Sedikit Cuap-cuap Tentang Pendidikan Tinggi Indonesia

Postingan ini sebenarnya jawaban atas komentar Mas Odi di Kalau Masukannya Sampah, Maka Yang Keluar Juga Sampah.
Sebelumnya terima kasih kunjungannya, Mas Odi,..Salam kenal dari saya 🙂
Saya hanya orang ke-3 dari sumber Informasi media. Dan saya sendiri tidak mengkonfirmasi ke Prof Soes.. Jika mengikuti aturan main dalam dunia Jurnalistik, tentunya hal postingan saya tersebut hanya menjadi isu atau fitnah..

Namun saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan dari informasi2 yang saya terima (seperti prinsip blog saya ini, sebagai sudut pandang yang berbeda..)
Bentuk kritis saya adalah general terhadap kondisi pendidikan tinggi Indonesia. Begitu juga dengan kampus saya sendiri, ITB. Walau saya tahu sekali bahwa eksekusi sebuah keputusan dari Rektorat berasal dari pertimbangan yang padat, lama dan melibatkan banyak komisi senat, guru besar, MWA, dan pihak2 berkepentingan (beberapa kali saya meliput, dan melihat..) tetapi tidak menyurutkan pandangan saya bahwa kurang nya pandangan untuk membangun integritas terhadap kebutuhan pendidikan bagi anak Bangsa. Karena PTN/PTS kita telah terpatroni sebuah idealisme baru, yaitu PERSAINGAN MENUJU KUALITAS PASAR PEKERJA, bahkan itu tertuang dalam visi-misi beberapa PTN/PTS. Sangat disayangkan, dimana seharusnya sebuah PTN/PTS menjadi ujung tombak akreditasi kualitas manusia Indonesia yang Sehat dan menghasilkan Riset yang unggul, tetapi malah mengikuti kebutuhan pasar dunia.

Saya harap Prof. Soes dan seluruh akademika di UNDIP tidak terjebak dalam paradigma tolol ini. Karena paradigma ini juga lah yang membunuh kualitas manusia kita, dan mematikan kreatifitas riset kita.

Memang seperti buah simalakama, karena sumber modal PTN saat ini juga bersumber dari perusahaan/bidang usaha mandiri atau modal-modal yang terkumpul dari investor (Mahasiswa sendiri sebenarnya adalah investor bagi Universitas, itu menurut saya). Dengan berlakunya aturan BHMN, pemerintah harus mencabut segala bentuk bantuan pendidikan. Walaupun belum bisa sepenuhnya dicabut (Lihat laporan BPK/BAPENAS terbaru tentang Aset Kepemilikan Negara di http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=129193). Tentunya kita tahu, tanpa disertai attitude yang sehat, patriotisme dan kerendahan hati untuk kemajuan bangsa, tentunya keputusan2 untuk kebijakan di PTN/PTS tidak akan selaras dengan tujuan pendidikan nasional.

Maka kekhawatiran saya adalah terjadinya komersialisasi pendidikan di Perguruan Tinggi2 kita. Mungkin terlalu khawatir, tetapi itu lah tantangan berat nya.

Semoga Prof. Soes masih memiliki visi memajukan manusia-manusia Indonesia. Tidak hanya dari segi kualitas, tetapi membuka kesempatan seluas2nya untuk berkembang menjadi kualitas. Bukankan pepatah mengatakan, “Sebatang lidi lebih mudah dipatahkan, dari pada seikat lidi..” 🙂 Bayangkan jika kita memiliki banyak orang pintar. Layaknya Satria Spartan dalam Film “300”, tiga ratus prajurit terlalu sedikit meskipun se-jago apapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.