Berkontemplasi Bersama Sawung Jabo

Sawung Jabo“Pokoknya putus..!!”
Njleb! Bibirku termangu dan otakku terus berputar. Apalagi alasan yang harus aku berikan? Lagu-lagu yang mengalun indah dari dentingan gitar Sawung Jabo pun tidak bisa mendamaikan hatimu malam ini. Bahkan sepanjang perjalanan menurun dari Selasar Sunaryo, puncak atas Dago Pakar, kau terus mengulang pernyataan itu tanpa henti. Dan sekarang aku hanya bisa mendesah perlahan, menselonjorkan kaki di kursi teras ini menghadapi mata mu yang penuh amarah dan air mata – sambil mengulang sisa-sisa nada sumbang musik tadi yang sempat ku tangkap satu dua. Aku tersenyum kecil, tetapi kecut dan pahit. Membayangkan lagu-lagu sang Sawung tadi seharusnya menjadikan malam ini sangat romantis.

Memori 5 tahun-an lalu itu terkenang begitu saja ketika kemarin di gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, saya menikmati denting gitar dari orang yang sama, Sawung Jabo. Memang denting-denting gitarnya tidak selalu mengalun pelan membuka memori. Kadang juga terdengar progresif dan menghentak ke dalam detak jantung. Jika sudah demikian, suara Sawung Jabo yang fals itu pun jadi nada-nada tambahan yang seolah-olah keluar dari hati tanpa bibir terbuka.

Menikmati musik-musik Sawung Jabo, seperti menggurat gelisah seorang anak manusia akan diri dan lingkungannya. Pencarian makna akan kesejatian hidup, cinta yang tulus, mimpi-mimpi dan tentunya penuh makna kontemplatif. Menurut Sawung Jabo sendiri, pertunjukan Rabu malam lalu sebagai unsur pencapaian estetis naluri bathin, agar dapat disosialisasikan serta diapresiasikan guna menambah khazanah perbendaharaan dunia musik di Indonesia. Untuk pertunjukan kali ini, Sawung Jabo memberikan tajuk “Memasuki Lorong Sunyi” sebagai bentuk pengakuan kelemahan diri manusia.

Pertunjukan kemarin malam itu berbeda dengan 5 tahun lalu yang saya tonton di Bandung. Kali ini nuansa musik Sawung Jabo lebih didominasi alat-alat musik orkestra, sejenis biola, bass betot, flute dan tarikan suara latar ala penyanyi gereja. Dulu di galeri Sunaryo Bandung, justru yang saya ingat adalah perpaduan musik etnik yang dipoles secara kontemporer, dimana ada tabuhan gendang suara-suara kulintang dan gemerincing air yang padu serasa berada di sawung persawahan desa yang tentram. Walau keduanya terkesan berbeda, ciri khas gitar Sawung Jabo sendiri beserta suaranya yang menyanyikan lirik-lirik kontemplatif itu tetap memberikan tekanan rasa yang sama.

Pemilihan gedung Societet sebagai panggung juga terasa pas dengan nuansa musik yang dibawakan saat ini. Sebuah gedung tua sisa zaman belanda yang masih layak pakai. Penonton serasa berada di dalam sebuah gedung opera di negeri Eropa. Dekorasi yang klasik dan tua namun terawat dengan baik, lumayan juga jika dilihat dari sisi akustik maupun tata lampu. Ah, senang rasanya menemukan sebuah gedung pertunjukan seperti ini. Saya memantapkan hati untuk meluangkan waktu jika ada pertunjukan lain digelar disini.

Hal lain yang saya tahu, pertunjukan ini adalah sebagai bentuk persahabatan antara Sawung Jabo dengan seniman-seniman Yogyakarta. Bisa dibilang adalah sebagai bentuk balas budi terhadap Yogyakarta dengan segala estetis seni budaya yang dimiliki, termasuk para pelaku seni di kota Gudeg ini. Dan itu terlihat dari kesan santai selama pertunjukan, obrolan canda dengan penonton, sangat khas gojekan angkringan. Bahkan Prof. Nano Tirto si pemain flute kenamaan itu juga didaulat manggung berkolaborasi dalam beberapa lagu.

Terlalu berat memahami musik Sawung Jabo? Bahkan sekedar menikmati saja juga masih kurang nyaman. Saya juga dulunya berpikir demikian. Sebagian orang juga mungkin berpikiran sama. Musik-musik yang easy listening dan akrab dengan telinga pasar sepertinya memang lebih diminati. Tetapi bagi saya yang pendengar musik abal-abal ini, apresiasi musik terkadang lebih dari sekedar menghafal lirik, atau melantunkan nada-nada yang akrab. Tidak heran kalau saya bisa memiliki lagu-lagu favorit dari berbagai band atau penyanyi solo. Aliran pun menjadi tidak terbatas. Saya menyukai beberapa lagu Linkin Park, System of Down – ala punk juga masih oke di hati. Alunan Beethoven Fifth versi orkestra ataupun versi raungan gitarnya Om Vai. Bisa juga lagu-lagunya Celine Dion atau Frank Sinatra. Dalam atau luar negeri. Band terkenal atau Indie, bagi saya sama saja akhirnya. Yang penting bisa menggugah selera.

Untuk musik-musik sejenis Sawung Jabo sendiri, yang kental dengan eksplorasi bunyi dan juga terkesan berlirik kontemplatif, memang lebih enak dinikmati dengan hati. Ya, saya pernah diceramahi seorang teman “Dengarlah alunan musik itu dengan hati. Karena bisa jadi sang pemusik menaruh potongan hatinya di setiap nada dan lirik”. Maka tidak salah jika saya melewati waktu sendiri, memanjakan diri di tengah keramaian Gedung Societet menikmati setiap alunan khas Sawung Jabo malam itu. Jika boleh dikata hingga mengalami orgasme rasa. Puas. Apalagi dengan harga tiket Lima Belas Ribu Rupiah saja, CD original 12 lagu yang dilantunkan malam ini pun sudah bisa saya bawa pulang.

Sambil berjalan pulang, mencari taksi, senyum puas tersungging. Terkenang saat yang sama 5 tahun lalu, berjalan pulang ditemani wanita itu.

18 Comments

  1. dan wanita inikah yang membuatmu tertohok setelah membaca postingan tentang logika vs cinta di blogku? ๐Ÿ˜€

    Reply

  2. sepertinya bukan wanita itu yang menohok ijal mbok… ๐Ÿ˜€
    gaya banget lo jal, ngafe di selasar sunaryo…diputusin pulak.. :))

    Reply

  3. โ€œDengarlah alunan musik itu dengan hati. Karena bisa jadi sang pemusik menaruh potongan hatinya di setiap nada dan lirikโ€

    tidak mungkinkah seorang bloger juga demikian sobat? menaruh serpihan hatinya dalam warna-warna kata? setidaknya dalam bagian awal tulisan ini hihi…
    dan nostalgia seperti cinta lama yang masih saja hangat

    Reply

  4. 1. venus
    Kalo saya bilang beda, betapa maruknya saya dengan wanita ๐Ÿ˜

    2. tukangkopi
    :-w … ktawa lagi!!

    3. Goop
    Ho oh …bener tu Om… memilih kata dalam menulis, seperti memilih nada dalam bermusik.. ๐Ÿ˜‰

    4. escoret
    Siap Om pepeng.. iki ono CD baru ne.. kalo yang laen2, neng HD ku yg rusak je ๐Ÿ™

    5. iman brotoseno
    Waaaa… ketahuan dah..gyahahaha.. ๐Ÿ˜€

    6. verlita
    ๐Ÿ˜ … santai Mbak Ver,.. jatuh dan putus cinta itu seperti roda kehidupan juga.. halahhh..bahasaku.. :))

    Reply

  5. Memori….Oh…Memori…!
    Cinta oh….cinta,kisahmu tiada pernah berhenti selalu terulang.

    Kok saya jadi puitis gini!
    *dilempar ke sungai*

    Reply

  6. hahaha… ada bagian curcolnya :))

    hmm.. deskripsinya mendetail bgt nie.. jadi mupeng pengen denger juga ๐Ÿ˜ฎ

    Reply

  7. ini tentang yang dulu atau diputusin lagi sama cw yang baru??

    makanya… jangan mikir yang serius…
    yang pentching ityu futuur… (dengan gayanya Cinta Laura)

    Reply

  8. sepertinya ada yang mengenang sesuatu, dan sesuatu itu sekarang telah hilang.. ah saya cuman bisanya menebak aja… dan biasanya 68% tebakan saya pasti meleset ๐Ÿ˜‰

    Reply

  9. mengenang dengan begitu mendalam..
    memang sih ya, ada saatnya kita mengalami kenyataan yang amat sulit dan menyedihkan saat terjadinya.
    tapi sesudah itu, beberapa tahun kemudian, hal yang sulit dan menyedihkan itu menjadi hal yang indah dalam kenangan dan memori kita.

    sebentar…DAGO PAKAR? itu kan di bandung? ๐Ÿ˜ฏ
    Lha? anda di bandung to? ๐Ÿ˜ฏ
    saya pernah ke dago pakar dua kali, serombongan bareng temen-temen kul dulu XD

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.