit dari batu-batuan dari golongan obsidian. Batu yang kasar dan rapuh, tetapi kristalnya memiliki kilap yang cukup untuk memantulkan cahaya. Mungkin karena itu pula banyak cerita, bagaimana wanita-wanita suku-suku Mesopotamia terkenal pintar bersolek dan kecantikannya tercatat dalam cerita-cerita sejarah. Lain lagi sebuah kisah dari Mesir. Seorang Raja Mesir pernah menggunakan cermin yang ternyata berasal dari batuan yang lebih tua dari peradaban mesir sendiri. Arkeolog berpendapat bahwa cermin itu bukan berasal dari batuan di bumi. Kilapnya yang sempurna alami hanya bisa dihasilkan pada gesekan super panas di udara. Mungkin saja berasal dari meteor dan asteroid yang jatuh ke bumi berjuta-juta tahun lalu. Ternyata cermin benar-benar bercerita hingga menembus dimensi waktu, sayang.

Shakespeare juga pernah mencoba merefleksikan pesan kejujuran cermin dalam cerita Julius Caesar-nya. “Wahai Brutus, bercerminlah, kau seperti diriku dalam cermin, dan engkau pun akan tahu secara jujur apa kata cermin tentang dirimu”. Benar adanya, Brutus harus jujur bahwa dirinya sedang dalam iri dengki terhadap Caesar, cerminnya sendiri. Ternyata cermin juga selalu jujur, tidak hanya pandai bercerita.

Kejujuran tidak harus beriringan seperti 2 garis linier sejajar yang bisa dibuktikan teori matematika. Kejujuran bisa jadi sebuah refleksi, kebalikan. Aku percaya refleksi bukanlah sebuah negasi negatif. Refleksi bukan pula kebalikan. Sapardi berkata, “cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;”. Jangan salahkan cermin seperti yang selalu menjadi biang kerok dalam bahasa kita, dinegasikan sebagai sisi negatif sebuah gambaran kehidupan. Cermin tidak pernah menukar kiri dan kanan-mu, sayang.

Cermin cuma membawa kabar dengan caranya tentang bagaimana kamu, dan mungkin juga tentang aku. Belajar dari Ibu Ratu, coba kamu juga tanyakan kepada cermin di kamarmu, apa yang kamu rasa saat ini? Mungkin dia akan menjawab jujur dengan menunjukkan gambar ku dalam kabur pantulannya.

12 Comments

  1. Cermin bisa digunakan alat untuk meredam kemarahan. Lha, kok bisa? Coba saat marah, atau sedang benci dengan seseorang. Berdirilah di depan cermin. Dan kita bisa melihat wajah kita yang “aneh”… Ya, lama2 kita bisa ketawa sendiri melihat wajah kita itu… Perlahan, hilang deh marah kita…

    Ya, boleh dicoba boleh enggak… Cuman saran kok..

    Reply

  2. hmmm… dalem bgt seh postingan lo?
    eh, gw jg sering loh ngomong sendiri sama cermin. apalagi kalo sedang gundah.
    qiqiqiqi…

    Reply

  3. kadang kejujuran tak perlu dibuka tapi kebenaran akan terkuak sendiri..sebagaimana cermin, hanya memantulkan apa yang dilihat seberapa buram kaca kita..
    * sok filosofis

    Reply

  4. loh bukannya cermin hanya menangkap permukaannya aja, klo kejujuran serupa cermin brarti tidak bisa dibilang jujur secara keseluruhan dong? *ngawur*

    Reply

  5. Cermin ya?
    Cermin itu emg terkadang satu2nya teman yg bs menghibur kok….
    Habis cermin gw beda c, karena bs bicara, dan dia lah yg paling jujur sm gw, selalu mengatakan gw keren! Hahahahhh narsis mode on.

    Reply

  6. Hahaha.. Mengomentari tulisan Rasyid. Dulu waktu aku kecil, kalau aku nangis, aku akan dikasih cermin. “Lihat tuh, nangisnya, jelek kan?”

    Trus aku jadi ketawa dhe.. Hehehe…

    (Itu hanya salah satu terapi kalau nangis)

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.