Rindu Memaki

Mbak“Mbak…”, aku lebih memilih memberi awalan ini di depan namamu yang manis itu sekarang. Kau semakin bersinar di negeri orang, makin dewasa, semakin menjadi “wanita” dalam mimpi-mimpimu. Bahagia terlukis di setiap gambar-gambar mu. Namun gambar-gambar yang tak pernah kuasa aku bingkai lagi.

Bener Mbak, nama mu itu memang manis sekali. Bukan gombal anak tingkat satu. Sudah dari dulu aku katakan nama mu terlalu indah untuk seorang wanita dengan fragmen hidup yang keras. Tetapi aku mengenalmu dengan segala mimpi mu, dari yang indah laksana senja di setiap sore kita menunggu angkot di antara utara selatan kampus biru, hingga mimpi-mimpi kejam berisi makian mengutuk hidup, tersadar bahwa masih ada darah sebelum nyawa kita meleksa pergi.

Mbak, kadang kau menangis ketika terlalu takut akan mimpi-mimpi buruk itu. Tidak cukup dengan bercerita dan menangis, kau bahkan menambahi kata anjing di setiap kalimat mu. Tak mengapa, karena aku percaya bahwa dunia kita sama dalam menilai anjing. Bukan karena anjing itu haram, juga bukan karena anjing adalah binatang yang jorok. Kita pernah sepakat, karena anjing adalah hanya sekedar binatang. Binatang paling dekat yang manusia temui sehari-hari dengan sifat galak dan kasar, bisa menggigit mengerikan dan akhirnya dilempari terhinakan. Haha.. sebuah kesepakatan paling merusak logika. Dan kita tertawa.

Mbak, aku ingat kau punya seekor kucing di rumah mu. Kau bercerita bahwa kucing itu adalah generasi kesekian yang tetap bertahan di rumah mu dari kucing-kucing betina lain yang lahir, pergi atau mati. Kau bilang, nenek si kucing itu dulu sudah ada sejak kau masih percaya mereka juga makan roti dan keju seperti juga manusia. Aneh, karena aku justru sangat ingat kalau cucu-nya yang gemuk itu juga doyan roti keju. Jika aku datang bermain ke rumah mu membawa roti martabak bertabur keju, dengan manja dia meminta jatah di kaki ku. Ah, aku jadi percaya kalau kau telah merusak genetika alamiah kucing-kucing yang hidup turun temurun di rumah mu.

Mbak, masih ingat bagaimana dulu aku disebut teroris oleh ibu mu? Karena rambut ku yang waktu itu gondrong pertama kalinya tak terurus. Padahal seloroh ku cukup jelas, rambut ku ini memang susah diurus, Bu. Ya ya,..ibu mu sebenarnya tidak protes dengan rambutku itu, tetapi dia cuma kaget melihat photo kita yang hanya berdua “pertama kali”. Mungkin waktu itu dia berpikir apa yang salah di photo itu. Apakah gondrongku yang terlalu buruk merusak frame photobox itu? Atau anaknya yang terlalu cantik? Sebenarnya bagiku sama saja, kedua alasan itu benar. Supaya adil, seharusnya si ibu juga komplain waktu itu karena memiliki anak gadis yang cantik seperti mu.

Mbak, inget malam dimana tiba-tiba kau merusak barisan sms busuk kita? Entah bagaimana awalnya, ketika sms-sms kita berbicara tentang teori 3 kelas feminis, patriaki dan memaksa keterkaitan keduanya dengan kapitalisme, kau tanpa dosa me”maki”ku karena sering memaksa dirimu memakai jaket merah bau milikku jika kuantar pulang melintasi Bandung-Cimahi. Ya, aku ingat sekali kau memang selalu begitu, menolak memakai jaket himpunan jurusan ku, karena kau merasa jaket himpunan tipis mu itu lebih gagah dan ego. Memalukan bila memakai jaket himpunan lain yang seharusnya menjadi musuh di setiap pertandingan olah raga dan lomba kampus. Padahal aku tidak berpikir begitu. Toh, kalau angin badai salju datang pun, himpunan mu atau himpunan ku juga akan merancang ulang desain jaket-jaket ego ini menjadi lebih tebal dan manusiawi buat semua.

Mbak, makian mu di sms itu adalah kebodohan terbesar ku membalasnya dengan memaki tidak kalah hebat. Besok dan besoknya lagi kau selalu ingin memaki dan mengejekku. Bahkan tidak puas dengan barisan sms, kau berusaha menyerang telak memuaskan ego mu setiap jeda kuliah-kuliah kita. Mencari titik tengah geografis warung makan di sekitar kampus, karena kau berada di ujung Barat Daya, sedangkan aku di Timur Laut. Apalah daya berusaha ingin adil, karena akhirnya selalu aku yang datang ke kantin Barat Daya sana. Berjalan jauh diagonal, hanya untuk makan siang, menerima makian, lalu makan pun aku yang bayar. Sial!

Mbak, terakhir yang kuingat, suatu malam setelah acara entah apa itu, kau memaksa ku halus untuk menjemputmu di jurusan mu. Dengan dalih buku “Saksi Mata” Seno milik ku ingin kau kembalikan. Aku pun berjalan dalam gelap di lorong-lorong kampus. Terlihat kau duduk di anak tangga pojok bangunan tua segi delapan itu. Mendekap buku ku di dada mu dengan lunglai dan kedinginan, tidak ada takut di mata mu yang tetap bercahaya di dalam remang-remang sinar bintang. Cahaya mata mu seperti kemilau kaca. Dan rupanya memang matamu sedang berkaca-kaca saat itu…

Aku ingat. ingat sekali, tersadar dalam putaran musik Rod Stewart malam ini. Seandainya aku tidak datang malam itu untuk menjemput buku yang kau katakan menjijikan tersebut, mungkin tidak akan ada pembicaraan-pembicaraan merusak di tahun-tahun berikutnya. Cukup saling memaki. Aku rindukan saat-saat makian-makian mu melacur dalam hari-hari ku. Seandainya saja kita terus memaki, kita pasti akan terus saling memaki sampai sekarang.

Ohya, ibu mu mengabari ku beberapa minggu lalu. Si Kucing roti keju itu sudah mati sakit tua. Seperti kata ku dulu, kucing jantan memang selalu begitu. Memilih kesepian sampai akhir hidupnya.

32 Comments

  1. “Berjalan jauh diagonal, hanya untuk makan siang, menerima makian, lalu makan pun aku yang bayar. Sial!”

    Nasib jadi lelaki, kekeke :mrgreen:

    ughhh baca ini jadi…. pengen nangis. *kangen someone*

    Reply

  2. romantisme yg terdiri dari percakapan/fragmen yang indah/menyenangkan itu biasa. tp melankolia yang disusun dari sederet makian dan kerasnya pertengkaran itu jauh lbh menarik. bagus, jal!

    Reply

  3. Seperti kata ku dulu, kucing jantan memang selalu begitu. Memilih kesepian sampai akhir hidupnya.

    jadi km sedang memilih jalan hidup yang sama dengan kucing jantan itu?

    Reply

  4. lebih baik di email saja, postingan seperti ini tidak semua orang mengerti. jadi tidak istimewa.

    *abis minum pil sarkas*

    Reply

  5. ehmmm..cantik mas..btw..ini mak jleb!!
    see i told u..u and ur writting is damn cool!!saya ga mungkin bisa..hehehe..

    Reply

  6. Someday human will reliaze that they not need a lover, they need a friend, not friends, but a friend, a single and particular friend, identic, and every human has a single part, that’s way call a partner of life, not a lover of life. Today is not gonna be some with yesterday, and tommorow can never be same with today, but there’s something not be change, it’s call faith

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.