Soeharto

Mercusuar Pandansari YogyaBasi banget membahas Eyang satu ini. Jasadnya juga sudah beristirahat di Astana Giri Bangun. Tetapi apa salah nya kalau saya menulis tentang beliau? Terserah orang-orang mau bilang “capee deeehh..Soeharto lagee, Soeharto lage..”. Kalau bagi saya justru penting meramaikan wacana ini. Karena mengingatkan saya dan pembaca blog ini, bagaimana seharusnya menyikapi berita hingar bingar perihal Soeharto, sejak beliau langser hingga meninggalkan kita semua 2 hari lalu. “Pamali tau mengungkit-ngungkit kisah orang yang sudah ngga ada”. Halahh… Lebih baik pamali daripada beliau di “alam sana” meninggalkan tanggungan dan menjadi arwah penasaran.

Bahwa sesungguhnya manusia sakit itu adalah biasa. Bahkan kematian adalah keniscayaan dari hukum dunia yang fana. Tidak ada kehebatan, apalagi sampai patut untuk dilebih-lebihkan mengenai itu. Tetapi kemarin-kemarin, suatu kewajaran tersebut justru menjadi suatu hal yang luar biasa untuk Soeharto. Mengalahkan keluarbiasaan bencana banjir di Timur Jawa, atau melambungnya harga kedelai karena langka di pasaran nasional.

Kenapa semua orang ribut-ribut membahas soal kasus kejahatan Soeharto? Sejak almarhum mendapat Surat Keputusan Penghentian Proses Penyidikan (SKP3) atas kasus-kasus pidananya, sebenarnya polemik mulai berkembang. Keputusan spekulatif dari Kejaksaan Agung di Mei 2006 itu melengkapi jalan panjang pengusutan kasus perdata Soeharto hingga ajalnya menjelang. Kesempatan besar untuk mengusut 7 yayasannya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kerugian negara juga kemudian tersendat. Namun anehnya dalam rentang waktu satu setengah tahun, dengan kondisi kesehatan yang turun naik, tidak terlihat itikad baik dari autoritas hukum Indonesia maupun pihak Soeharto CS untuk menyelesaikan sisa-sisa dari sekian banyak catatan kejahatan negara beliau. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana menggemanya kemeriahan Reformasi 1998 untuk mengusut segala penyimpangan KKN Soeharto, yang ini mendasari munculnya TAP MPR No. 11 Tahun 1998. TAP MPR tersebut adalah acuan dasar hukum tertinggi yang terus mendorong setiap organ hukum kita bergerak mengusut segala kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, terutama sebagai kekuatan hukum untuk menyidak kasus KKN yang dilakukan oleh pejabat negara.

Mengingat prelude diatas membuat saya berpikir, apakah sedemikian lemahnya hukum kita sehingga bisa dijadikan komoditas politik. Suara-suara sumbang sudah mendehem jauh-jauh hari untuk berhati-hati akan kekuatan kroni-kroni Soeharto dan orde baru. Karena sebenarnya Soeharto sendiri bisa jadi adalah komoditas politik dari kroni-kroni nya sendiri, yang sampai saat ini berlindung, bersembunyi dan terus mengatur strategi untuk menyelamatkan diri.

Lalu isu berkembang menjadi tawaran win win solution dari kejaksaan kepada Soeharto cs. Tepatnya sejak almarhum kembali masuk ke Rumah Sakit Pertamina karena kondisi kesehatannya yang cenderung menurun, dan bahkan sempat beberapa kali divonis kritis. Semua orang panik di awal Tahun Tikus ini. Pemerintah seperti kebakaran jenggot, mengingatkan saya pada saya sendiri yang suka dikejar deadline karena menunda-nunda pekerjaan. Media-media raksasa negeri ini juga tidak mau kehilangan moment. Seperti seragam – serempak kontan menyambut kondisi kritisnya beliau sebagai lahan menggenjot rating.

Saya sendiri sampai bosan menunggu kapan beliau akan meninggal saat itu. Karena tiap hari ada saja berita-berita, entah di koran atau televisi yang seolah-olah menciptakan keprihatinan dan ketakutan akan kehilangan sesosok agung bagi negeri ini. Media memang lahan yang basah untuk menciptakan opini publik. Seperti dejavu, saya jadi teringat bagaimana dulu keseragaman mainstream media-media kita di jaman Soeharto saat masih berkuasa.

Dan opini-opini yang bermunculan kemudian, membulat menjadi sebuah isu “memaafkan”. Setingan yang luar biasa, mengingatkan saya juga terhadap strategi BIN dan BAIS di zaman orde baru sebagai Prajurit Khusus Perang Fikiran ala Soeharto. Memang hanya beliau, yang sanggup membuat setingan berkelas serupa ini. Tidak heran jika gelar Bapak Intelijen Indonesia patut disandang oleh almarhum.

Dan setelah beliau mengakhiri hidupnya, dikubur dan tenang malam di Astana Giri Bangun, apa yang tertinggal dari hingar bingar tersebut? Malam ini saya hanya melihat di televisi menayangkan berita tahlilan di Pendopo Ndalem Kalitan Solo.

Padahal saya berharap ada sebuah jamuan Open House ala Pejabat-Pejabat Negara/Daerah di hari Idul Fitri, lengkap dengan ucapan pembuka Open House dari pejabat-pejabat itu biasanya, “Saya mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Bathin kepada semua hadirin dan masyarakat yang hadir di Open House kami” – dan masyarakat pun menyerbu semua panganan yang belum tentu mereka tahu itu adalah hasil gaji atau korupsi.

 

 

*Gambar mercusuar diambil dari Ekowanz.info. Sebuah editan sephia photo mercusuar, yang gagah namun sangat hening pada akhirnya.

27 Comments


  1. Basi banget membahas Eyang satu ini.

    Berarti ini juga tulisan basi yah.. :-\\”

    He was a human being (now a dead body), and may God have mercy on his soul..

    Reply

  2. hohoho….tapi terlepas dr itu semua beliau adalah kepala keluarga jempolan…dr nobody menjadi somebody. Keluarganya terjamin sampe ke cucunya… 8-|

    Reply

  3. :d:d:d:d:d

    pa kabar leks??
    wahh soeharto ya…
    hmmmm…dari satu sisi emang kita g bisa mengelak kalo dia adalah salah seorang pahlawan kita ya toh??

    @goen
    gimana kabar hubungan kalian?? (leksa dan gun, gun dan leksa..??)
    haha..:)>-:)>-

    Reply

  4. @Babunya dian Sastro : umum dan basi bukan berarti harus dilupakan πŸ˜€

    @kamal : halaahh, situ ngebahas 3 kali malah [-(

    @manongan : Situ cek di google, keyword Soeharto … moga2 mbah google ngasih tahu yg bener, bukan Soeharto yang jaga Angkringan di Concat πŸ˜€

    @annots : dah tak tulis di postingan dugaan ini πŸ˜€ .. sepaham 2 paham kitah πŸ˜€

    @fajar : Judgement pahlawan atau tukang korupsi bukan saya yang mutusin πŸ˜€

    @cewektulen : Huaaa.. kuamprett… bilang saja situ terinspirasi dari akuh [-(

    @Amru : waduh.. aku nulis disurat kabar??? bisa2 jatuh rating nya mas πŸ™

    @aLLE : saya malah berharap ga ada hari berkabung.. tapi tetep libur nasional =))

    @ekowanz : jadi inget film Blow – no body to somebody .. tapi jadi grugs dealer :p

    @Goop : SANGAT Riweuh..! :-< @tukangkopi : kayak dada loe berbulu ajah [-( @pengki : Basi iya.. tapi jangan bikin kasusnya jadi BASI.. be carefull b-) @goen : iya sih Gun,.. tapi yaa umumnya tahu ini Tahun 2008 ya thn tikus .. 8-| *tendang Gun, merusak tulisan orang .. [-(

    Reply

  5. ko pake moderasi segala toh Pak? πŸ˜•
    :-w

    kapan munculnya… komeng saya inih?

    betewe, ini URL blog saya yang lain… :-\”

    dadah… :-h

    Reply

  6. lalu kenapa poto mercusuar itu disandingkan dengan tulisan soal eyang kakung .. .
    tar nulis soal bekisar.. pake potonya eyang kakung gitu
    di lukir

    Reply

  7. @sandal : maslaahnya .. sapa yg mau jadi model πŸ˜•

    @fajar : hee.. dian sastro ?? 😑 ndak akan ku bagi2 link blognya [-(

    @ariprasetyo nan guaranteng : kalo post bekisar, saya masang photo situ πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.