Setengah Hari, Menjelang Siang…

Setengah Hari, Menjelang Siang…

Matahari sudah mulai tinggi ketika saya beranjak malas menuju jalan raya, mencari angkutan umum, bus lokal Yogya yang bukan Transjogja. Tujuan saya hari ini adalah Babarsari. Kawasan Babarsari dikenal bagi pendatang baru sebagai kawasan yang notabene dekat dengan “kebebasan” mahasiswa-mahasiswi Yogya-nya. Salah satu kawasan yang memang ramai oleh kampus-kampus swasta. Tetapi saya kesana bukan untuk menikmati pemandangan kerlap kerlip mahasiswi muda di area itu. Ada tanggung jawab tersisa dengan seorang dosen, mengharuskan saya datang ke kampus Atmajaya yang berlokasi di sana.

Sayangnya tidak ada Transjogja yang melewati daerah ini. Terasa aneh untuk sebuah kawasan ramai pendidikan tidak dilengkapi halte bis berlabel “Kawasan Bebas Copet” tersebut. Terpaksa saya menggunakan alternatif lain menggunakan bus lokal saja. Dan itu pun tidak lebih baik. Tidak ada bus yang melewati jalan sepanjang kawasan Babarsari. Saya harus turun di sekitaran Flyover Janti, dan kemudian berjalan kaki menuju Atmajaya. Sial. Padahal kantor Dinas Perhubungan Kota Yogya berlokasi di jalan Babarsari ini. Aneh saja kalau mereka tidak menyadari kebutuhan strategis angkutan di ruas 2 jalur depan kantor mereka.

Walau sekian lama saya menjadi pelanggan Tejo (panggilan khas Transjogja), bukan berarti saya tidak menikmati bus-bus lokal butut yang sudah lebih dulu mewarnai Yogya. Seperti hari ini misalnya, saya bisa menikmatinya dengan cara saya. Menjadi Pemerhati Kelas Marginal Kota.

Bus berwarna kuning dengan karat di sana sini itu terasa sumuk. Tetapi bukan itu yang membuatnya sepi penumpang. Persaingan angkutan umum yang murah dan nyaman sudah mewarnai trasportasi kota Yogyakarta sejak Transjogja beroperasi di bulan Februari 2008. Apalagi ditambah dengan naiknya BBM beberapa hari lalu. Wajar kalau pengguna angkutan umum jadi berhitung, dan pengusaha transportasi kota juga mulai mengencangkan ikat pinggang armadanya.

Di dalam bus ini hanya ada saya, pak supir dan seorang nenek. Penampilan nenek itu khas sekali seperti kebanyakan warga miskin kota. Dengan kebaya hijau dan sarung lusuh, ditambah bawaannya -yang entah apa , dibalut kain selendang bermotif batik dengan bahan kelas dua. Namun saya bisa melihat sumringah di setiap lipatan kerut wajahnya.

Obrolan sederhana si nenek dan pak supir sempat terdengar oleh saya. Walau dengan penguasaan bahasa jawa yang belum sempurna, tetapi saya cukup dong dengan obrolan tersebut. Kira-kira beginilah isi percakapan tersebut,

“Pulang dari pasar, Mbah?” tanya pak Supir

“Iya. Belanja buat dapur. Tadi baru saja dapat duit dari kantor pos.” jawab si nenek.

“Ooo bantuan BBM itu.”

“Iyoo,..Sekarang semua-semuanya mahal”

“Ditabung, Mbah. Buat belanja-belanja lagi nanti. Wis,..Sak penting dicukup-cukupkan”

“Rejeki cucu saya ini. Anak itu mau daftar SMP. Alhamdulillah…”

“Bagus itu. Tak doakan jadi orang pinter, iso bantu-bantu si Mbah nanti.”

Seketika saya jadi teringat kisah Subadra atau Dewi Rara Ireng dalam Mahabharata. Cerita wayang menggambarkan bagaimana bersedihnya beliau dalam mangu menyaksikan Arjuna sang suami pulang perang tanpa disertai sang putra satu-satunya Abimanyu. Tetapi dalam rasa yang berat itu, Rara Ireng masih menyisakan senyum, nasihat-nasihat dan energi bijak untuk cucunya. Putra Abimanyu yang kelak menjadi Pewaris 2 kerajaan Mahabharata, sang Prabu Parikesit.

Bus berhenti. Si Mbah turun tertatih dengan ucapan terima kasih berkali-kali setelah pak supir menolak 2000 rupiah pemberiannya. Dua ribu rupiah yang menjadi ongkos normal yang belum kunjung naik mengikuti harga BBM.

“Mas, turun dimana? Saya cuma sampai kantor imigrasi.” tanya si pak supir memecah lamunan saya yang hampir pilu.

“Disini saja, pak. Kiri.” jawab saya seketika, beberapa belas meter menjelang tikungan kantor Imigrasi.

Sejumlah pecahan 500-an rupiah saya berikan.

“Mas..mas.. ini kelebihan..” panggilnya, sambil membalik badan menyodorkan saya dua keping logam 500 rupiah.

Tangan saya menerimanya dengan tanpa sadar. Mulut saya terkunci untuk mengatakan “Simpan saja, Pak”. Padahal, saya memang sekenanya saja mengambil lebih recehan 500-an rupiah dalam saku saya tadi. Karena toh ongkos perjalanan singkat ini saya anggap terlalu mahal walau untuk sejumlah recehan tersebut.

 

Saya melihat teriknya sinar matahari di jumat siang ini. Asap kendaraan mengepul dari knalpot mobil-mobil berkaca gelap yang melaju. Panasnya matahari mulai menyengat setiap pori. Dan tujuan saya masih beberapa puluh meter lagi..

25 Comments

  1. ga habis pikir aku..
    di saat semua orang-orang kaya itu berpikir tentang perutnya,..
    sementara ada orang ndeso yang lebih bijak..

    pendidikan untuk masa depan,..lebih penting dari secuil duit bantuan….

    Reply

  2. jadi ini salah satu yang menginspirasimu? I feel you. btw, babarsari – janti kan jauh? babarsari itu yg jalannya nama bunga2an, kan? worawari dan lain-lain itu bukan? lha jauh itu….

    masih ada kobutri gak, disana? ah, kangen jogja…sudah puluhan taun lewat, and still….:|

    Reply

  3. baru tau gw klo babarsari identik dengan kebebasan….wekekekekekeke….padahal dulu saya kuliah di ITB= Institut Teknik Babarsari….:p

    Reply

  4. @pangsit : kalo dari ringroad kost ku ya ga ada dul.. jalur 10 muter dari UPN 2 – Atma – dipertigaan babarsari ke jalan amplaz,..
    lha aku kan dari ringroad utara..

    Reply

  5. leksa:”Woi Jeprutt,.. lu udah di bdg lagi? buruan keluar dari negara ini !!!”

    maap,ini siapa ya?sepertinya anda salah orang mas..hehehe
    nama saya bukan jeprut dan gak ada juga yg pernah manggil saya jeprut 🙂

    Reply

  6. positif salah orang mas 😀
    soalnya saya bukan orang medan dan saya juga blom pernah ke medan..
    pengen sh sebenernya tapi blom terwujud

    kok bisa ngira saya si jeprut?
    ngomong2 temennya beneran namanya jeprut?

    Reply

  7. di saat semua orang-orang kaya itu berpikir tentang perutnya,..
    sementara ada orang ndeso yang lebih bijak..

    Makanya aku setuju kalau acara KKN mahasiswa itu disebut sebagai proses pencarian pengetahuan. Bukan proses pembagian pengetahuan.

    Ibarat kasarnya, tau apa mahasiswa dibanding warga kampung yang sudah menjalani kehidupan sehari-hari seperti itu?

    Reply

  8. KANGEN JOGJA!!

    di sini, penumpang bis umumnya berkemeja, berblazer!!

    aku kangen dengan wajah simah-simbah itu..

    kangen dengan keramahan itu!!!

    *nangis koprol-koprol*

    Reply

  9. salut buat jogja, terutama grup angkutan umumnya, yang sangat dekat dengan rakyat, padahal mereka sendiri pasti harus mengencangkan ikat pinggang. di sini (banjarmasin) semua tarif sudah naik.

    Reply

  10. soal sepinya bus butut karena tejo ini mirip kasus bus gede di semarang…
    sering-sering deh, ‘ga sengaja’ ngasih lebihan buat orang-orang seperti mereka. buat kita ga terlalu terasa, tapi buat mereka insya Allah berharga…

    Reply

  11. Wah, kemarin saya juga mengalami hal yang hampir sama. Karena nggak ada kembalian Rp 500,00 kernet metromini 640 yang biasanya terkenal gahar malah merelakan diri dibayar hanya dengan Rp 2.000,- saja [ongkos aslinya Rp 2.500,-].

    Dan entah kenapa, pada waktu itu saya juga ndak bisa bilang, “Simpan saja pak. Nggak usah dibalikin…”

    Jadi kepikiran sampai sekarang…

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.