Memburu Tapal Batas

Hari sudah hampir berakhir. Warna langit sudah digores-gores oleh kuning dengan paduan emas dan biru gelap. Kendaraan-kendaraan diluar bus ini terlihat berlalu semakin cepat. Seperti ada yang mereka kejar di tujuan masing-masing. Kadang aku melihat ada muka lelah namun justru matanya menunjukkan sebuah semangat untuk bertemu sesuatu di ujung perjalanannya. Lain lagi jika melihat dalam perhentian lampu merah, ada wanita-wanita bermuka cerah yang memeluk mesra pengemudi motor yang memboncengnya. Harum tubuh mereka serasa bisa kucium, walaupun ada kaca tebal antara tempat ku duduk di bus mini ini dengan mereka yang saling menikmati senja diluar sana.

Senja memang selalu indah. Aku selalu menyebutnya tapal batas. Ada keindahan yang disorongkan di sana. Ada sebuah kisah hari yang akan ditutup seketika, hanya sebentar tidak lebih dari satu jam. Dan dalam hitungan itu pula ada geliat hidup-hidup lain yang justru baru akan dimulai.

Senja kali ini, aku sudah membulatkan diri memburu sang Senja lainnya. Sebenarnya senja sendiri tidak perlu diburu. Aku selalu tahu itu. Seperti ketika di kota lamaku dulu, aku bisa menikmati senja dengan angin lembut berhembus kencang di lantai delapan gedung antar universitas itu. 4-5 tahun lalu aku biasa menikmatinya sendiri. Hanya dengan alasan untuk meminjam mushala gedung itu di lantai 3, aku justru menekan tombol lift ke lantai 7. Lalu melanjutkan langkah kaki menuju lantai 8, berbelok ke lorong utara gedung itu, menuju sebuah pintu yang hanya terbuka 4-5 tahun lalu. Dan goresan senja pun terhampar sejauh mata memandang ke arah Bandung Utara.

Berbeda jika pagi atau siang hari di antara tapal batas jadwal kuliah, aku menuju titik ini bertiga atau berempat bersama teman-teman, karena menemani seorang wanita yang mencari sekepul asap rokok. Hanya untuk merokok, dia harus berjuang ke pinggiran lantai 8 gedung ini. Karena asap rokok dari bibir seorang wanita di kampus masih tabu di masa itu. Kami mengepulkan asap rokok bersama-sama, ditambah dengan cerita-cerita konyol, dengan derai tawa tertahan takut ketahuan oleh pegawai gedung. Kadang juga dipaksakan bermain kartu. Selalu ada kartu baru dibeli untuk dimainkan jika kami disini, dan kami baru berhenti ketika sudah ada kartu yang berhasil diterbangkan angin.

Kisah lama bersama si wanita perokok tadi begitu saja teringat setelah dua hari lalu seorang wanita (lainnya) sekantor dengannya menghampiriku di Jogja, berlibur membunuh penat dari perusahaan asing tempatnya bekerja di Kalimantan. Dia mengoceh “Gile temen lu itu… Tiap gw mau ke pasar, selalu nitip.. Riiiin, Marlboro Menthol 1 Selop, eh.. ga ding dua yak,.. dua selop..!!… Gelok siah..!!” . Aku cuma menyambut cerita puasnya itu dengan tawa membahana di cafe pelataran benteng. Rupanya merk rokoknya masih sama saja, dan candunya semakin parah ternyata.

Bus mini ini masih berjalan diantara lampu halogen yang mulai menyala satu persatu. Senja semakin mendekati batasnya, tujuan ku pun sudah hampir tiba. Malam sebentar lagi turun. Tetapi siapa yang bisa membandingkan syahdunya senja dan malam? Sejauh yang aku tahu, senja memang lebih syahdu.

Berbeda dengan malam yang sering membelah hening dengan tawa, dengan teriakan kalut, dengan makian, dengan erangan dan lebih sering lagi dengan dentuman suara musik dan bas. Senja hanya memiliki suara azan. Anak-anak memilih untuk pulang ke rumah-rumah mereka setelah lelah bermain dan berjanji lagi bertemu kalau purnama muncul malam nanti. Ibu-ibu mengambil jemuran di pagar-pagar rumah mengakhiri gosip sore mereka diantara tetangga. Bapak-bapak baru saja memasukkan kendaraan ke garasi dan teras mereka, bersiap-siap menuju mushala terdekat. Anak-anak muda menyelesaikan seruputan terakhir kopi di warung-warung mereka, bersiap mengatur rencana untuk bersembunyi dimana sebelum malamnya mulai lagi dengan petualangan liar mereka. Itulah senja yang tersisa dari memori ku di kota tsunami ujung barat sana. Selalu lebih syahdu daripada malam-malam ku di kota-kota lainnya.

Bus berhenti, aku turun dan memilih berjalan ke dalam lorong-lorong yang mulai gelap berdinding tembok putih bertuliskan “Dilarang mencoret tembok disini”. Sebuah pesan anti vandlism terhadap dinding-dinding tua kraton. Berbeda dengan dinding-dinding beton di bawah tol, atau di setiap kelokan di pinggir kampung kaum marginal kota-kota besar. Pesan seperti itu bisa saja bersanding dengan coretan kekuasaan di sebelahnya. Seperti anjing yang kencing memarkir batas kekuasaan. Tembok putih disini, warna putihnya sang beton hampir sama dengan luhurnya kultur yang menusuk sampai ke tengkuk belakang ku. Walau gelap semakin gelap, putihnya seperti menjadi lampu jalan-jalan gelap disini. Membantu mata ku untuk tetap awas mencari di mana Senja itu berada. Sesaat aku teringat pesan Sapardi dalam puisi “Pada Suatu Malam”,

Sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua

Waktu hari hampir lengkap, menunggu senja

Putih, kita pun putih memandangnya setia

Sampai habis semua senja

Hanya bedanya, saat ini aku berada di Yogya. Bukan di Solo seperti cerita Sapardi dalam puisi itu. Tapi apalah bedanya. Karena toh senja sama saja di semua penghujung dunia.

Tepat di sebuah pinggiran jalan yang bersih, depan warung makan yang terang, Senja itu kokoh berdiri. Tuanya masih menyiratkan kegagahan kisah-kisah lama. Seperti senja matahari yang entah berapa kali telah menyaksikan berbagai wajah manusia sejak bumi diciptakan. Gelapnya hanya ditemani lampu temaram, tetapi cukup memberikan sebuah Senja yang teduh, senja yang gagah. Teras dengan hamparan luas disertai meja-meja lesehan berlampu temaram, tikar lusuh yang bersih, dan seorang bapak tua yang sedang memebereskan meja-meja, seperti berkata “ayo singgah dan beristirahatlah..”

–0o0–

Dua porsi teh poci, sepiring nasi gulai kambing, dan kisah-kisah dari bapak tua di Warung Senja itu masih tersisa dalam langkah-langkah ku menuju jalanan Malioboro. Hanya bedanya, senja sudah selesai sejak kepulan terakhir dari kretek ku di warung tadi. Kini malam yang biasa sudah hadir. Sebuah derai tawa lain sedang menunggu di nol kilometer Jogja.

Malioboro, kiri kanan ramai oleh wisatawan lokal. Seperti senja, Juni dan Juli adalah juga tapal batas untuk mereka yang bersekolah. Liburan bisa berarti hadiah kenaikan kelas, bisa juga berarti membantai lelah dari penat ujian-ujian semester kuliah. Untuk Yogyakarta, Juni Juli bisa juga menjadi awal dari sebuah hidup baru anak-anak manusia yang memilih kota ini menjadi tempat mengejar mimpi. Di saat yang sama pula, pancaroba membawa udara dingin di setiap malam Jogja.

Juni Juli di Jogja, bagi ku menjadi sebuah Sekaten Postmodern baru dengan festival kesenian, diramaikan wisatawan yang memburu souvenir murah dalam lilitan susahnya ekonomi negeri, dipenuhi wajah-wajah baru membaca mimpi 4-5 tahun kedepan, hingga udara dingin yang membuat sepasang kekasih di nol kilometer Jogja dengan terbuka saling menempelkan pipi-pipi mereka.

Pacar senja sangat pendiam : ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap, Malu dilihat lanskap”

(Pacar Senja – Joko Pinurbo 2003, hal 1)

*Terima Kasih untuk Kang Zen, yang menunjukkan “Senja” satu itu. Jadi, kapan kita memburu Senja lainnya lagi, Kang?

18 Comments

  1. hanyut sampai akhir

    cerita singkat tentang senja
    tapi sungguh, serasa mengikat seluruh perjalanan kehidupan dalam kata.

    *senang bisa berbagi disini*

    Reply

  2. kalo sy sang mentari yg baru bangun di pagi hari sangatlah indah …di dekat rmhku bisa liat loh tiap hari
    *mari

    Reply

  3. senja bagi senja, seperti menggelar sajadah di pergantian waktu..penuh harapan..dan harapan itu memang selalu ada…wakakakakakaka..

    Reply

  4. … sementara kita hanya bisa berbagi malam yang terpecah jadi beberapa, berpindah dari satu spot ke tempat lain, merengkuh fajar yang lama sekali datang, dan berusaha mengusir dingin dengan hangat yang menguar dari tawa dari canda dari senyum lingkar sahabat.

    terimakasih untuk malam itu

    *bows*

    Reply

  5. tolong aku yang tertanam dlm kata2….. aku tertnam dlm maya.ruang yg sesempit hti, ini bkn persembunyian trakhirku, ku bangun sgala tdr.ku panggil sgala arwah.tapi tak satupun dari mereka menjawab

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.