Fana

[singlepic=76,,,watermark,]

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

 

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

 

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

 

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

 

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

 

Sesungguhnya manusia tidak memiliki kuasa apapun terhadap diri dan alamnya. Lalu kenapa manusia tidak pernah mau memahaminya? Tetap melihat harta dunia sebagai hakikat semu keberadaan. Bahkan ketika umur menjadi keniscayaan yang tak mungkin ditolak.

Tidak pernah ada satu ksatria pun, penguasa pun, atau sehebat apa pun, yang mampu bertahan dengan 2 kaki mereka selama-lamanya.

 

 

Bahkan seorang Nabi paling suci sekalipun…

 

 

Penggalan Puisi di atas : Kesaksian Sederhana – Kyai Kanjeng

Objektif

Ayat Ayat CintaDulu sekali, pernah ada istilah beken “Shot The Message, Not The Messenger”. Bagaimana ngeshot message yang benar? Atau minimal coba-coba menilai secara objektif? Atau lebih ekstrim lagi – Belajar cuci otak??

Mungkin menonton film “Ayat Ayat Cinta” (AAC) bisa menjadi ajang latihan.

Tokoh Aisha yang islami, arab turki jerman tulen, kemayu, sopan, pendiem, akhlaqul qarimah dan istri yang sangat soleha impian semua pria muslim, diperankan oleh Rianti sang VJ MTV cantik, friendly, hip hip hura, juga terkadang seksi.

Tokoh Maria yang introvert, baik dan rendah hati, simpatik dengan kecintaannya terhadap Islam, walau bukan muslimah. Sosok wanita penuh luka cinta yang bisa menggugah pria-pria yang membaca novel AAC untuk memilikinya (termasuk saya). Diperankan oleh Carissa si antagonis sinetron-sinetron Indoonesia yang bengis, tak kenal ampun, suka teriak-teriak dan membuat ibu-ibu di mall bisa memaki-maki dirinya bila bertemu.

Tokoh Nurul yang putri pesantren, anak seorang Kyai ternama, baik budi, cerdas menggugah intelektual, kaffah dalam islam Indonesianya, mengingatkan saya pada ustadzah-ustadzah di mesjid kampung saya. Pemerannya adalah Melanie Putria yang mantan putri Indonesia, dengan keglamoran dan aktivitas selebnya yang macem-macem tanpa pakem.

Noura sang wanita penuh tekanan batin, terhimpit dalam penderitaan sehingga mengubahnya menjadi tukang fitnah yang keji. Dan Zaskia Mecca idola para lelaki “baik-baik” ketiban peran ini, model sekaligus aktris yang dianggap mumpuni dengan popularitas dan keteguhan budi muslimahnya. (Kenapa impian liar saya selalu membayangkan Zaskia sebagai BCL ditutupi kerudung?? :)) )

Fedi Nuril?? Kalau ini saya ga kenal.

Hanung Bramantyo, sang sutradara. Wah ini sih Mas Rumputeki lebih kenal.

 

Mumpung belum tayang, jadi persiapkan diri anda untuk berlatih seperti yang saya ungkapkan diatas. Menjadi objektif bukanlah tuntutan, toh ini cuma hiburan bagi penonton, duit bagi produser dan idealisme bagi sang Sutradara.

 

*sedikit hadiah yang keren dari Blog Mas Hanung :

 

Rianti's Eye

 

Di Sun

 

“Sebenarnya ada acara apa disini, Mas?”, tanya saya.

Nemenin si Bos, ada rapat”, jawab nya.

“Rapat kok ampe’ ke Jogja. Gedung di Jakarta kurang gede apa?”

Biasssalaahh,.. akhir tahun. Ntar lagi kan tutup anggaran..”.

Dan keluarlah segala gosip seputar instansi pemerintah tempat kawan saya itu bekerja. Dari masalah budget rapat, pemenang tender siluman, naik pangkat, intrik partai, dan lain lain dan sebagainya.

 

Obrolan itu berlangsung November lalu, ketika sang kawan bertemu saya. Pagi ini saya baca koran di warung makan, isinya seputar DIPA ini DIPA itu – bersanding dengan berita bencana ini bencana itu. Bacaan yang mengaduk-aduk emosi untuk diungkapkan.

Mau senyum-senyum kok ga enak karena di sini banyak cewe-cewe cantik lagi makan, ntar dikira saya gila. Mau pasang muka jutek, kasihan kalau ternyata ada yang naksir saya malah ga jadi.

 

Ah,.. padahal saya berharap bisa di-sun oleh mereka.

Leksa

LeksaBunuh saja aku
Silahkan ambil sukmaku kapanpun kau mau
Tapi jangan ragaku
Secuil nafas aku rasa sudah cukup

 

Dan aku pasti terbebas dari kotak kaca-mu

 

SC-E02, 3 Januari 2006 2007

 

 

 

 

 

 

 

update 4 Jan 2007 : Tahun di Edit

Menikmati Keagungan Alam di Awal Tahun 2008

Di masa SMU, 2 kali saya menjelajah Perbukitan Menoreh. Ketika kelas 1 SMU dan penghujung tahun ke-3 sebelum lulus. Memang bukan menjelajah dalam arti sebenarnya. Karena hanya kebetulan sebuah kegiatan lapangan yang dijejali oleh SMU saya kepada para siswa untuk mata pelajaran khusus Bela Negara. Kami para siswa dibekali ketrampilan lapangan berupa latihan mengenal alam, navigasi, berbagai kegiatan penjelajahan alam melatih rasa korsa dan kesetiakawanan. Persis latihan-latihan kemandirian seperti di Pramuka dan Menwa. Namun bersyukurnya saya, kami dibimbing langsung oleh para pembina dan pelatih dibidangnya (a.k.a militer). Diantara semua kegiatan tersebut, tentunya efek yang paling saya suka yaitu dapat berakrab-akrab dengan penduduk sekitar Magelang – Menoreh. Hal ini memberikan kesan berbeda yang membuat saya mengingat masa-masa indah SMU saya hingga sekarang, hingga saat ketiga kali saya berada di perbukitan Menoreh tersebut. Dan beruntungnya saya bisa berada di puncak tertingginya, di Puncak Suroloyo menyambut datangnya pagi pertama di tahun 2008.

Hanya ide gila yang tiba-tiba disosorkan pada saya di Kafe Djambur, beberapa saat sebelum kembang api pergantian tahun meramaikan langit Jogja. Anto yang menawarkan kepada saya untuk menikmati sunrise hari pertama 2008 di Puncak Suroloyo. Tentunya ide ini juga melibatkan pakar jeng jeng handal, Mat Riphe alias Zam. Saya tidak tahu apa itu puncak Suroloyo, yang saya bayangkan hanyalah matahari pagi yang indah di hari pertama tahun tikus ini.

[singlepic=66,,,watermark,]

dan inilah kisahnya..