Percakapan Beda Dunia

Indonesia EnlightmentKawan, aku kembali kepada cerita tentang kondisi yang memiriskan hati. Lebih tepatnya bukan kembali. Tetapi memang setiap saat, setiap hari, setiap aku membuka koran, internet, blog dan bahkan membuka mata dan telinga ini (dari dulu), seolah-olah angin sekitar aku mengabarkan bahwa negeri ini benar-benar berada dalam kerusakan. Dari kerusakan alam, kerusakan moral, kehancuran nilai kemanusiaan, rusaknya hukum yang adil sampai kerusakan bangunan sosial.

Beberapa saat lalu aku tercenung dengan berita kelaparan yang dikabarkan FAO itu. Walau aku paling susah mempercayai informasi dari lembaga-lembaga dunia macam ini. Tetapi saat ini ada benarnya mengakui ini dengan cara berbeda. Coba lihat sekeliling kita, kawan. Kondisi ekonomi negara sesuai kata Statistik yang dibangga-banggakan pemimpin negeri ini, justru kontradiksi dengan mata – telinga ku. Sangat jauh malah.

Kelaparan bukanlah karena sekedar kemiskinan. Kemiskinan juga bukanlah selalu akibat kebodohan dan kemalasan. Sangat naif jika kita menyalahkan bodoh dan malas adalah kesalahan saudara-saudara kita yang tidak beruntung itu. Memahami hal ini dengan percaya bahwa kekurangan saudara-saudara kita adalah akibat jeleknya nasib? Dan aku bisa menjawab ini dengan “Wow,.. Adil sekali si Tuhan kepada diri mu kawan, yang serba berkelengkapan?”

Kewajiban negara untuk menjamin kehidupan yang layak bagi mereka yang serba kekurangan. Pendidikan melawan kemiskinan juga menjadi point penting sebuah tanggung jawab negara. Mengatur ekonomi yang bersih dan berpihak pada rakyat adalah moral pemerintah. Mungkin pernyataan ku ini membuat kau melabeli aku sebagai penganut sosialis. Ah, tidak perlu kau labeli sebagai sosialis, atau sebuah paham-paham ekstrim sekalipun, pernyataan itu sesungguhnya datang dari keresahan hati nurani ku sebagai manusia. Cukup labeli aku dengan manusia saja.

Jika kau melihat problematika tersebut hanya sebatas perbedaan ideologi, maka tidak akan pernah habisnya para pemikir dan akademisi berdebat, sementara rakyat terus kelaparan. Antar ekonom dan pengusaha grasak grusuk berdiskusi keuntungan devisa yang tertinggi dengan aset-aset negara trilyunan rupiah dan dolar, tetapi toh diluar mobil mereka, di tengah kemacetan, anak-anak jalanan menggedor-gedor kaca jendela mercy mereka. Kumpulan cecunguk di gedung dewan sok sibuk teriak-teriak layaknya pahlawan bagi partai mereka yang mulia, sementara sekedar rapat anggaran saja harus disuapi uang absensi. Komandan-komandan petro dolar duduk bersama para komandan bersenjata di dalam hotel mewah untuk blok-blok minyak baru mereka, sementara di lantai bertanah, darah segar masih mengalir demi sebuah setingan terbaik bagi keserakahan mereka. Dan kau kawan ku, sekarang menjadi oportunis yang mulai bermanuver politik dengan indahnya seperti pasangan kaum elit yang saling berselingkuh diam-diam – dengan hawa membara pastinya. Ya, aku juga tahu, sekarang kau punya banyak pacar selain istrimu.

Pelik? Padahal mereka-mereka di atas kumpulan orang yang mempunyai kesempatan. Yang tadi kau katakan sebagai orang-orang beruntung berkat Tuhan.

Aku cuma bercerita layaknya pendongeng yang gagal pentas. Tanpa data semua keluh kesah ini adalah basbang . Kau cuma bisa menjawab pendek, semua juga tahu hal ini. Lantas jika kita semua tahu, lalu apa? Pemakluman?

Mungkin kita akan bercerita banyak dalam data nantinya, kawan. Apalah aku yang hanya bisa berkeluh kesah dalam ruang piksel ini. Aku sendiri termasuk kaum lapar yang berhati resah dengan waktu hidup yang sangat singkat. Semoga masih ada waktu untuk aku bercerita dengan data yang kau agung-agungkan itu.

Tetapi kau tetap kawanku. Tidak pernah menjadi musuhku. Karena sejauh-jauhnya kau berseberangan dengan ku, aku masih percaya bahwa Tuhan justru memberi takdir berbeda kepada ku. Aku harus mengawasi mu.

9 Comments

  1. Postingan yang keren..
    jadi mereka2 itu beruntung ya?jadi keberuntungan itu bisa saja disalahgunakan?
    hemm..saya tau penyebab negara ini masih banyak kelaparan, karena uang yang 6milyar dilarikan begitu saja ke kantong pribadi..HUH!!!

    Reply

  2. pagi tadi saya bangun pagi setelah sebulanan tiap malam begadang dan bangun sore, jujur saya mungkin orang yang mudah terharu.
    pasar beringharjo adalah tempat pertama yang saya datangi pagi ini, mungkin kemudian timbul pertanyaan, “ngapain lo ke beringharjo?”. jawabnya simpel, pasar beringharjo merupakan salah satu potret bangsa Indonesia dimana kemiskinan menggerogoti bangsa ini sedemikian rupa.
    saya melihat begitu banyak ibu-ibu dalam usia yang begitu renta, memanggul beban dagangan di punggungnya hingga terbongkok bongkok. saya menangis sesaat itu juga, saya malu pada diri sendiri. kemudian ada keamanan pasar yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, berusaha untuk menertibkan pasar, namun tidak tega pada para ibu yang tergopoh gopoh begitu rentanya mereka.
    saya hanya ingin berbagi, bahwa banyak yang tidak adil di indonesia, bahwa banyak yang perlu kita bantu di negeri kita ini.
    terimakasih mas leksa.

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.