Cerita-cerita Dikit,..Ga banyak2…

What Shoul I do, Patterns?Hmmf.. kembali pada kesibukan.

 

Setelah posting2 sebelumnya yang bernada serius, maka kembali ke kondisi normal hehe..

 

Mau berkeluh kesah saja, dalam beberapa hari ini overload otak gw dengan kerjaan yang dateng ga kira2. Memang rezeki ga boleh ditolak. Itu pantang hukumannya. Semoga saja gw bisa membagi waktu dengan baik, antara kerjaan dan kuliah. Nyaris gw tanpa refreshing apapun! Nyodok aja ga pernah,.. ah jangankan bilyar, JALAN-JALAN saja tidak saudara-saudara… Makanya buat temen2 yang dari kemarin2 nanya, kapan gw ngedate ama cewe Yogya?? Sopan dikit lah kelienn

 

Setelah beberapa kali dikritik banyak orang karena WP gw yang terlalu lemot untuk di buka baik dari template Kapucino yang pertama, kedua dan ketiga kemarin2, maka gw mencoba untuk mereview apa yang salah. Dari segi server, gw ga meragukan Powerfulnya Qwords.Com si Rendy. Sampai sekarang uptimenya masih di atas 99% sejak gw naruh blog ini di dia. Lalu cari mencari, menduga-duga karena script-script yang gw pake banyak feature aneh yang diuji-coba dan di-recode ulang.

 

Jujur saja, blog ini mungkin dari template dulu ampe sekarang terlihat yaa blog yang begono2 saja. Sebenarnya di dalam hosting ini juga running beberapa scripts ujicoba dari klien-klien gw. Dari situs semacam dating site ala FriendsterTM hingga situs seperti seperti yellowpages (Caelaahhh.. tapi kagak ada isinye, cuman web kosong dengan design dan feature2 uji coba .. huakaka..).

 

Kalo dari si blog ini sendiri terus gw usahakan makin clean dan cepet. Baru aja update ke WP terbaru vers. 2.3 (Ah, ternyata masih banyak bugs terutama di editor postnya..kalo di justify, semua code line dari linebreaks ampe bold ajah ga jalan – liat aja post ini!!). Blackbox OriginalDari awal dulu yang desainnya ribet banget, makin kesini makin gw usahakan simple. Dan akhirnya sekarang cuman make 2 image untuk satu desain si Blackbox ini, gue rencananya mau redesign ulang ga blog banget kayak sekarang. Ohya ini themes aslinya milik salah satu peserta Sandbox Template Contest Agustus lalu, Hillary Louise Johnson.

 

 

Mungkin juga blog ini masalahnya dengan javascripts gw yang belibet di header kah? Memang banyak sekali javascript di dalam sini,.. ckakaka.. abis dicoba terus males gw apus. Don’t follow me on this “geblek” attitude.

 

Untuk desain baru ini sendiri, udah berusaha gw minimalis, javascitps-nya cuman gw pake dari klan-klan yang sama untuk kebutuhan gw. Dulu pernah gw posting tentang klan-klan dalam Ajax/Javascripts Framework. Tapi tetep aja rame ternyata..T_T.. Karena WP-head nya secara default manggil banyak javascripts sih,,,

 

Ah jadi panjang, padahal mau curhat doang..

 

Ohya lupa, sekalian kalo ada yang baca post ini ngerti napa kasih tau yak :), apakah mungkin juga karena SQL load saya yang tinggi sehingga memberatkan? Untuk keseluruhan site ini menghabiskan resources Bandwith (overall) 3 giga sebulan, malah untuk si WP sendiri bisa nyampe 2 Giga. Kalo. Kalo hits/visit sih terdata 2000-an lebih perbulan. Ga tahu itu bot atau human, karena kalo human curiga juga, buktinya komentar-komentarnya sepi. Orangnya itu-itu ajah yang komentar.

 

Atau memang dari Rendy gw kebagian server “metal”, jadi aja super duper high traffic load? (lirik Rendy sambil siul2…hehehe)

 

Dah ah, .. cape, ..

 

Laporan Praktikum numpuk..

 

Janjiin Asistensi sharing software bajakan tambang..(jadi gw harus blajar ‘n ngulik lagi,..)

 

Kerjaan numpuk ..

 

Ini komputer bermasalah mulu lagi, ga konek lancer malam hari, lari ke warnet akhirnya tiap tengah malam..

 

Dan ditambah sedikit rasa kangen :p

 

Curhat Gelo pada Pukul 4:25 AM – Siaran Ulang Roma vs entah sapa di RCTI..

Gegap Gempita Pesta Blogger Dalam pestablogger.com

Illustration about Blog“Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog”.

Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat Cloudy Tags saya yang sangat ribet dan campur aduk kayak sayur asem diatas. Itu hanya sekedar menunjukkan bahwa memang saya ingin membahas banyak hal dengan semua pembaca blog saya. Cuma sesimpel itu, tanpa embel-embel “I’m a Bloggerrr..” atau “Long life Citizen Journalism…”.

 

Saya memulai menulis di Internet ketika Cybersastra.Net masih eksis. Sekedar sharing puisi dan gejolak pemikiran muda bersama para komunitas sastra online – yang notabene dulu juga sempat dianggap oleh sastrawan senior sebagai komunitas sastra abal-abal/puisi sampah – sastrawan yang tidak mendapat tempat. Paling tidak itu kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang dengan sesama rekan cybersastra pada saat pertemuan di Bandung – 2002-2003 . (Apakabar Teh Sireum Hideung ? 🙂 ).

 

Kemudian sempat juga membuat blog di Blogspot. Sayangnya saya lalu menghilang dalam gemerlap dunia perkampusan (ya standar lah, gosip sana sini – nongkrong luar-dalam kampus dan pacaran..hehehe). Dan akibat lama tidak update, saya lupa account di blogspot tersebut. Maklum, karena masih suka gonta ganti email waktu itu, makhluk polos baru kenal Internet, semua email provider saya subscribe, semua feature internet saya coba(dari game sampai Adult Content.. hahaha).

 

Kemudian, pernah mencoba menulis blog dari tawaran domain pribadi di leksanadra.com. Sekarang sudah mati, setahun lalu kalau tidak salah matinya. Dan kini saya menggunakan Kapucino.Org, yang kini sudah berumur setahun, walau post nya baru dimulai di bulan Desember 2006. Archives lama dari Kapucino bisa dilihat di Blog-Indonesia.

 

Nah, berarti saya memang bukan seorang senior blogger, setahun bukan lah waktu yang bisa dibilang senior bloggerdalam beberapa “kamus” blogger. Tetapi saya pernah mengikuti rame-rame pembahasan mengenai blog dan citizen journalism – saya mengikuti kisah-kisah dari “jangan sembarang kopi paste”, penahanan polisi terhadap seorang blogger hingga cekcok antara blogger dan Roy Suryo. Dalam pemahaman saya, kasus-kasus tersebut tidak memberikan unsur penekanan mendukung sesama blogger “Karena Kami Blogger“. Bagi saya bukan disana penekanannya, walaupun banyak senior blogger yang beropini dan menyuarakan gegap gempita bahwa sesama blogger harus bersatu, atau “mari-mari dukung teman kita sesama blogger“.

 

Tujuan penegasan saya di atas adalah untuk menghindari patronase dalam menulis/berpendapat atau mengikuti sebuah komunitas. Mungkin itu kalimat paling nyaman untuk mengungkapkan hal-hal diatas. Menjadi blogger bukan berarti sekonyong-konyong sekedar mengikuti trend, bahkan pendapat dan suara pun jadi ngikut trend. Sama halnya ketika kita berada dalam pergaulan sosial lainnya. Sebagai contoh, misalkan saya berada/tergabung dalam sebuah komunitas – lingkungan, jika memang alam pikiran saya berkata ada sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak benar, maka sepatutnya disuarakan. Bukan se-abal-abal malah mengikuti trend atau idol atau senior dalam komunitas saya tersebut.

 

Blog adalah sebuah media penulisan dalam internet dimana semua orang dapat menulis apa yang dirasa – dipikirkan dan beropini. Bebas iya, tetapi dalam kerangka bertanggung jawab. Bukankah dalam kehidupan riil juga kita selalu dituntun berpendapat bebas yang bertanggung jawab? So, tidak ada bedanya bukan? Pendapat saya ini jika melihat posisi penulis blog sebagai individu dan human being. Ternyata sama saja etika yang mengatur kita dalam media blog ataupun dalam etika di kehidupan nyata.

 

Lalu saya sedikit tergelitik, ketika dulu awal – pertengahan 2006 teman-teman saya di kampus, sesama rekan-rekan pers di dalam kampus sedang hangat-hangatnya membahas citizen journalism. Sampai mengundang pembicara-pembicara dari kalangan pers pula, dan bahkan berupaya mengadakan event yang lebih besar (walau akhirnya gagal, syukurlah..). Saya melihat ini sebagai euforia saja, dikarenakan rekan-rekan pers tersebut menyaksikan hangatya kasus dalam dunia perbloggeran sendiri pada saat itu. Dan kemudian mengambil asumsi pendek, “Jika kita menulis blog, maka kita bebas bersuara dan beropini”.

 

Memang bebas kok, ngga ada yang larang. Sama juga bebasnya dengan mau menulis di koran-koran atau tabloid mereka. Sama bebasnya beropini dalam media-media selebaran mereka. Tidak ada bedanya. Hanya satu hal yang membedakan, TARGET PEMBACA tentu lebih luas dalam media Internet. Tetapi kemudian jika perbedaannya hanya itu, lalu apa bedanya dengan membuat situs website terhadap kantor pers mereka? Kenapa harus menjadi pers blog atau sejenisnya? Jika ingin berwarna diskusi dan bebas, ya silahkan saja ditambahkan media diskusi, tinggal tambahkan feature comment atau sekalian forum barangkali.

 

 

PestabloggerOke, itu sebuah asumsi saya dari dulu. Dan kemudian yang membuat saya menjadi bingung saat ini – terdorong oleh mas ikram yang mendadak tengah malam mengajak diskusi tentang PESTABLOGGER“. Beliau menanyakan pendapat saya tentang kegiatan tersebut. Jawaban opini dan pemikiran sadar-bawah sadar saya dari dulu, yang namanya blog ya yang seperti saya ceritakan di atas. Tapi kemudian si Mas Ganteng Kacamata ini mulai menyinggung isi dari situs pestablogger.com. Memang dasar tukang kritik, paling bisa melihat celah sekecil itu (haha..Negation in your Bloody Header, bro.. ). Ikram secara pendek mengungkapkan “cm aneh aja kalo setiap pemberitaan di koran, mereka upload di pestablogger.com – karena bukannya blog itu new media? – yg berlawanan sm old media?”

 

Yeah,.. kembali perdebatan panjang dan perenungan disini. Seorang senior blogger dahulu pernah mem-boosting tentang ini. Bahkan anda bakal menemukan file PDF tentang tips trick menghadapi media baru (salam Mas Enda..). Sebagai “junior blogger” yang lebih junior dari Ikram, saya seperti diospek ulang hehehe…

 

Yap, sangat masuk akal ungkapan Ikram di atas. Coba lihat situs pestablogger sendiri yang selalu mengangkat post tentang pemberitaan acara Pesta Blogger di koran-koran. Jika dan hanya jika Old dan New media tidak saling butuh seperti yang diungkapkan Enda (dan mungkin juga blogger lain berpendapat sama), lalu kenapa pestablogger sendiri mendapat sponsor dan partner dari 3 Old Media?

 

Dalam opini saya sendiri (kembali – apa yang ada di pikiran saya), jika karena kasus Kompas dan Basuki Suhardiman (salam dari Yogya, Pak Bas.. 🙂 ) yang awalnya diboost oleh Priyadi dalam post Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas, kemudian menyebabkan muncul dikhotomi antara Old dan New Media, maka ini bukanlah suatu hal yang bijak. Kenapa? Alasan-alasan dan uraian saya diawal terkait dengan ini. Analogi paling buruk dari pembatasan tersebut, jika Kompas adalah Old Media – “butuh uang untuk tinta”, maka begitu pula dengan semua media cetak pers.

 

Bagi saya sendiri, kasus yang di-blow-up tersebut tidak lebih dari suara bebas yang bertanggung jawab, yang berusaha menyampaikan kebenaran dari versinya. Terlepas dari adanya isu-isu lain dibelakang yang menyusul blow-up tersebut.

 

Jika pun ingin memberikan label berbeda antara blog dan media cetak, maka bagi saya hanya lebih baik sebatas bahwa sang penulis blog “hanya” terikat oleh etika-nya dalam menyampaikan informasi yang sesuai dan runtut dengan jalan pikirannya – dan mungkin disertai fakta yang akurat. Berbeda dengan media cetak yang terikat aturan jurnalisme yang baku, teratur dalam manajemen dan memperhitungkan pasar komersial. Atau singkatnya blog adalah suara bebas yang bertanggung jawab dan media cetak adalah media informasi resmi bagi masyarakat. Dan silahkan masyarakat memilih asupan informasi mana yang baik bagi mereka.

 

Kalau pembagian media “Old vs New Media yang tidak saling butuh” masih berlaku, ntar blunder deh kayak sekarang, malah kerjasama sekarang kan? Belum lagi sekarang beberapa media cetak sudah memberi fasilitas terbitan online, lengkap dengan milist, forum dan media untuk berkomentar.

 

Akhir kalimat dari saya sebagai seorang “Blogger Junior”, SELAMAT BERPESTA BLOGGER bagi anda yang merayakan. (Udah kayak ucapan merayakan Idul Fitri ajah…hehehe)

Blogactionday – Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

 

Hari ini kan hari Blogactionday – seperti disepakati bersama dan gue udah submit – janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.

 

Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.

 

Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… 😆
—————————————————————————————

 

Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.

 

Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya – saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.

 

Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007

 

Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?

 

Coba kita lihat sang Al Gore – Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang – Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict – ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

 

 

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air – terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??

 

Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…

 

Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu – tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing – terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.

 

Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru – Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 – 17 Desember 2007.

 

Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.

 

Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).

 

Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.

 

Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.

 

Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan – dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang – selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.

 

Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.

 

Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar – memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.

 

Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.

 

Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.

 

Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism – Patriotic – Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.

 

Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat – kepentingan bersama.

 

Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism – Nasionalism – Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.

 

This Post Honoured to All Indonesian – Leksa

 

Thanks to : Christianto Wibisono – Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan

Mendadak Pada Jadi Sastrawan/wati

Entah apa yang bikin orang2 tiba2 menjadi puitis di hari lebaran.

 

Sejak malam Jumat, HP gue ga berhenti kemasukan SMS tat tit tut dari temen2 yang mo ngucapin met lebaran. Uniknya dan emang setiap tahun berlebaran – dari sejak gue kenal HP, sms yang masuk selalu bernada puitis.

 

Entah itu puisi yang agamis, ada juga yang rada melankolis, ga jarang juga yang rada meringis, sampai yang berlagak sok manis…Apa mungkin karena pas Ramadhan kebanyakan makan manis2 kali yak? hehuehue…

 

Fenomena SMS di saat ramadhan emang begitu dari tahun ke tahun. Gue sendiri? yaaa..pas yang ngucapin selamat lebaran malem sabtu untuk temen2 yang ada di list Phonebook gue, juga bernada manis kok, gini tulisannya :

 

maaf ga berarti apa2 tanpa merajut silaturahmi kembali, so ijinkan saya kembali bersilaturahim dengan sahabat, EID MUBARAK 4US – ijal- ini SMS to all!!

 

Huahaha…

 

Tetapi sampai malam tadi masih saja bertat tit tut.. Dan memang banyak nomor2 baru yang ga dikenal Phonebook gue. Mungkin karena mereka udah ganti nomor kali. Ya wes gue bales make pesen singkat “SAMA2!!” atau “You’re Welcome!!”… soalnya kalo puisi berbalas puisi rada aneh di kepala gue.. hahaha…

 

Yang bikin bingung tuh kalo ada no ga dikenal, terus dia ninggalin TTD (nama”pasaran”) . Wew, gue jadi bingung ini A yang mana. Karena nama A itu dipake ama beberapa temen gue… Terpaksa gue tanya balik ini A yg mana. Kan kasian ntar kalo gue mau ngirim doa Syawal salah sasaran..He3x..

 

Sayangnya ada pulak yang ga nyantumin nama, jadinya harus gue confirm sapa pengirim sms kaleng tersebut.

 

Namun patut disyukuri, inilah berkah Idul Fitri. Silaturahmi yang mungkin terpisah karena gue keilangan nomor2 mereka semua, akhirnya terjalin kembali. Dan komplit semua nomor baru tersebut “SAVE AS” di Phonebook gue.

 

————————————————————

 

“SEGENAP KERABAT KERJA WARUNG KAPUCINO MENGUCAPKAN MOHON MAAP LAHIR BATIN – EID MUBARAK 4US!! “

Sekedar Merayakan Eid

Ga usah merindu Romadhon tahun depan …
karena si Romadhon ga bakal rindu ama lu semua ..
Paling banter besok2 juga dah lupa kalo lu kangen Romadhon..

 

 

 

Jangan salahkan setan yang tukang goda,.. iya kalo bener dia yang
ngegoda elu bikin jahat,..Lhaa, kalo ternyata elu yang ngajak2 setan?
Kasian si setan disalahin mulu…

 

 

 

Mo lebaran?
ga perlu minta maaf,..
kata sancai, “Buat apa ada polisi, kalo ada kata maaf”
Setiap taon juga dari maren2 minta maaf..

 

 

 

Berharap suci kayak bayi baru lahir?
Ngga usah ngayal..
Mau suci kayak apa lagi,.. wong mandi junub dan berdoa tiap hari…

 

 

 

Lebih baik Mikir..
Besok2 jangan bikin salah2 lagi
Besok2 berbuat baik apa lagi..
Besok2 ga tergoda bikin jahat ama sapa2 lagi..

 

 

 

— Sekedar Merayakan Eid by Leksa —–