Revolusioner (part 1) – Tentara

Letjend (alm) Agus WirahadikusumaRevolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata revolusi sendiri. Frame yang telah lama dipaksakan tertelan untuk sekian generasi, bahwa revolusi adalah “darah”.

Sementara bagi kaum muda, revolusi menjadi momok karena terkesan serius ketinggalan zaman. Inpirasi tua tukang demo, sok aktifis, dan lebih buruknya tercium berbau paham terlarang. Dan mereka dalam kostum clubbing malam berseloroh “ihh…emang masih jaman ya?”

Padahal revolusi cuma sebuah kata. Yang memiliki arti tidak lebih dari perubahan yang dipercepat. Anak-anak muda bersemangat seperti saya mungkin, bisa jadi hanya mengenal tokoh-tokoh revolusioner negeri lain. Stalin yang tangguh, Che yang berwajah kokoh, Chavez yang mandiri, atau Sun Yat Sen yang cerdas. Padahal kita memiliki tokoh-tokoh revolusioner kita sendiri. Tan Malaka dan Sjahrir yang hebat itu. Atau Soekarno dan kawan-kawan di masanya.

Oke, itu dulu. Mereka lapuk dan bapuk dalam catatan sejarah kita. Bagaimana dengan sekarang? Saat ini? Agak sulit melihat pemikiran revolusioner tokoh-tokoh Indonesia di masa sekarang. Tetapi paling tidak saya punya sedikit catatan dalam memori saya, penilaian saya tentang mereka yang berpikiran/bervisi revolusioner dalam pertemuan saya dengan mereka.

Di tahun 2000, sekolah saya sempat mengundang seorang Petinggi TNI. Tidak main-main, jabatannya adalah (mungkin) Pangkostrad saat itu. Saya lupa tepatnya kapan acara ceramah di sekolah saya tersebut. Yang pasti 29 Maret 2000, Letjen Agus Wirahadikusuma, dikenal dengan nama AWK, diangkat Presiden Gusdur sebagai Pangkostrad. Dan diberhentikan 3 bulan kemudian. Beliau adalah keponakan sekaligus anak angkat dari mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma.

Masih ingat oleh saya, dengan pakaian hijaunya itu, di balairung segilima sekolah kami, beliau terlihat dalam rona muka yang sangat serius. Berbeda dengan tamu-tamu lainnya yang biasa datang ke sekolah ini. Walau mereka dari kalangan TNI, tetapi sangat menyesuaikan diri dengan anak-anak remaja seperti kami. Pembicaraan soal nasionalisme dan negara dibahas secara santai dan disesuaikan untuk anak-anak muda -hanya sekedar tahu.

Letjen AWK saat itu dengan berapi-api (ya saya ingat sekali) menyampaikan pesan-pesan menekan, bahwa reformasi atau revolusi sekalipun namanya adalah tugas bersama-sama, sipil maupun TNI. Saat itu TNI dalam kondisi perdebatan panas perihal reformasi di tubuhnya sendiri. AWK berkata , setiap orang bahkan hingga TNI pun tidak luput dari resiko untuk berubah. Dan sekolah saya, sebagai bagian dari tubuh TNI, juga harus menyesuaikan diri. Reformasi bukanlah sebuah hantu menakutkan. Ketakutan hanyalah bagi orang-orang yang bersalah, layak untuk mendapat ganjaran atas penderitaan rakyat selama ini. Yang siap untuk berubah menuju revolusi Indonesia baru, diajak oleh beliau untuk maju bersama.

Beliau juga sempat bercerita tentang pengalaman-pengalamannya menempuh pendidikan militer. Satu hal lain yang sangat saya ingat. Beliau membanggakan kesempatan bisa menempuh pendidikan Ranger di USA. Ranger itu bisa dikatakan sebagai pasukan khususnya Army Paman Sam. Beliau senang bisa mencuri ilmu-ilmu perang Ranger Amerika perihal konsep gerilya Vietkong. Ranger Amerika menjadi sangat fokus membedah pengetahuan gerilya daerah tropis, sejak kekalahan telak di masa perang Vietnam.

Yang saya tangkap saat itu, wow..! Tentara berpangkat tinggi satu ini memang beda dalam visi dan semangat. Bercerita dengan lugas, tegas dan sangat menohok ke persoalan bangsa. Terutama tentang hubungan antara TNI – sipil dan reformasi dalam tubuh TNI, sesuatu hal yang saya tahu sangat tabu dibicarakan oleh korps berbaju hijau.

Selepas ceramah itu, saya suka mencari info tentang lelaki dengan inspirasi liar ini. Terkenal sebagai jendral vokal dalam jajaran tubuh petinggi TNI. Bahkan sempat ada berita besar beliau membongkar korupsi Yayasan Dharma Putera Kostrad senilai Rp 189 milyar (dalam artikel si peneliti sosial konflik SARA Maluku, George J. Aditjondro – “Orang-orang Jakarta Dibalik Tragedi Maluku“). Satu kesimpulan bagi saya untuknya saat itu . Tentara yang hebat!

Hingga ketika di Agustus 2001, saya mendengar beliau meninggal dunia, saya kaget, sekaligus sedih. Kenapa orang seperti beliau malah harus pergi duluan. Sementara masih banyak tentara-tentara yang lebih pantas pergi berkalang dosa dibandingkan beliau?

Kondisi kematian beliau memang tidak jelas detailnya. Hanya dikabarkan sakit jantung mendadak. Walau sebenarnya dalam pengakuan keluarga, almarhum masih sehat-sehat saja di hari sebelumnya, hingga esok paginya mulai tidak sehat. Dan kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit Pusat Pertamina. Saya jadi teringat kasus-kasus kepergian tokoh-tokoh lainnya yang meninggal secara misterius, seperti jaksa agung Baharuddin Lopa maupun Munir Thalib. Isu pun berhembus kencang dimana meninggalnya AWK erat kaitannya dengan konspirasi para Pati AD yang berseberangan blok dengan AWK untuk menjegal AWK menjadi KASAD. Para Pati AD ini sempat mengadakan pertemuan di Bandung 9 Oktober 2000 untuk membicarakan perihal pengajuan AWK ke Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Dan konspirasi berlanjut, dimana para perwira yang resah tersebut, disinyalir tersangkut luas dalam jaringan tentara yang membawa tungku api di jantung tragedi Maluku, sepanjang 1999 hingga 2001, dan percikannya masih terasa panas sampai sekarang.

-0o0-

Suatu keberuntungan bagi saya mengenal beberapa tentara-tentara hebat seperti ini. Cerita lain adalah seorang Kolonel Marinir bernama Tjuk Sutanto yang sangat menginspirasi sudut pandang saya tentang bangsa. Beliau menjadi pengasuh saya di sekolah itu dulu. Dan setahu saya penempatannya selalu dalam lingkup pendidikan di tubuh TNI. Sebuah jabatan yang memang bukan lah posisi yang strategis. Atau sengaja ditempatkan di posisi tidak strategis seperti itu? Entahlah. Satu sisi, jika anak didiknya cukup “cerdas”, semoga bakal banyak orang-orang berpikiran hebat seperti beliau lahir.

Sempat juga saya melihat ketangkasan seorang Danrem Teuku Umar saat Musibah Tsunami menimpa Aceh. Saat itu saya bergabung di Tsunami Emergency Response di kota Meulaboh, Aceh Barat. Ketika semua jajaran Petinggi Pemda menghilang (entah karena trauma atau mengurusi dirinya sendiri), Danrem ini me-manage kondisi darurat menjadi lebih baik dengan nurani membantu rakyat yang menderita dalam barak. Paling tidak itulah sedikit banyak kesan yang sempat saya tangkap. Satu cerita miris saya, saat tim kami membutuhkan gudang tempat menaruh bantuan, kami berencana menggunakan rumah besar kosong milik seorang pejabat daerah di kota Meulaboh itu. Edan! Kami tidak mendapat izin dari sang pemilik. Malu saya saat itu, karena sebagai putra Aceh, datang ke kota ini dengan teman-teman dari tanah berbeda yang ikhlas menanggung resiko demi saudara-saudara satu daerah saya. Dan kemudian Danrem ini lah yang membantu mengurus tempat lain bagi kami untuk menyetok berbagai bantuan. Bahkan armada bantuan militernya pun berhak digunakan oleh kalangan LSM/Volunter manapun.

Padahal di tengah konflik yang masih terus berlangsung saat itu, saya bisa mengerti resiko berat yang ditanggungnya. Dualisme antara nurani dan berpegang teguh pada perintah (politik) komando atasannya. Saya bisa menangkap pesan ini dari obrolan-obrolan ringan dengannya. Dalam setiap malam rapat satuan koordinasi pelaksana (SatKorLak), selama 2 bulan lebih, beliau langsung memimpin rapat. Mengatur setiap bantuan dan teknis pelaksanaan. Cara militer memang efektif, tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Berbeda dengan setelah masa rehabilitasi diserahkan kembali kepada sipil 3 bulan kemudian, dimana terlalu banyak intrik, kongkalikong yang mencium-cium kesempatan. Perbedaan mencolok yang saya lihat dengan mata kepala sendiri saat itu.

Segala keputusan ala militer saat itu hanyalah untuk bantuan dan keselamatan warga. Bahkan daerah rawan kontak senjata pun diterjang demi sampainya bantuan di daerah-daerah belum terjamah. Pernah 2 truk tentara dan personil pun dikirimkannya menemani tim saya survei ke daerah yang sangat minim menerima bantuan. Terbayang bagaimana tentara-tentara ini dalam kondisi dag dig dug melewati daerah rawan, dan kemudian setiba di sana pun mereka turut membagi-bagi bantuan.

Sepenggal cerita dari mereka-mereka yang mau melakukan akselerasi untuk sedikit perubahan yang lebih baik. Para Tentara Revolusioner.

“Kalau kita berbicara mengenai moralitas, saya minta dikembalikan lagi. Apakah penculikan itu bermoral? Apakah permainan-permainan yang menimbulkan kerusuhan Mei itu bermoral? Apakah penembakan-penembakan dan tindakan-tindakan di luar batas-batas profesionalitas sebagai tentara terhadap mahasiswa itu bermoral? Termasuk juga masalah-masalah di Timor Timur dan Aceh. Apakah itu bermoral? Saya kembalikan lagi. Jangan keluar dari kenyataan. Itu sangat tidak bermoral dan sangat merusak kredibilitas TNI sebagai tentara yang seharusnya dicintai rakyat,”

Letnan Jendral (Alm) Agus Wirahadikusma

(bersambung)

9 Comments

  1. jadi, revolusi menjadi kata yang seksi ya mas

    dimana saya bisa menemukan banyak artikel tentang hal-hal seperti ini mas?
    bisa kasih saya link? btw, ini bagus sekali.

    Reply

  2. @pudakonline : sebenarnya saya cuma mengolah memori saya, kenmudian mencari bahan lewat Internet. *thanks to Mbah Gugel
    Buku kang,.. buku adalah inspirasi, koran adalah sumber imaginasi,.. sedikit informasi dari mereka, dibantu google, maka lengkaplah keinginan menulis saya 😀

    @Senja : status Quo tidak selalu Buruk, Nja.

    Reply

  3. Saya sangat kagum dengan almarhum AWK. Sayang beliau berpulang terlalu cepat meninggalkan reformasi TNI yang belum selesai.

    Reply

  4. Saat DOM (Daerah Operasi Militer) Aparat berpesta dgn senjatanya, Orang aceh divonis pemberontak, halal untuk ditembak! Negara apa ini?
    Saya diam-merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan, ternyata saya tetap cinta Indonesia.
    Para pahlawan, mari kita kopdar disurga..

    Reply

  5. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 6 Juni 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm Scientific System of Science – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.