Adopsi Nilai Kebenaran

Seberapa besar kita Cinta Tanah Air Indonesia ? 😀

Pertanyaan retorika dan klasik pula. Tetapi jika dilemparkan pertanyaan tersebut, apa yang akan akan saya jawab? Saya Tidak Tahu. Karena muncul kembali sebuah pertanyaan di hati kecil, Apakah benar ada yang namanya Indonesia?

Dan pertanyaan hati kecil saya memuncak pada pertanyaan, apa nilai kebenaran untuk membenarkan Indonesia?

Membingungkan memang. Siapa yang sangka nilai kebenaran pun masih saya pertanyakan untuk urusan sekedar “Apakah ini Indonesia?”. Tetapi saya percaya dengan sebuah quote,… “Kebenaran adalah siapapun yang membenarkan”

Saya membicarakan tentang kebenaran, tetapi masih membatasi nilai kebenaran itu sendiri. Kebenaran memiliki nilai ukur – ruang – waktu. Jika saya menempatkan ruang kebenaran ini tidak melewati batas-batas Religi, maka kebenaran tersebut tidak berhak melewati batas-batas keimanan.

Mari kita bicarakan tentang nilai kebenaran informasi dalam ruang terbatas ini.

Saya membaca, Detik, Kompas dan Google. Interprestasi sebagai orang ketiga. Dan kemudian saya menuliskan di blog ini sekedar penyampaian mata rantai informasi, maka saya telah menjadi bagian dari nilai informasi sendiri. Dan kemudian, teman2 yang membaca blog ini tahu dan mengerti dari tulisan saya. Maka bisa dikatakan media yang menjadi sumber saya adalah pihak ketiga bagi saya, dan saya pihak ketiga bagi anda para pembaca blog saya. Begitu pula seterusnya. Lalu muncul pertanyaan atas sudut pandang bias ini, siapakah pihak pertama?

Nilai Kebenaran. Saya menyebutnya Adopsi nilai kebenaran dari sebuah informasi. Saya sendiri tidak tahu siapa yang paling berhak menyandang predikat adopsi terbaik/terbenar. Namun ada dua pihak yang saya selalu anggap sebagai orang yang bermain-main dengan tingkat adopsi kebenaran terbaik, yaitu Inteligen dan Wartawan

Wartawan mungkin masih berada dalam tataran mencari dengan kegigihan mereka dan kerja keras mereka adalah sebuah integritas terhadap profesinya. Saya katakan mereka mencari, karena mereka menggunakan titik ketidaktahuan dan melalui usaha-usaha diluar lingkaran kebenaran untuk sampai pada nilai adopsi terdekat dari lingkaran kebenaran. Orang biasa mungkin hanya memilih mengerti, tetapi wartawan ibarat semut di lantai yang berusaha mendapat gula ditengah2 lingkaran air. Kegigihan mencapai gula tersebut diukur dari integritas mereka terhadap profesi ke-wartawanan, sebagai penyampai informasi ke ranah publik.

Bagaimana dengan Inteligen? Untuk si pencari kebenaran satu ini bisa dikatakan berada dalam lingkaran air dalam analogi diatas. Terkadang mereka menjadi bagian dari informasi itu sendiri, karena berhak mengukur nilai kebenaran informasi tersebut untuk kepentingan nasional atau tidak. Nilai kebenaran dari inteligen adalah mutlak, karena kepentingan nasional dipertaruhkan disini. Inteligen menyusun kerangka nilai kebenaran dalam premis-logis secara struktural yang telah mereka atur sendiri. Dan jika berbicara nilai kebenaran informasi yang berkaitan dengan kepentingan nasional, maka nyawa inteligen itu sendiri sangat murah jika dihadapkan pada kepentingan jutaan rakyat. Namun saya sendiri pernah membaca, bahwa seorang agen inteligen adalah aset berharga dari sebuah negara. Hmm.. saya rasa memang pantas demikian. Karena mengingat tanggung jawab dan harga nyawa mereka sebanding dengan keutuhan bangsa.

Mungkin anda tidak sepakat dengan batasan inteligen saya disini. Karena inteligen itu sendiri adalah agen, atau hanya sekedar profesi. Tidak hanya kepentingan nasional yang menggunakan mereka. Seorang kartel narkoba, mafia dan bahkan kelompok teroris pun memiliki inteligen mereka sendiri. Analogi kepentingan nasional yang saya kemukakan di atas juga berlaku untuk berbagai kepentingan negatif tadi. Intinya kemampuan mereka mencari, memfilter, mengolah dan mendistribusikan informasi adalah bentuk adopsi nilai kebenaran yang menurut saya terbaik.

Namun uniknya, dalam rangka kepentingan nasional pun, sebuah nilai kebenaran bisa diputarbalikkan sebagai bualan. Dan sebuah bualan lahir karena penolakan terhadap kebenaran bukan? Jadi tetap nilai kebenaran tersebut telah diadopsi terlebih dahulu.

Tapi walau kedua kelompok tersebut adalah pihak-pihak yang paling sering berada di lingkaran kebenaran, belum tentu mereka tidak ada cela. Sama saja seperti politikus, birokrat dan pengusaha busuk yang sekedar mengejar harta dan kuasa. Terkadang dua pihak ini juga terjerumus pada attitude yang demikian. Mungkin ada yang bukan secara mandiri terjerumus. Bisa jadi terjebak atau terpaksa berada dalam kondisi negatif. Dan ini lah boomerang terbesar bagi kepentingan publik dan nasional (jika kita mengasumsikan untuk kepentingan nasioanal). Karena Informasi yang sampai di tataran masyarakat juga bisa jadi sama sekali tidak memiliki nilai kebenaran, pembelokan yang dibuat-buat, atau secara terpaksa. Dan apakah yang terjadi selanjutnya? Masyarakat berada dalam doktrinasi, kebingungan, dan kerusakan komunikasi satu sama lain. Berujung pada ketidak percayaan dan CHAOS.

Semoga semua pihak di Negeri ini yang berada pada dua profesi tersebut, tetap berada pada jalan kegigihan mereka untuk menyuarakan kebenaran dan menjaga kepentingan nasional. Mau tidak mau diakui, bahwa garda kekuatan bangsa terbantung dari mereka sebagai penyampai kebenaran.

2 Comments

  1. @bOd..
    masalahnya,..
    kalo Jadi make IGOS,..
    Gue harus belajar operating system laen.
    program lain,.. dll…
    Capyeeee dyehhh… :hammer:

    Gue lebih setuju Microsoft terus dibajak saja..(hallahh..)

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.