Politik

left the relSecara naluriah, manusia akan selalu berpolitik. Sudah merupakan aturan main yang mungkin sudah berasal dari sono-nya. Seorang anak kecil juga bisa berpolitik untuk mendapatkan uang jajan. Seorang murid berpolitik terhadap guru-gurunya. Seorang pedagang juga berpolitik terhadap pelanggannya. Seorang pejabat apalagi.

Tapi yang paling tidak menyenangkan adalah ketika manusia berpolitik untuk cinta.

 

Ah, seandainya manusia tidak difasilitasi dengan otak,
cuma hati yang berbicara….

 

NB : Forget the politic, back to Jogja adem city..

Berhaji dan Mabrur

Dulu ibu saya pernah bilang “Jadi haji itu paling berat bukan ketika berusaha bisa naik haji, tetapi ketika sudah selesai berhaji”. Seperti itu jadi ukuran yang benar adanya. Sama halnya ketika ibadah puasa ramadhan yang diadakan tiap tahun itu. Ada 3 tahapan khusus selama 30 hari berpuasa, dengan tingkatan yang berbeda. Diharapkan seorang muslim bisa mencapai tahap tertinggi, yaitu taqwa. Dan pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menjadi takwa hingga ramadhan berikutnya? Atau jangan-jangan karena Ramadhan setiap tahun adanya, maka maksud sesungguhnya adalah “dosa – hapus – dosa lagi – hapus lagi – dan seterusnya”.

Apalagi berhaji mungkin. Yang dikata naik haji haruslah benar-benar menuju pada takwa, menghapus dosa, mencium hajar aswat. Tetapi saya malah melihat dengan kondisi ekonomi yang mungkin semakin mapan di negeri ini, sepertinya berwisata religi bukanlah halangan lagi. Artis-artis juga bisa umrah dan haji berkali-kali, tetapi berita gosip putus cerai selingkuhnya pun bisa berulang kali di televisi.

Continue reading →