9 Episode Serial Jepang, Ternyata Bagus Juga

Dalam semalam, gue ngehabisin 9 Episode film Dorama Jepang. Gelo.. Serasa 3,5 tahun lalu, ketika gue menamatkan Meteor Garden. Hahaha… Tapi memang ni film bagus kok. Awalnya karena iseng, Internet mati, dan cuma bisa lokal se-Sunken Court doang. Gue akhirnya menjelajah di folder share Komputer di sunken. Dan biasa,..KMPA lagi dan lagi membuka bebas folder mereka. Sori Rime, bukan maksud, tapi seperti kata bang Napi, “Kejahatan bisa timbul karena ada kesempatan..”. So, gue menjelajah. Dan memang anak2 KMPA ini sukanya nyedot film dari Rileks, dan kebiasaan gw, sebelum gue nyedot film di Rileks, gue mampir dulu di folder2 KMPA, mana tahu udah download duluan. Lumayan hemat waktu, waktu akses dan terutama Bandwith.

Kembali ke film Dorama tersebut. Judulnya Erai Tokoro ni Totsuide Shimatta, yang dapat diartikan “I’ve Been Married To Hell”. Sebuah film serial 9 episode, yang ada Yukie Nakayama -nya. Gila, ni cewe bisa sepolos itu di ini film. Awalnya gue tau ini cewe dari kumpulan foto/walpaper cewe2 jepang di PC gue. Itu koleksi gue 3 tahunan lalu. Sekarang dah ga ada lagi lahh.. Yukie juga pernah maen di film Shinobi. Akting nya di Shinobi bagus. Wajar kalo dia merangkak dari model ke jajaran artis film Jepang. Tapi kita ga cerita si Yukie disini.

Tentang film serial ini, 9 episode memang pendek. Tapi bagus untuk jadi hiburan ringan. Genre family comedy, dikemas dengan bumbu ala Dorama yang menggambarkan kepolosan tokoh2nya. Tapi lebih dari itu, ada semacam kejujuran yang disampaikan dalam setiap tokoh.

Mungkin bagi yang cewe2 modern jaman sekarang, pernah kebayang tidak kalo ntar dah merit, menghadapi ibu mertua gimana? Si Kimiko (peran Yuki dalam serial ini) menikah sebelum mengenal keluarga sang suami lebih detail. Padahal dia digambarkan sebagai cewe mandiri, bekerja, anak jaman sekarang, yang bahkan memasak pun bisanya cuman makanan bungkusan siap rebus. Kimiko menikah dengan pemuda Jepang yang punya keluarga di kampung yang bisa dibilang agak kolot dengan segala adat istiadat keluarga, dimana kebanggan dengan adat adalah harga diri di mata tetangga. Jadi teringat kampung gue. Dimana kalo gue pulang kampung, pas gue tanya tanya, “sodara kita sapa aja disini ?”. Lantas Nenek gue ngejawab “Yaaa,.. satu kampung ini sodara kita semua..” Busyet daahh…

Jadi singkat kata, si Kimiko ini harus menyesuaikan diri dengan keluarga sang suami setelah dia menikah. Awal cerita yang berlebihan, tapi melihat keinginan dan usaha Kimiko untuk menjadi istri yang diterima bagi keluarga suami, gue ngerasa “wahh.. ni cewe oke jugah..!!”. Jadi pengen punya bini kek gini (ngimpi kali yeee..).

Tapi bukan berarti keinginan Kimiko terhadap keluarga sang suami adalah sikap tolol yang membuat dirinya memalukan kehidupan wanita modern yang berkelas dan mandiri. Demi diterima di keluarga suaminya, Kimiko tidak mengorbankan sikap dan prinsip2 dasar yang ada di kepalanya.

Begitu pula dengan keluarga sang suami. Terwakili oleh si Ibu Mertua. Sangat wanita Jepang sekali, era Bom Atom belum jatuh ke Nagasaki, udik, polos, serasa ngeliat si Oshin dalam film “Oshin” (Gue masih inget film Oshin jaman TVRI masih jadi raja media di negeri kita). Tetapi hebatnya, sekali lagi, ada kesesuaian diri terhadap hidup menantu-nya. Mungkin juga terhadap anak-anak nya. Karena memang di film ini digambarkan 4 orang anaknya juga telah menjadi generasi Jepang yang baru dan modern. Si Ibu dengan Legowo menyesuaikan dengan cara pikir anak-anak dan menantu mereka, tanpa meninggalkan kesan seorang “Tante Girang” hahaha…. Ahh.. jadi pengen punya Nyokap kek gini juga.. (gubrakk..)

Perbedaan 2 generasi ini diramu sederhana. Dalam berbagai konflik 2 generasi yang sudah jauh berbeda disisi budaya, ternyata cuman “Rasa” yang tidak pernah bohong. Hati selalu berusaha untuk jujur dan manusiawi, memakai hati menyikapi segala perbedaan. Walaupun pikiran tidak menerima dan menolak, tetapi tindakan dan sikap-sikap tokohnya dalam film ini berlangsung apa adanya, layaknya mengikuti kata hatinya. Itu yang gue lihat di sepanjang film ini. Kimiko menyesuaikan diri karena sopan santun ama keluarga barunya, dan si Ibu mertua adalah sosok orang kolot yang ingin diterima oleh generasi baru.

Serasa nyempil sekali dalam benak gue. Karena terkadang gue akui, dalam kepala gue membelah-belah mana budaya kolot dan modern. Gue memilah-milah mana kelompok orang yang modern dan mana yang masih tradisional nan feodal. Tetapi melihat wacana dalam film ini ketika semua dikembalikan jujur apa adanya, marah, suka, tidak suka, senang, tidak senang, ternyata perbedaan adalah hal yang biasa. Sebuah konsekuensi zaman yang terus bergerak maju. Tetapi hati kita sebagai manusia tidak bisa bohong untuk menyikapi asal kita mau melihat dengan makna lebih dalam dari segala kejadian dan tindakan yang berbeda tersebut.

Walau kisah ini hanya berkutat pada kisah menantu – dan keluarga mertua, tetapi mengingatkan banyak hal akan gesekan2 kecil 2 generasi berbeda, dan terutama pakem pemahaman klasik tentang Menantu VS Mertua.

Bagi yang mau menonton, ya harus download di Internet. Berterima kasih gue terhadap para Uploader rileks, hehehe…. Karena film ini pastinya diambil dari sharing film-film di Internet. Atau teman-teman bisa menunggu di jual DVD nya. Sepertinya bakal keluar DVD nya. Di Indonesia gitu loh, dari film Bule ampe Afrika, sagala aya di pasar bajakan.

4 Comments

  1. haisyah… jadi dirimu selama ini suka buka2 file titipan anggota ya…

    untung gua ga nyimpen yang aneh2 :p

    Reply

  2. nyokap gw yg kolot pun cuma bisa menggelengkan kepala liat rambut anaknya berganti-ganti warna tiap tahun. hehe..
    i wish she could do the same as that for my outfits.hihi

    Reply

  3. oshin memang gadis tegar dan secara tegas menggambar bagaimana caranya hidup. Banyak gadis jepang memilih bekerja sebagai pelayan cafe tapi oshin tidak dia selalu bekerja dengan ketrampilan yg dia punya sungguh pelajaran yg sangat bagus para wanita

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.