Resume. Ya,… Ini Cuman Resume Kegiatan

Seminggu belakangan ini, selama gue ga nge-blog ada beberapa kisah menarik. Ya,.. bisa dikata lumayan menarik. Karena gue lagi malas ngetik2, jadi gue rangkum dalam satu tulisan ajah .. hahaha…

Dimulai dari bertemu puti , si ibu guru ini “kembali” mengajak gue untuk sedikit bersosialita dengan dunia nyata. Memang gue akui, terlalu lama bergaul dengan komputer dan internet, dapat membuat pergaulan sosial kita sebagai manusia yang “nyata” jadi terbengkalai. Puti yang sekarang sudah “naik pangkat” tidak sekedar jadi praktisi pendidikan doang, tapi sudah entry level (ceiee.. udah kayak istilah pegawai Perusahaan Asing,.. hehehe…) menjadi seorang planer dalam aktifitas sosial nya selama ini. Seingat gue ini anak udah maen2 dengan yang berbau pendidikan sejak tingkat satu setengah, dan sekarang dia sedang dikejar Tugas Akhir dipenghujung tahun ke-7 di ITB, semoga si ibu guru cepet lulus dan lancar rejeki, biar entry level lagi hahaha….

Si ibu guru ini mengajak gue membantu persiapan kegiatan “Telling Story”-nya. Telling Story yang dalam bahasa nusantara-nya biasa kita kenal dengan “mendongeng”. Namun tentunya dengan sentuhan kontemporer yang sudah diramu dengan berbagai materi pendidikan untuk meningkatkan kepekaan anak-anak terhadap lingkungan sosial mereka. Kalau istilah Dodi, salah satu teman Puti, pendekatan kepekaan sosial ini disebut “harus bermateri”. Tidak heran walau sekedar menyiapkan gambar tokoh nya pun penuh sentuhan materi, namanya juga anak2, sangat peka dengan penampakan visual. Seperti contohnya salah satu tokoh dalam dongeng tersebut adalah anak gadis kecil, yang bajunya sengaja di beri warna merah dan putih. Atau si Bapak, yang diperdebatkan bajunya harus ala pejabat berkopiah atau memakai ikat kepala ala sangkuriang. Atau si tokoh Ibu, apakah dia memakai kebaya atau baju tank top ala tante girang. Ternyata menyiapkan materi menjadi eksekusi untuk sekedar mendongeng juga bisa menjadi hal yang sulit.

Walaupun dengan tool yang sederhana, seperti alat masak “sendok tanak nasi” (gw ga tau istilah Indonesia-nya apa, biasa di Aceh gue sebutnya “centong”..), dijadikan berbagai hewan2 di hutan. Seperti kelinci, lebah, burung dan lain2. Kemudian tokoh dongeng divisualisasikan dengan Kertas Duplex tebal, bak wayang tradisional, dan diberi pengisi suara yang tidak lain adalah teman2 satu tim Puti sendiri (yang gue kenal ya Dodi, Agni, Kandi, Monja, Icak,.. yg laen belum kenal..). Ohya gue cuman ngebantu sehari doang, sabtu lalu, hahaha…. Tapi sejujurnya sedikit banyak ngasih refreshing ke otak yang mumet.

Sudah lama gue tinggalkan kegiatan2 serupa. Terakhir kali gue ber”main2″ dengan komunitas adalah 4 tahun lalu, ketika waktu itu bersama salah seorang aktivis perempuan, Evi namanya, kita mengusahakan membuat sekolah alternatif untuk anak-anak putus sekolah/jalanan. Namun sayangnya tidak berjalan dengan baik. Dikarenakan gw yang juga sibuk ngurusin persoalan “hati” dan temen2 satu komunitas yang ternyata tidak sepenuhnya ada dalam interest yang sama. Gue jadi berkesimpulan, membangun komunitas seperti ini adalah hal yang susah juga. Bukan sekedar dibangun satu dua orang pinter dengan ide2, tetapi juga membutuhkan tim yang solid dengan interest dan mimpi yang sama. Apalagi yang menjadi kekuatan sebuah komunitas sosial jika bukan keinginan dan mimpi yang sama? Karena jelas duit bukanlah yang dicari dari kegiatan seperti ini.

Dan cerita berlanjut, minggu lalu juga gue merefreshkan diri dengan ikut si wanita mungil bernama “Imoth” menuju salah satu klub malam di Bandung, Amare. Huahaha..ceritanya gue terjebak, awalnya gue dihubungi Gerry kalau ada cewe yang mencari gue di Persma (Oww,.. ternyata ada wanita yang mencari2 diri ku… hehehu..), gue cek ke Imoth karena gue emang janji mau ketemuan beberapa minggu lalu. Dan ketika gue SMS, Imoth mengaku emang mencari gue, dan mau “cerita2” katanya. Ya, sudah gue susul aja si Imoth ke kos Bona, temen sejurusannya. Sesampai di sana, ternyata mereka (Imoth, Bona dan temen2 wanita di kost-nya) sedang sibuk berdandan dengan pakaian ala Bandung bersuhu panas. Maksud gue pada make baju pendek semua. Padahal diluar sedang dingin2nya ck..ck..ck.. Emang dah, kalo lagi dugem suhu udara lingkungan tidak dapat diukur. Karena cuman suhu badan lah yang menjadi patokan. I’m so Cool atau I’m So hoott.. huahaha.. . Dan ternyata selidik punya selidik, bukan si Imoth yang nyari gue di Persma..arghh…

Dan akhirnya gue ikut ke Amare. Terakhir kali gue kesini kalau ga salah waktu gue blom single, 8 – 10 bulan lalu. Dan pesan dari gue buat yang mau dugem, mending jangan membawa pasangan ke tempat dugem, BISA RAME acaranya.. Terakhir kali gue kesana bareng mantan, dan alhasil kita ribut. Sigh….

Sebenarnya gue ga nyaman kalo klabing di tempat seperti Amare. Karena yang ada cuman musik jedag jedug. Dulu waktu masih muda, gue juga “agak sering” ke klab. Tetapi ditempat yang rada enak menurut gue, diselingi Live Music dari band2 yang tampil malam itu. Masih enak buat loncat2 dan joget sesuai musik ala ’70 , ’80, Hardcore Metal atau Dangdut Progressive heuheue… Atau kalo lagi dimainkan musik yang  sendu musiknya, enak tuh bisa goyang pelan-pelan sambil ada yang dipeluk atau meluk gue..huahaha…Malam itu gue cuman mau habisin waktu ajah, nemenin gadis2 tsb di klab. Paginya pulang, dan langsung tepar….

Terus, besoknya gue harus merespon sebuah SMS. Dari teman yang sudah lama menghilang. Kebetulan dia sedang di kost-nya sendiri, berhubung teman2 satu kontrakannya sedang ke luar kota untuk Kerja Praktek. Dua malam gue nemenin dia. Siang harinya gue menemani ini anak keliling pasar logam, mencari bahan untuk Tugas Akhirnya. Awalnya kita punya rencana mau bikin barbeque party pas malam, tapi karena hujan dan susahnya mendapat Arang di malam hari, akhirnya pesta Barbeque diganti memanggang ayam di Microwave. Bumbu ala makanan lapangan, kecap bango campur cabe rawit, bumbu sauce botol dan sedikit lada plus mentega, jadi pelapis ayam tersebut. Hmm.. sebenarnya menurut gue kunci ayam bakar bukan di bumbunya sih. Tapi pada rasa citarasa asap nya itu. Jadi ya kita cuma makan ayam bakar modern aja, sedikit nasi yang ditanak sendiri olehnya (gue ngaambil paling banyak) dan pengennya ditemenin lilin yang sayangnya ga mau nyala2.. Ya sudaahh.. tak ada lah itu Candle Light Dinner….

Dan ada kisah menarik lain diantara kisah-kisah diatas…LAPTOP NYA si GERRY HILANG di PERSMA… SHITTT…….gue doain mandul 5 turunan yang ngambil itu laptop…..

7 Comments

  1. oh.. ternyata dirimu temen klabingnya si Imoth ya..

    btw, kalo mandul, mana punya keturunan..? plis deh jal =p

    Reply

  2. @rime : saya bukan bodyguard imoth yg selalu nemenin dia klabing,.. saya dijebak. 🙁

    @benx : bagus naon? btw thanks traktiran nasgor padangnya..gue anggap itu pengganti oleh2..

    Reply

  3. @rime: gw pun malas klabing ama papskie ijal. ga bisa diajak dance.huh!
    @leksa: maap atuh paps..g niat ngejebak ko. spontanitas gw yg lg mood pgn telling story…ajah

    Reply

  4. ciee yang udah ngerasain klabing nih… huhehehe…

    tuh bos, aye udah apdet! makasih ya support-nya.

    KARENA KAMU AKU ADA. MMUACHH.

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.