Sejarah

History TimeSelesai SMP di sebuah kota kecil, saya masuk sebuah sekolah asrama dimana kental dengan nuansa pendidikan dan pengasuhan ala orde baru. Bahkan ketika tahun 1998, saat perubahan politik yang drastis terjadi di luar pagar sekolah, saya bisa dibilang tidak tahu apa-apa. Langit Magelang yang memayungi sekolah saya tetap biru, rutinitas sebuah asrama tetap berlangsung seperti biasa dan makanan tidak pernah kurang sama sekali, walau menunya memang mengalami perubahan terpengaruh harga pasar.

Beruntunglah saya memiliki guru-guru sejarah hebat di sana. Mereka adalah orang-orang yang hebat bagi saya karena mengikuti kondisi aktual bangsa layaknya peneliti sejarah dan sosial. “Segala sesuatu yang berlaku kini adalah akibat hari lalu”, itu sedikit pemahaman yang saya peroleh dari mereka.

Seorang ibu guru sejarah yang mengajar saya di kelas 1, sangat pintar dalam menjelaskan sejarah dunia dan kerajaan-kerajaan Indonesia kuno. Beliau bisa bercerita hingga keluar dari textbook, membawakan dongeng-dongeng dan legenda menjadi penghias sebuah kronologis sejarah. Oh ya, terlebih lagi beliau masih single dan menawan. Saya menaruh salut kepada beliau, bisa mengajar di sekolah seperti ini dengan umur yang masih muda.

Kemudian di kelas 2 SMU, saya bertemu dengan seorang guru sejarah yang tidak kalah hebat. Si bapak ini dulunya adalah bagian dari tim yang mengelola sebuah meseum pejuang terkenal di Jakarta. Namun karena alasan tertentu, lalu beliau memilih menjadi guru di sekolah ini. Dengan bekal pengalamannya yang segudang tentang sejarah pra-pasca kemerdekaan Indonesia, lebih dari cukup untuk membius saya dan teman-teman menelusuri sejarah bangsa ini. Selain sebagai pencerita yang hebat, si bapak ini juga enak diajak berdiskusi. Saya kadang-kadang saat malam minggu, ketika tidak ada acara di luar asrama, memilih untuk bermain ke rumahnya. Sekedar nonton tv, menikmati pangan gratis dan juga ngobrol banyak tentunya.

Ketika kelas 3, saya tidak bertemu mereka lagi, karena mengambil kelas IPA. Namun saya masih suka main ke rumah si Bapak, atau ke tempat si Ibu. Yah lumayan kalau bisa main tempat si Ibu, sekalian cuci mata ke daerah asrama perempuan. :))

Pernah saya bertanya ke si Ibu Guru sejarah itu. Kenapa beliau selalu mengambil kelas mengajar di kelas 1. Alasannya sederhana, beliau merasa si Bapak guru sejarah lebih senior, pengalamannya lebih banyak. Dan satu alasan lainnya yang menarik. Karena semakin tua suatu sejarah, maka semakin ringan untuk mendeskripsikannya, semakin banyak sudut pandang yang sudah memiliki bukti dan pemahaman yang baik.

Benar memang kata si Ibu. Bapak guru sejarah saya memang sangat lihai dalam meladeni diskusi tajam seputar cerita pasca kemerdekaan yang memang terlalu gamang bagi remaja kelas 2 SMU. Berita-berita di koran, bukti-bukti baru setelah keruntuhan Orba, tentunya membuat seorang guru sejarah pasca kemerdekaan harus ekstra kerja keras dalam menjelaskan.

Saya jadi ingat momen-momen diskusi kecil saya dengan si Bapak guru dulu. Beliau sangat sabar dan hati-hati sekali meladeni saya. Entah karena pertanyaan-pertanyaan saya, atau entah karena saya berasal dari negeri “berdarah” di ujung barat Sumatra. Tetapi kesabaran beliau dalam bercerita, menjelaskan dan mengungkapkan berbagai sudut pandang, justru malah membuat saya sangat menghargai beliau.

Saya semakin mengerti setelah berkuliah. Bagaimana sejarah pasca kemerdekaan sampai sejarah hari kemarin pun akan selalu sulit diberi kesimpulan akhir. Seiring bertambahnya wawasan, maka kedewasaan dalam menilai sejarah juga menjadi semakin penting. Sesuatu yang justru terlupakan ketika sejarah malah dijadikan komoditi.

Sekarang dan sampai kapanpun, sejarah akan selalu menjadi polemik kehidupan. Begitu juga dengan sejarah bangsa ini. Ketika sebagian orang bicara bukti, ketika sebagian yang lain pesimis dengan jargon “Sejarah adalah milik penguasa”, ketika anak-anak muda negeri ini mengganti pahlawan kemerdekaan dengan “Idol-idol” baru, ketika media mengubah sejarah sebagai rating, ketika politik membeli sejarah yang memihak,… lalu saya bertanya “saya ada di sejarah yang mana?”

 

 

Hmmff,.. sepertinya saya kangen bertemu si Ibu dan si Bapak guru sejarah saya lagi.

34 Comments

  1. sejarah selalu berpihak ya..padahal banyak cara sejarah itu bisa dilihat. Mungkin kita harus mencoba berbagai perspektif dan sumber sumber lain. Dan disitu menjadi sadar, bahwa sejarah menjadi sangat personal. Tidak penting dia berpihak kepada siapa.

    Reply

  2. urusan sejarah untuk sekarang ini sangat banyak versi, sehingga kalau kita balik lagi ke bapak ibu guru sejarah kita disekolah pasti ceritanya lain lagi. kadang saya tidak yakin juga dengan sejarah, karena bisa jadi pelajaran sejarah adalah pesanan penguasa untuk menaikkan popularity saja πŸ˜•

    Reply

  3. Oh ya, terlebih lagi beliau masih single dan menawan.

    Ijal..!! Ternyata kamu bukan memperhatikan pelajaran sejarah ya!! Malah memperhatikan saya!! :-w
    Btw, makasih ya udah muji saya.. :”>

    Reply

  4. @Iman Brotoseno : Benar, harus berani untuk cari dan cari lagi. Jika kita tenggelam dalam keberpihakan, tentunya nilai sebuah sejarah itu sendiri menjadi hilang,.. saya percaya itu.. πŸ™‚

    @Totoks : nah, kalo udah setua situ ;)) , seharusnya situ bisa melengkapi dengan pandangan2 dan analisa lain dalam menilai sejarah. Dan turunkanlah itu kepada generasi setelah kita. πŸ˜€

    Reply

  5. dulu kalo pelajaran sejarah, saya suka terkantuk2 mendengar crita dari guru, mungkin itu memang menjadi sejarah saya, tunggu buku biografi saya :d

    Reply

  6. Bukan berarti ga suka sejarah..tapi sekarang udah ga bisa lagi ditanya2 soal sejarah soalnya udah terlalu banyak yang berubah..kekeke..

    Reply

  7. Si akang ini. Udah genit dari kecil ternyata.

    *Jal, udah jadi tuh, foto pre wedding kita yang di Ciwidey :d/

    Reply

  8. @echi : walah .. jangan diumbar disini, chie .. maluw :”>

    @venus : suara baru? basanya si orang ntuh aja itu..

    @ajie : quote seperti ini harus di basmi.. πŸ˜€

    @annots : biografi sebagai opo? panitia PMB? wartawan? ato presenter πŸ˜•

    @ratie : hihihi.. :p

    @stey : baca2 dan buka2 buku lagi.. kasian anak mu ntar kalo nanya, Stey.

    Reply

  9. btw soal sejarah, saia jadi ingedh sebuah bangsa yang gamfang sangadh nglufain sejarah, dan juga gamfang sangadh mbakar-mbakar buku sejarah…
    kenafa sejarah disini hanya dijadikan sebuah felajaran yang terdiri dari tahun-tahun fenting sahaja ya…..

    Reply

  10. @puput : ya ndak gitu Put,.. makanya harus selalu mau nyari tahu,..
    rasa penasaran adalah awal yang baik ..

    @ibu guru sejarah : [-( Dis,.. aku nunggu undangan mu duluan [-(

    @goenawan Lee : penyebar gosip mati karena gosip.. hati2 [-(

    @cwwektulen : media yang mana πŸ˜• buku? .. sinih.. tak pinjem… πŸ˜€

    @hoek : soalnya tahun2 penting tersebut sahaja yang mempengaruhi dan sebab waktu kekinian… yang ndak penting biasa dibuang, dan dipelintir,… contoh : ulang tahun kamu ituh Hoek πŸ˜€

    Reply

  11. Sejarah disusun berdasarkan bukti-bukti, tetapi memerlukan narasi…nahh pada narasi inilah bisa terdapat unsur subyektivitasnya. Apalagi jika ternyata tak semua kejadian ada bukti tertulisnya…dan kadang saksi sejarahpun enggan berbicara, karena kawatir menimbulkan polemik.

    Justru mungkin disinilah menariknya sebuah sejarah..

    Reply

  12. baca ini mas… rahasia meede. novel fakta – fiksi yang keren sekali. untuk pecinta sejarah apalagi. πŸ˜‰

    eh, atau sudha baca malahan? 😐

    Reply

  13. @dewi : segera ke TogaMas… udah baca Review nya tapi ga ngeh kalo itu buku tentang Sejarah (novel Fiksi dibalut Fakta pulak – rada Pram gitu yak? )

    @Anju : wisuda Maret aku pasti ke bdg..

    @aprikot : bagian sejarah yang ga berpengaruh 8-|

    @Liezmaya : lho kok malah guru Bahasa :p

    @endratna : bener Bu,.. Narasi sangat tergantung pelaku sejarah itu sendiri – sudut pandang nya dia.. πŸ™‚

    @didut : wew… makin Tua, harusnya makin banyak ilmu nya πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.