Reset

Banyak hal dalam hidup ini dipaksakan untuk ditelaah dan dideskripsikan. Padahal hidup itu adalah sebuah perjalanan yang akan jelas pertimbangan “kiri kanan atas bawah”-nya ketika titik itu dijalani pada waktunya, saat momen nya datang.

Kita hidup dari buku-buku dengan tagsline-tagsline yang mengajar hal-hal baik dan benar. Baik dan benar dalam ukuran buku-buku. Di balik itu, buku-buku juga hadir untuk membantah buku satu dengan buku lainnya.

Saya bisa mendebat dengan dialektika berjam-jam semalam suntuk untuk mencari sebuah premis paling benar dari sebuah tagsline yang diajarkan buku-buku itu. Entah sebuah bantahan atau hanya untuk mengatakan pembenaran.

Mungkin saya capek berdialektika. Jenuh menelan semua idealisme. Tapi saya juga tidak mau menjadi orang pragmatis.

Sekedar realistis,…saya rasa itu sudah cukup.

11 Comments

  1. seorang realias (yang pahit). itu kata gie sewaktu merefleksikan siapa dirinya. [ah, tagline lagi….}

    Reply

  2. numpang coret-coret dari yg aku dengar dari Sang Guru:

    “Orang-orang mencela yang diam. Mereka juga mencela yang berbicara banyak atau yang sedang saja. Oleh karena itu, tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak dicela”
    (-Buddha Gotama-)

    “Kulihat saudaraku dengan kacamata kritik, dan kubilang, “sungguh jahat saudaraku ini,” Kulihat lagi dengan kehinaan teleskop, dan kubilang, “alangkah kecilnyai ia.” Kemudian kupandang cermin KEBENARAN, dan kubilang, “betapa miripnya ia denganku.” (-Bolton Hall-)

    Reply

  3. hidup ibarat segenggam pasir,
    makin keras kita menggenggam nya,
    semakin banyak pasir yang terlepas..

    jangan terlalu memusingkan tentang hidup..
    (sok akh diriku..)

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.