Semoga Mendung Tidak Turun Sore Ini

Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata “Mari kita Selesaikan Malam ini..”

Kau tahu itu artinya apa? Karena mereka tidak pernah bisa memiliki senja yang sekedar dilewati indahnya. Sekedar melewati batas-batas, antara semringis mentari dan kelam malam sebelum bulan diufuk timur menari. Senja tidak terjamah rupa-rupa manusia kota. Bahkan tidak untuk ku atau pun kau yang sering lupa waktu di antara hari-hari.

Gelap dan terang, keduanya berlangsung lama dalam hitungan waktu. Tetapi tapal batas keduanya hanya seperti jeda dan hela napas. Ketika subuh datang, justru di saat lelap menggelayut dibalik selimut-selimut wangi milik kita. Ketika senja datang, rasa lelah menutupi kesadaran-kesadaran kita seperti tertidur. Aku melihat tidak ada bedanya antara subuh dan senja, tetapi aku lebih memilih untuk menikmati senja. Waktu ku cukup banyak untuk menandai detik-detik senja.

Jangan kau masukkan gernaha sebagai jawantah tapal batas. Bathara Kala dalam cerita bisa marah jika kau samakan dia dengan senja. Para pecinta senja guratan Seno juga akan bersedih jika babak senja yang indah dalam karya-karyanya disamakan demikian. Bukan karena gerhana tidak indah, bukan karena Bathara Kala bermuka durjana nan nista, sedang senja mewakili rasa-rasa roman yang membuat setiap hati redam. Hanya saja tak elok jika menyandingkan sebuah rubi kuning keemasan dengan selendang emas yang kemilaunya sepanjang batas cakrawala.

Kabarnya matahari tidak pernah tenggelam di negeri senja. Aku yakin kau sudah baca babak itu dalam Negeri Senja. Pintar sekali Seno menggambarkan keindahan senja. Aku tidak pernah kuasa mendeskripsikannya seperti itu, selain dalam mimpi-mimpi yang kadang aku ingat atau tidak. Apalagi sambil menunggang unta. Setahu ku, kuda saja jarang yang mau diajak berjalan melintasi padang safana dengan latar belakang senja. Entah darimana ide lelaki itu membawa unta sebagai perias latar cerita.

Aku juga mendengar kabar, banyak orang-orang dari Tugu Yogyakarta ingin menuju ke sana, ke Negeri Senja. Entah kenapa. Aku hanya tahu satu arah perihal senja. Ketika bukit-bukit di Pasundan baru saja menyelesaikan babak senjanya, justru aku menuju arah berlawanan dari sang senja. Menuju timur menumpang batas gerbong kereta, meninggalkan senja di ufuk barat yang masih menyisakan kemilaunya. AKu masih bisa melihat redupnya turun perlahan, sembunyi-sembunyi membuka pintu kereta yang melaju kencang. Lalu gelap, hanya ada suara besi dan tiupan angin malam, tersadar sedetik kemudian sudah berada di Stasiun Yogya dengan latar suara pengajian subuh yang sumbang oleh kaset yang diputar bertahun-tahun lamanya.

Kau salah jika menilaiku tidak menikmati senja ufuk barat. Jelas aku menikmati. Prasangka mu ada resah di hatiku membawa segala roman duka, melarikan diri menuju gelap yang jumawa. Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya percaya senja juga ada di ufuk timur sana. Seperti senja yang ada di barat, selatan, utara, bahkan mata angin yang tidak terpetakan. Aku mencari senja-senja yang berbeda. Senja yang sedang bergulat dengan asa, mencari rasa dan terpekur dalam pikirnya yang tidak pernah sia-sia. Tetapi apakah senja-senja itu tahu kalau aku mencarinya? Entahlah..

Biarkan itu menjadi rahasia dari setiap perjalananku. Yang pasti aku masih sempatkan hati berteduh sejenak di antara jalan kota, kampung, rel, laut dan sawah jika senja-senja itu tiba. Nikmati saja indahnya, seperti larik paragraph Seno mengagungkannya,

“Segalanya serba keemasan ketika aku memasuki kota itu, serba merah keemas-emasan karena siraman cahaya matahari separuh yang bertengger di cakrawala itu. Kulihat cahaya senja seperti jalinan lembut benang-benang emas yang terpancang, dari matahari langsung ke jendela, ke dinding, ke pohon, dan ke daun-daun. Seperti garis-garis, seperti balok-balok, seperti tiang-tiang yang direbahkan. Rasanya baru sekali ini aku melihat cahaya berleret-leret begitu nyata, seolah-olah benda padat yang bisa dipegang. Tapi tentu saja cahaya bukan benda padat dan orang-orang berkerudung, bersorban, dan bersarung melewatinya sehingga cahaya itu seperti riak kolam yang tersibak-sibak. Cahaya itu menjadi terang dan gelap karena orang-orang yang lewat dan karena itu Negeri Senja seperti sebuah kota yang tenggelam dalam lautan cahaya sepenuhnya. Aku hanya seperti sebuah bayang-bayang yang berjalan. Kulihat bayang-bayangku sendiri menunggangi unta di tembok-tembok kota.”

Negeri Senja – Seno Gumira

Senja, semoga mendung tidak turun sore ini…

Gambar dari Onlysenja

13 Comments

  1. Ternyata kamu memegang janjimu Jal. Sebelum seluruh bloger nusantara bergabung di bawah naungan panji Cahandong, pantang bagimu bersenang-senang dengan tomat di manapun dia berada..

    Reply

  2. Nrittt..Seno..belum abis bukunya kubaca..aih senja..saya menyukai senja, karena dia pengantar ke malam tercintaku..

    Reply

  3. mas, senja itu seperti akhir usia. entah kenapa matahari terbit di timur, senja terlihat di barat. saya percaya pertanda. semua soal pertanda. saya orang jawa. kita orang timur, budaya kita perlahan hilang ditelan budaya barat. mungkin hari ini kita belum sadar. tapi satu kali mungkin banyak yang sadar. seperti juga senja, kita yang orang timur, akan tenggelam ke barat.

    sedih saya.

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.