Penyakit Fatal

Jogja Gallery – Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si Tika tiba-tiba bersuara,

“Leks, fatalis itu apa sih?”

Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya.

Ternyata pertanyaan Tika itu muncul karena sebuah lukisan sederhana yang memberikan pesan singkat,

“Sebuah negara yang sakit, selalu membiasakan diri dengan idiom-idiom fatalis. Dan sebuah negara yang sehat hidup dengan idiom-idiom progresif”

Sederhana saja penjabaran lukisan tersebut. Ungkapan “Cape Deh” yang tergambar di lukisan itu, diartikan sebagai sebuah idiom fatalis. Mungkin saya bisa menjamakkan idiom-idiom lainnya seperti “Udah becek, ga ada ojyek” atau mungkin seperti “meneketehe”.

Memang itu hanya sebuah pesan lukisan. Goretan di atas kanvas yang kemudian berakhir dalam ruang-ruang hotel, atau ruang pribadi para kolektor berkantong tebal. Perbedaannya hanya soal tema lukisan saja. Seperti Minggu itu, kebetulan tema pameran lukisan tersebut adalah “Kebangkitan Nasional” dan segala tetek bengeknya soal nasionalisme.

Sering saya melihat, membaca dan menceritakan ulang kronologis semangat nasionalisme dalam panggung sejarah negeri ini. Tetapi membacanya kembali berulang-ulang bukanlah kegiatan membosankan. Apalagi saya tahu mereka, para pelaku seni ini, mencoba melihat dengan berbagai kacamata berbeda. Mereka paham pertentangan klasik antara kaum Nasionalis moderat dan Islam Konservatif soal “Kebangkitan Nasional” di masa lalu. Dengan gamblang mereka mempersembahkan kritik terhadap pandangan nasionalisme modern dan mental nasionalisme konservatif. Bahkan ada cerita sederhana soal persamaan kolonialisme di zaman perang dengan kolonialisme di zaman modal, dan dengan demikian berarti pula arti kemerdekaan bersemangat ’45 dan kemerdekaan berkedok reformasi.

Ini bukan soal inspirasi si pelukis yang memang bisanya dia saja mencari ide buat jualan karya. Ini adalah soal refleksi, soal menaruh kaca di depan muka -mengutip istilah Momon. Ketika saya berjalan-jalan mengelilingi semua lukisan di Jogja Gallery tersebut, antara pikir dan perasaan teraduk-aduk di sana. Sebuah kesedihan dari optimisme yang surut. Sebuah gambaran negeri yang rusak. Sebuah sinisme tentang nasionalisme yang sakit akut. Dan ada sebuah kesan lebih dalam lagi, yaitu malu.

Iya! malu. Malu karena di sana saya menyaksikan sebuah kronologis sejarah membangun bangsa besar ini. Kronologis yang hadir dengan teks, cerita dan gambar visual. Entah sekedar sebuah photo tokoh-tokoh bangsa maupun ilustrasi kasar bergores acrylic. Dan ternyata hari itu saya hanya menjadi tukang menonton, membaca dan beromantisme bersama mereka, dari dulu hingga saat ini.

Saya juga malu, ketika tahu seorang mudi Jepang melakukan perjalanan menyusuri sejarah. Sendiri ia mengumpulkan cerita perjuangan bersenjata era penjajahan Jepang yang dilakukan PETA pimpinan Soepriyadi di Blitar. Sementara kita dengan mudahnya bicara nasionalisme lewat sebuah papan pengumuman “Besok ada upacara bendera memperingati Kebangkitan Nasional”. Selesai upacara bendera, merah putih berkibar dengan gagahnya, lalu kita bubar kembali pada kebusukan-kebusukan lokal. Curang, keserakahan dan ketidakjujuran menjadi rutinitas harian membuat saudara-saudara sebangsa berada dalam kungkungan penderitaan.

Sekian banyak gambaran rusaknya nasionalisme yang dipaparkan di ruangan pameran tersebut, menjadikan saya bingung. Bingung karena negeri ini hanya diisi oleh penyakit-penyakit walau dikatakan sudah bangkit 100 tahun lalu. Seperti tidak ada celah untuk mengatasi penyakit bangsa ini? Ah sial!, tulisan ini pun menjadi sebuah keluhan. Ternyata saya dan tulisan ini memang hidup dalam idiom fatalis juga!

Mungkin benar kata orang-orang alim itu. Hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan segala kesemrawutan negeri ini. Mungkin hanya Tuhan yang bisa, itu pun kalau Dia mau –seperti ungkapan sebuah puisi gerakan terkenal.

-o0o-

Sore sudah menapak di hari minggu cerah itu. Saya, Tika, Momon dan Dina keluar dari ruang pameran tersebut dengan inspirasi nasionalisme masing-masing. Lalu sekelebat saya melihat hiruk pikuk sebuah berita di TV. Monas rusuh oleh keributan dan aksi kekerasan. Semua media nasional berebut bercerita dengan antusiasnya.

Saya terpana sekejap. Tiba-tiba teringat berapa banyak lagi masyarakat miskin dan anak putus sekolah yang akan dilupakan? Dilupakan karena sebuah setingan busuk para serakah negeri ini yang bertopeng nasionalisme, bahkan nama Tuhan bisa disewa dengan sekian rupiah saja.

Ternyata fatalis tidak hanya sekedar idiom-idiom semata di negeri ini. Tetapi juga sudah menjadi kesimpulan hidup untuk menyembuhkan penyakit negeri.

19 Comments

  1. berarti sampeyan sudah bangkit, leks. malu kan salah satu definisi bangkit, setidaknya kata mas dedy gitu 😀

    Reply

  2. @latree : idiom fatalis dalam lukisan tersebut, atau makna tulisnya berarti cenderung pasrah dan tidak mengusahakan apa2… dan kalau ditarik garis dengan perumpamaan saya di akhir tulisan,… sifat fatalis ini pula yang mendorong kita malas berpikir, bahkan tidak mau berpikir – efek paling buruknya malah memberikan ruang-ruang imaginer dalam solusi untuk segala permasalahan rill dilingkungan. Contoh : menyalahkan Tuhan, atau juga bisa “Mengatasnamakan Tuhan untuk sebuah tindakan.”

    Reply

  3. masih menjadi pertanyaan apakah kita benar benar bangkit,..dan apa bentuk ijtihad yang dilakukan bangsa ini untuk memerdekan pikiran ?
    tak akan bisa terjawab, karena memang ini kemalasan kita yang tidak mau membuat sebuah terobosan problem solving di masyarakat.

    Reply

  4. setan kadal buntung. saya kok jadi lupa lo ada pameran audio-visual memperingati kebangkitan nasional di sono.
    btw, memang setan fatalisme dah merasuki ubun2 anak muda bangsa ini. semacam melihat masa depan buram poll di depan mata.

    Reply

  5. ah Indonesia. . . . . . .
    *sebuah keluhan dan tanda2 terjangkit penyakit idiom fatalis..!!! kemana saya harus berobat.?*

    lam kenal bro 🙂

    Reply

  6. ah Indonesia……
    *sebuah keluhan dan tanda2 terjangkit penyakit idiom fatalis..!!! kemana saya harus berobat.?*
    lam kenal bro 🙂

    Reply

  7. […] Reaction” ini adalah oleh-oleh (yang discan dari katalog pameran) ketika saya mengunjungi Pameran Setelah 20 Mei di Jogja Gallery. Relevansi isu yang diusung karya pameran ini benar-benar membuat saya (dan mungkin […]

    Reply

  8. sebetulnya ada banyak lagi idiom fatalis seperti:

    – namanya juga indonesia!
    – mau apalagi, mereka dibacking si A
    – lha, selama ini memang begitu e

    saya tidak suka komentar-komentar spt itu, karena tidak membantu kita ke mana-mana

    Reply

  9. […] postingan ini berkaitan atau tidak dengan 100 Tahun Kebangkitan Nasional dimana (konon) fatalis menjadi penyakit (?) atau atau 10 Tahun Reformasi yang “dijual”, saya juga tidak mengatakan pasti. Toh ini […]

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.