Selamat…

Yang saya tahu,
Gorengan di angkringan makin mahal harganya..
Warung si Ibu di sebelah harganya naujubillah
Antrian di Pom Bensin bikin kesel..
Petani dan nelayan yang biasanya membeli bensin lewat jirigen,
terpaksa membeli di tengkulak karena ditolak di pom bensin
Naek bus mahal kemana-mana,..
Ke luar kota jadi ga bisa sering-sering…
Mau pulang kampung jadi berhitung dulu..
Mau jalan-jalan juga harus tunda dulu…
Gaji ya tetap segitu-gitu saja..
Tidak bisa telpon berlama-lama lagi…
Apalagi sampai mengunjungi kota mu di sana..
Maafkan saya disini dan mereka yang berdemo belum bisa mengubah apa-apa…

Saran saya,
Siapkan saja satu martir yang tidak tahu apa-apa
biarkan dia mati, dan semua akan terlihat makin riuh rendah..
Siapa berani?

PS :
Selamat bergadang buat kalian di Gedung Sate malam ini,
Selamat buat kalian yang menyiapkan agenda di tongkrongan gelap Jakarta..
Selamat buat yang besok berdemo di Bunderan UGM, Solo, dan pulau Sulawesi sana..

Selamat…

17 Comments

  1. stress gw, stress.. mudah-mudahan bsok gk ada bentrokan apa-apa.. mudah-mudahan pola yg lo gambarin ke gw, sesuai.. mudah-mudahan gk ada yg jadi martir..
    gk kebayang klo kejadian 10 tahun lalu terjadi lagi..

    Reply

  2. Negeri tengah dipersimpangan
    antara hidup dan mati, dan itu masih mending
    tapi negeri ini…. telah makin mencekik penghuni didalamnya
    selamat!

    Reply

  3. Tulisan yang seimbang, Leksa.

    Tidak memvonis yang mau demo. Tidak juga membenarkan.
    That’s great ๐Ÿ™‚

    Ya. Saya sendiri dalam posisi yang nyaris sama denganmu di kampung halaman kita ini. Di Aceh ini. Beberapa niat demo harus diredam karena pertimbangan saya melihat ada yang akan menyusahkan masyarakat utk saat ini, memacetkan arus perdagangan sekaligus ekonomi mak-mak di pasar Aceh.

    Belum ada aksi apa-apa di Banda Aceh karena pertimbangan demikian. Cukup bijak, dan saya senang.

    Tapi, jika sudah begitu mencekik leher nantinya, Leksa… saat spekulan dan para pemegang SS-1 berkolaborasi di gudang penimbunan, saya nggak akan cegah lagi anak-anak buat “ngamuk”. Dilematis memang…

    Saran saya,
    Siapkan saja satu martir yang tidak tahu apa-apa
    biarkan dia mati, dan semua akan terlihat makin riuh rendah..
    Siapa berani?

    Martir? ๐Ÿ˜€
    Martir itu … bukannya dipilih sendiri oleh sang nasib? Si Elang Mulya Lesmana dkk di persimpangan trisakti dulu juga saya rasa nggak akan mau jadi martir sekonyol itu. Tapi sejarah sendiri yang akan memilih dan melakukan pengulangan ketika saatnya sudah tiba, Sa.

    Memilih martir seperti gambling di meja dadu. Dan itu resiko para the man on the street itu. Resiko yang membuat saya jengkel jika ada artikel yang merutuki mereka secara keterlaluan. Menuduh mereka sebagai gerombolan anarkis tidak intelek.

    Ada kalanya saya berpikir bahwa karikatur satir di postinganmu ini mestinya menyadarkan para blogger seperti kita utk memandang secara sederhana saja seperti postingan ini. Tidak perlu mencak-mencak karena kita tidak ada dalam barisan yang melawan pentungan dan peluru karet itu, dan berlindung di balik kata “Setidaknya kami menulis… we’re doing something!”

    Benar tidak, bro? ๐Ÿ˜€

    Reply

  4. @alex : dari sisi Alm. Elang, arif rahman, dan mereka semua yang martir, JELAS mereka adalah pejuang, dan bangga bisa mnejadi pintu pendobrak perubahan…

    tapi cobalah berpikir,..
    kenapa yang menyeting sebuah gerakan tidak pernah menjadi martir?
    kenapa yang menjadi steering person tidak pernah menjadi martir?
    kenapa mereka malah mendapat kursi, setelah teman2nya menjadi martir?

    Kadang saya percaya sebuah prasangka paling buruk,..
    semua gerakan ada jalurnya.. ada rencananya,.. dari mindset leader nya di tataran politik hingga ketika di lapangan..
    Dan bisa jadi mereka telah dipilih untuk menjadi martir sebagai pemulus sebuah dobrakan…

    Dan pesan saya soal “silahkan menjadi martir”…
    itu adalah sebuah saran,..
    karena toh ketika sudah ada darah mengalir,..
    biasanya jalan menjadi mulus untuk sebuah dobrakan..

    Btw,..
    demo yang berjalan tidak di-handle sedemikian rupa oleh pihak yang seharusnya meng-handle..
    apakah ini pertanda bahwa,.. sudah tercipta opinion cluster dalam ranah penguasa?
    wallahualam…
    yang pasti belum ada tanda2 sebuah dobrakan, kawan…

    Reply

  5. tapi cobalah berpikir,..
    kenapa yang menyeting sebuah gerakan tidak pernah menjadi martir?
    kenapa yang menjadi steering person tidak pernah menjadi martir?
    kenapa mereka malah mendapat kursi, setelah teman2nya menjadi martir?

    Dan kita memiliki pertanyaan yang sama. Pertanyaan tentang hal yang saya tidak sukai sendiri. Pertanyaan yang saya menebak jawabannya sendiri.

    Karena mereka adalah INTELEK yang merasa terlalu berharga utk berdiri di barisan depan dengan resiko menjadi martir. Mungkin sama inteleknya dengan para pakar ekonomi dan politik yang mengeluarkan statemen provokatif dan bisa nyaman-nyaman menunggu ekses dari para martir yang tumbang. Mungkin juga ada samanya dengan blogger seperti saya yang menganalisa dan mendukung perubahan dari balik layar monitor.

    Kesalahan demikian cukup rumit juga, bro. Terkadang para demonstran ini, mahasiswa dan pemuda, mengkultuskan sosok-sosok yang mereka anggap intelek dan begitu berharga utk turun ke jalan. Lama-kelamaan, ini membuat yang dikultuskan besar kepala dan “Oh iya! Biarkan itu urusan anak-anak saja…”

    Review 1998 : Dimana Amien saat demonstran bentrok di depan Senayan? Dimana Mega? Mereka nongol setelah darah tumpah dan senayan dikuasai.

    Intinya: saya juga tidak suka dengan yang demikian. Ketidaksukaan yang saya sendiri jadikan fitnah pada anak-anak “Jangan… cari jalan terbaik dulu. Cari jalan yang menurut para intelek lebih intelektuil dan eleghan…” ๐Ÿ˜€

    Saya sendiri bukan steering person. Jika saat ini ada anak-anak yang bertanya, karena mereka tahu bahwa saya mengalami sakit yang sama dengan pengkhianatan para senior-senior lama, seperti the so-called aktivis yang sekarang berkuasa di sini dan saya ceritakan sama kamu betapa ia sudah megah dan nyaman sekarang di rumah dinas.

    Apa dia juga di barisan depan Baiturrahman? Tidak. Sementara yang lain mesti memanjat tembok rumah malam2 utk kabur, mesti menjadi bohemian dlm pelarian, orang-orang yang ditokohkan itu lebih nyaman jika pun ada aksi terhadap mereka.

    Kadang saya percaya sebuah prasangka paling buruk,..
    semua gerakan ada jalurnya.. ada rencananya,.. dari mindset leader nya di tataran politik hingga ketika di lapangan..

    Prasangka itu tidak salah. You’re not alone. Saya bukan tdk berprasangka demikian, bahkan melihat sendiri yang demikian. Sudah bisa dikatakan prasangkanya publik.

    Tapi saya terbatas pada apa yang saya tidak tahu maka saya berprasangka. Melihat iya, memahami belum tentu. Jadi apa yang saya lihat dari luar, tidak bisa menjadi pembenaran, bukan?

    Itu sebabnya saya katakan, postingan begini, yang tidak menyalahkan kiri dan kanan, dan memberi kesempatan siapapun menjalankan apa yang ingin dijalankan, saya beri tabik.

    Saya bosan melihat artikel yang sibuk memaki demonstran di jalanan, karena merasa terganggu entah matanya entah kenangan buruk yang pernah dialaminya. Biarkan saja. Serahkan pada sejarah dan kritisi sebisanya. Lebih bagus jika bisa memberikan analisa dan solusi praktis.

    apakah ini pertanda bahwa,.. sudah tercipta opinion cluster dalam ranah penguasa?
    wallahualamโ€ฆ

    Wallahu’alam juga, bro. Wallahu’alam.

    Tak ada yang tahu pasti ada apa di balik tembok yang memagari ranah penguasa itu. Dan kita akan tetap tidak tahu pasti selama ada kejijikan untuk mendekati ranah tersebut, mengintip ke dalam atau mencoba masuk. Kejijikan *maaf* pengagum catatan harian seorang demonstran™ itu, yang terlalu jijik utk berkubang dan merasakan kubangan di ranah tersebut. Entah karena memang idealis atau karena ketakutan nama akan tercemar. I don’t know.

    yang pasti belum ada tanda2 sebuah dobrakan, kawanโ€ฆ

    Dobrakan, belum. Tapi letupan adalah keniscayaan. Dengan atau tanpa dokter, bisul akan tetap pecah. Bisul akan tetap pecah, Leksa. Entah di masa kita masih hidup, atau kalau kita sudah nginap abadi di prodeo pemakaman.

    Cuma, apakah letupan itu akan menjadi sebuah dobrakan atau malah pengulangan kembali dengan model flash playback, itu masih menjadi puzzle yang belum selesai.

    Reply

  6. meski bensin telah naik..tapi kita gak perlu sesali dan stress, cari alternatif lain utk berusaha kreatif mencari uang…salah satu nya jadi enterpreneur ๐Ÿ˜€ *nyambung gak sih…heheheh*

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.