Perdebatan Subuh dan Senja

Mbak,
Sekarang semakin ramai bendera-bendera partai berlambang bulan dan bintang di sini. Justru itu aku malah teringat kata-kata mu, “Mentari tetap yang berkuasa. Bintang dan bulan tidak terlihat kala mentari ada”.

Memang benar ucapan mu itu. Paling tidak aku bisa memikirkannya dengan serius sekarang ini, di antara batas gelap dan terang, si mentari selalu ada. Ia membuktikan dirinya berkuasa.

Tetapi sekarang bukan soal senja seperti cerita-cerita ku dulu. Aku sedang menjajaki subuh sekarang ini. Aku tidak mencoba sok jumawa dalam rasa adil. Tidak pula memaksa diri berpura-pura mengenal subuh. Hanya saja aku belum sempat bercerita pada mu. Seperti senja dimana ada terang menuju gelap, dan begitu pun subuh dengan hening gelap dihapus terang. Kedua nya adalah tapal batas yang indah dalam nuansa warna berbeda. Cobalah sisakan waktu untuk menyaksikan keduanya. Guratan langitnya memang berbeda, Mbak!

Mungkin aku tidak sempat bercerita banyak soal bagaimana aku juga selalu menikmati subuh. Aku cuma dikenal sebagai pecinta senja dengan tapal batas emasnya. Aku bisa mendiamkan diri dalam hitungan detik bahkan menit ketika senja meluruh di ufuk barat, padahal Mbak di samping ku berharap aku meracau soal dunia yang tidak jelas gelap atau terang. Kau memang selalu memaksa ku riwil karena kau bisanya cuma diam melihat bibir ku komat kamit bercerita.

Mbak,
Kau pasti lebih tahu, dikala subuh tiba, ada suara sumbang pengajian di surau-surau kota. Aku tahu rahasia mereka bisa mengaji berjam-jam sebelum azan subuh tiba. Karena itu adalah suara dari tape recoder. Yang kasetnya sudah bulukan diputar berjam-jam, setiap hari, setiap minggu, bulan bahkan tahunan. Kadang juga diselingi oleh ceramah-ceramah Zainudin MZ, yang dulu aku pikir itu adalah percakapan 2 orang yang direkam. Aku masih berumur 4-7 tahun waktu itu, jadi tidak tahu siapa itu Zainudin MZ.

Dulu, di kota asal ku, ada surau tempat ku biasa mengaji. Surau itu selalu mengaji kala senja ketika skor sepak bola kami sudah mendekati angka 10. Jarak surau dengan lapangan kuburan tempat kami bermain bola tidak jauh. Kadang bola yang kami tendang terlalu keras bisa melayang masuk surau. Dan pengurus surau pun marah memaki.

Di waktu lain, ketika bulan puasa tiba, aku dan teman-teman di kampung bisa tidak tidur semalaman berdiam di surau itu. Alasan yang kami pakai ke ibu bapak kami sama saja “Bu-Pak, aku menginap di surau ya. Tadarusan”. Orang tua mana yang kuasa menahan anaknya begitu mulia beribadah di bulan suci? Walau pun cerita nya akan berbeda ketika kami sudah berkumpul. Memang awalnya mengaji. Satu ayat terlantun, 2 lembar sudah lewat. Dan tidak sampai satu Juz, kami mulai melakukan perjalanan tadarus sebenarnya. Mencari arti malam di pelosok kampung. Tidak perlu khawatir dengan teguran pengurus surau. Suara tadarus ayat-ayat suci masih bisa terus berkumandang lewat beberapa murid teladan ustadz kami. Paling buruk sekalipun, ketika kami mulai bakar-bakar singkong atau memasak mie rebus di samping surau, murid-murid teladan itu akan ikut. Dan kaset pengajian bulukan itu pun masih dengan setia mau diputar.

Mbak,
kadang aku berpikir penyakit imsomnia ku sudah dimulai sejak aku dibesarkan dekat surau itu…

Ketika subuh semakin dekat, kami pulang. Berjanji bertemu lagi nanti setelah sahur, dan shalat subuh di surau itu. Dan sesi terindah dimulai. Bisa kau bayangkan, Mbak. Tidak pernah surau itu penuh jika subuh berlangsung di bulan-bulan lainnya. Tapi saat itu, seolah-olah semua ingin mengaji di surau ketika subuh.

Puasa baru saja dimulai ketika mentari terbit. Tetapi soal hasrat, justru juga ikut menguncup, mengembang seolah mengerti mentari adalah sumber segala energi. Bukan cuma karena aku dan teman-teman ku adalah laki-laki muda. Tetapi gadis-gadis di perumahan kami pun sama. Mereka mendadak mengerti hasrat subuh. Aku dan teman-teman mengenalnya sebagai asmara subuh. Anak laki-laki berkeliaran keliling desa, kampung bahkan sampai pinggiran kota menikmati mentari terbit sambil bergaya dengan sarung melilit sehebatnya di depan gadis-gadis. Dan gadis-gadis juga begitu, malu-malu cekikikan kecil manis dalam balutan mukena putihnya, menikmati dipandangi para pemuda tanggung dibawah siraman dingin kuningnya mentari pagi.

Mbak,
Mentari pagi itu memang indah. Aku mengakuinya. Dulu juga, disaat aku masih tersandar di kota gadis-gadis geulis itu, aku selalu sisakan waktu sebelum subuh ku di pasar dekat perempatan Dago itu. Ibu-ibu penjual sayur, ayam potong, bumbu dapur, jajanan pasar, sampai pakaian dalam sudah menumpuk hanya dalam hitungan tidak lebih 2 jam.

Iya, Mbak. Aku pernah menghitungnya sambil menghabiskan kopi dan menu favoritku, “Indomie Rebus dengan tambahan rebusan bakso urat” yang aku beli terpisah di salah satu penjual disana. Jangan salah, justru rasanya nikmat sekali. Karena masih segar dari penggilingan daging di malam hari. Aku bisa beli 3-4 bakso urat. Lalu kutitipkan kepada emang yang memasak Indomie Rebus buat ku.

Mbak,
Subuh memang punya banyak cerita buat ku. Dari dulu. Subuh bagi ku adalah awal dari semburat mentari memancar menutup sepi-sepi yang lewat di kala malam. Aku juga bisa menikmatinya seperti aku menikmati senja. Bedanya, ketika senja aku menunggu terang hilang diganti pendar-pendar bintang dan rona bulan. Sampai beberapa waktu lalu, aku tidak mendebatkan antara keduanya. Keduanya indah dengan caranya.

Sayangnya, Bumi tidak tercipta datar dan rata dari berbagai sisi, seperti wajan penjual martabak Aceh. Jika demikian adanya, Mbak dan aku bisa menikmati senja dan subuh di waktu yang sama, bahkan salam rindu pun bisa kutitipkan kepada mentari, bulan dan bintang, secepat kilat dipantulkan dibelahan lain, seperti gelombang-gelombang panas yang dipantulkan gas rumah kaca.

Mbak,
Kini aku ingin mendebat bumi, kenapa ia harus bulat?

 

 

Photo ilustrasi dari Dina Utami Facebook Album, outside her window’s dorm in UCSC, California

21 Comments

  1. ketika kamu menikmati matahari tenggelam dan aku melihat matahari terbit, sebenarnya kita menatap pada matahari yang sama.

    dan salam rindu pun bisa kautitipkan kepada mentari, bulan dan bintang, secepat kilat dipantulkan dibelahan lain, seperti gelombang-gelombang panas yang dipantulkan gas rumah kaca.

    Reply

  2. Pergantian cahaya juga perubahan keseimbangan kosmos, entah apa yang terjadi kala itu. Namun dahulu, bila magrib menjelang dan masih berkeliaran di luar rumah, sering dibentak Ibu masuk ke rumah. Tidak pernah menikmati senja seperti seharusnya dan merangkai cerita darinya…
    Tetapi seseorang, barangkali telah memahat senja, menyulam subuh, menjadi rangkaian kisah dan harapan…
    Yihaaa…. dan embun berkilau cemerlang, hahaha

    Reply

  3. Mungkin bumi ditakdirkan bulat agar manusia bisa terus bergerak tanpa harus kembali ke titik awal terlebih dahulu Kang.

    Reply

  4. ketika kamu menikmati matahari tenggelam dan aku melihat matahari terbit, sebenarnya kita menatap pada matahari yang sama.

    dan salam rindu pun bisa kautitipkan kepada mentari, bulan dan bintang, secepat kilat dipantulkan dibelahan lain, seperti gelombang-gelombang panas yang dipantulkan gas rumah kaca.

    Eh, si mbaknya menjawab….

    *mlayu*

    Reply

  5. mendingan kita tentukan hari berburu sunrise di candi ijo sesuai saran zam dan anots..disana kita buktikan seberapa jauh kamu bisa mendebat alam semesta, bukan hanya bumi. Sebab siapa tahu jalan rindu itu terbuka..

    Reply

  6. kang lex, matur nuwun sambutan cahandong kemaren di nol kilometer..
    seneng sangad bisa bertemu langsung keluarga besar cahandong…
    suwun suwun….

    Reply

  7. shubuh itu….

    minad dzulumatti ilannuur…
    dari kegelapan menuju cahaya. wuindah rek. tapi sayangnya sekarang wis rak tau isa subuhan tepat waktu je…
    qeqeqe. susah juga jadi agent of change, agen perubahan dari kegelapan menuju cahaya.

    Reply

  8. ah, jal, mentari masih kalah ma orang buta ma orang yang hobby tidur siang… gada artinya lagi… buat mereka begitu juga bulan bintang, hayoooooo….

    Reply

  9. gue suka tulisan lo mas…. 😀 😀 :D…..
    nerbitin buku dong…. tulisan ente bikin ane gatal pengen ‘ngetik’ (nulis) ……
    salam…

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.